"Jangan nakal disana, hm?" Vanya mengusap lembut pundak Sangga yang tampak senang meski tadi sempat takut.
Sebenarnya agak berat membiarkan anak ini pergi bersama Annette. Tapi mengingat bahwa ia tidak berhak melarang permintaan dari seorang ibu kandung, dirinya akhirnya pasrah.
"Sudah selesai kan? Ayo berangkat"
Lihat. Bahkan masih disini saja, Vanya sudah tidak tega melihat Sangga yang berjalan sendiri di belakang Annette. Kesusahan membawa tas berisi beberapa perlengkapan yang mungkin dia butuhkan. Sedangkan di depan sana ibunya berjalan santai tak memperdulikan.
"Naik" Annette sedikit menyentak karena Sangga hanya diam menatapnya dari luar mobil.
"Aku tidak bisa membuka pintu mobilnya bibi" Keluh Sangga. Ngomong-ngomong Vanya telah masuk tanpa melihat mobil Annette pergi karena posisinya berada di luar pagar yang agak jauh dari rumah. Lagipula gadis itu sedang merawat Sera yang sedang sakit.
"Tarik saja gagang yang ada disitu" Sangga mengangguk, menurut pada sang ibu. Namun berapa kali pun mencoba, tetap saja tidak bisa. Tenaganya tidak sekuat itu.
"Bibi—"
Keluh Sangga ayang akan terucap sontak terpotong karena tubuhnya terhempas kebelakang sebab Annette yang tiba-tiba mendorong pintu mobil. Mata bulat sempat terbelalak kemudian mulai berembun. Telapak tangannya perih setelah bergesekan dengan tanah berkerikil. Sedangkan Annette menutup mulut seolah terkejut padahal wanita itu sengaja melakukannya.
Dengan cepat ia keluar dan membantu Sangga bangun. Di tepuk nya tubuh bagian belakang sang putra lalu menatapnya.
"Maafkan aku, aku tak sengaja" Sangga hanya mengangguk mengerti, meski sekarang ia mulai merasa takut lagi dengan Annette.
Setelah puas sedikit bermain-main Annette menuntun Sangga untuk memasuki mobilnya.
°°°
Di tengah taman kota yang ramai, Annette duduk santai di salah satu bangku dengan tangan yang memainkan ponsel. Sudah sejam sejak ia begitu, mengabaikan anak kecil yang sejak tadi ia bawa. Yang kini hanya diam berdiri di sampingnya. Sangga terlihat tak berani kemana-mana.
"Bibi, apa yang harus aku lakukan disini?" Pertanyaan polosnya merebut perhatian Annette.
"Kau tak ingin pergi bermain dengan mereka?" Annette menunjuk beberapa anak seumuran Sangga yang tengah berkumpul.
Sangga menggeleng ia tak biasa di tempat asing seperti ini.
"Kalau tidak mau ya sudah" ujar Annette lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Beberapa saat hanya diam, tiba-tiba Sangga merasakan ingin buang air kecil. Dengan sedikit takut anak itu memegang lengan Annette.
"Bibi, aku ingin buang air kecil, temani aku" ujarnya dengan tangan memegang perut. Annette memutar bola matanya, lantas menunjuk sebuah toilet umum tak jauh dari tempat mereka.
"Pergilah sendiri, itu toilet umumnya"
"Tapi aku takut" cicit Sangga
"Ck. Mengapa harus ku temani? pergilah sendiri atau aku akan meninggalkanmu sendirian disini" Ancam Annette. Sungguh ia tak suka di direpotkan oleh anak sialan ini.
Takut akan di sakiti, dengan terpaksa Sangga mengangguk. Meski merasa tak nyaman, anak itu tetap berjalan ke toilet seorang diri. Setiap langkahnya tak luput dari pandangan Annette yang kini tersenyum miring.
Belum sampai di depan toilet, tanpa aba-aba langkahnya di hadang oleh seorang pemuda yang mungkin berusia delapan belas tahun dan kini menatap sangar kearahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFECTION
Любовные романыRasa sakit yang terus menyapa, membuat Annette hampir kehilangan kewarasan. Masa lalu kelam yang terus terbayang, menjadi penyebab utama dirinya membenci orang yang dulu begitu ia cintai. "Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi walaupun kau berada l...
