48

4.1K 199 17
                                        

Annette mengerjap pelan guna memfokuskan pandangan pada sosok yang masih tertidur di depannya. Kepalanya terasa berat sehingga membuatnya sesekali meringis.

"Apa yang——"

Baru saja akan mendudukan tubuh, ingatan tentang semalam langsung menyapa. Matanya seketika membola beralih pada Varon. Nafas pria itu terlihat tenang namun kerutan tipis di dahinya menjelaskan apa yang  tengah pria itu lakukan. Sejenak Annette menggigit bibir khawatir. Ia ingat, semalam minum bersama Safa sampai lupa soal janji makan malam. Pria ini pasti marah padanya.

Saat masih fokus pada pikirannya, Annette seketika tersentak saat Varon sudah bangkit menuju kamar mandi. Pria itu bersikap biasa saja namun  rahangnya menegas seiring langkahnya masuk ke dalam ruang mandi tersebut. Tak lama kemudian ia keluar dengan wajah basah dan tak sedikitpun menoleh pada sang istri.

"Var——"

"Sudah jam enam, Sangga harus sarapan dan bersiap ke sekolah"

Varon keluar begitu saja, mengabaikan Annette yang hendak mendekatinya. Mendapatkan hal itu dengan penuh kekesalan ia memakai Safa dalam hati. Jika saja wanita gila itu tidak bersedih dan tidak terus memaksanya minum semalam, ini semua tidak akan terjadi.

Selesai membersihkan diri, Annette turun. Selama melewati semua ruangan ia tidak melihat Varon, entah kemana pria itu.

"Dimana ayah?"

Anak laki-laki yang baru saja sampai di meja makan menoleh pada sang ibu.

"Di kamarku"

"Sedang apa?"

"Mengatur alat tulis di tas"

Annette tersenyum lembut "Kalau begitu duduk dulu. Tunggu sebentar, ibu akan membuat sarapan"

Dua puluh menit kemudian dengan telaten Annette mulai menyajikan makanannya. Sandwich, susu dan roti mentega menjadi sarapan mereka hari ini.

"Sangga mau membawa bekal?"

"Iya"

Annette meraih kotak bekal sang anak, mengisinya dengan dua lembar roti dan jus apel.

"Sudah hampir setengah tujuh, apa yang dia lakukan?" Matanya lagi-lagi mengawasi lantai dua. Varon belum juga turun membuatnya sedikit gemas. Pasalnya pria itu harus mengantar Sangga, tapi presensinya belum juga muncul. Tidak tahan menunggu lama, akhirnya ia memutuskan untuk naik.

"Sangga tunggu sebentar, ibu akan kembali"

Annette menapaki tiap anak tangga sedikit cepat. Sampai di pintu kamar Sangga, tangannya menekan kenop.

"Kenapa lama sekali? Sangga sudah harus berangkat sekarang"

Varon menoleh sebentar "Maaf. Aku baru selesai bersiap"

Annette mengernyit menatap penampilan suaminya "Kau ke kantor?"

Varon mengangguk saja.

"Bukankah kau bilang masuk di hari rabu?"

"Banyak berkas yang harus ku kerjakan. Lagipula tidak ada kegiatan yang menarik saat aku di rumah"

Annette menangkapnya. Kalimat itu jelas memiliki maksud dan itu bukan hal main-main saat dirinya menelisik raut Varon yang semakin terlihat dingin.

"Menyindirku?"

Varon mengangkat alis dengan wajah datarnya "Maksudnya?"

"Aku mengerti mengapa kau bersikap seperti ini sekarang. Oke, aku minta maaf. Tapi tidak perlu berkata seperti itu. Apa susahnya kembali menjadwalkan makan malam? Kau tahu, sikapmu sangat ke kanakan, apapun bisa menjadi masalah runyam jika tidak sesuai kemauanmu. Aku malas meladeninya, Varon" Annette jelas terpancing. Kalimat Varon seolah tidak menganggap dirinya dan Sangga di rumah ini. Seharusnya pria itu sadar hal ini merupakan topik sensitif bagi mereka.

AFFECTION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang