Bonus Chapter

4.5K 101 27
                                        


Hai hai

Hari ini aku kembali dengan bonus chapter, yeay!

Chapter ini aku buat untuk kalian yang penasaran gimana kehidupan Sangga saat dia udah dewasa dan apa-apa aja yang udah dia lewati. Nanti kalo ada hal-hal yang bikin kalian gak puas atau gak suka plis jangan komen macam-macam yah;)
Be kind.

Happy reading!

°°°

"Sudah siap?"

Wanita yang baru menapaki lantai kamar dengan tangan memegang dasi dan jas abu suaminya, berhenti melangkah. Wajahnya datar terkesan murung.

"Kenapa, hm?"

Varon menariknya mendekat. Tangan pria itu melingkari pinggang istrinya lalu berbisik.

"Ingin sesuatu?"

Anggukan kecil Annette membuat Varon terkekeh. Wanita ini terlihat lucu dengan wajah sembabnya. Hidung merah, mata menyipit, bahkan alis cantiknya yang masih meninggalkan jejak tanda bahwa dia habis menangis lagi.

"Sangga"

Varon tersenyum samar. Pembahasan ini pasti mengundang rasa sedih, tapi mereka bisa apa? Semua sudah terjadi dan tidak bisa di paksa begitu saja agar jadi seperti semula.

"Varon"

"Iya"

Annette meremas lengannya. Wanita itu tidak bisa mengabaikan hatinya yang menginginkan kehadiran anak laki-laki mereka sekarang.

"Aku ingin bertemu dengannya, aku harus bicara"

"Belum waktunya, Anne. Biarkan dia menenangkan diri dulu"

"Sudah tiga minggu" Annette mendongak cepat.

"Sudah selama itu dia menenangkan diri, harus berapa lama lagi?"

Varon hanya diam. Kini beralih pada dasi dan jas yang sudah Annette hempaskan ke atas kasur.

"Kita hampir terlambat" Balasnya mengalihkan topik. Dengan cepat di raihnya dua benda tadi lalu memasangnya sendiri. Wajah memelas Annette ia abaikan dan saat di rasa sudah rapih, tangannya meraih bahu wanita itu. Merangkulnya untuk keluar kamar hingga berakhir di dalam mobil.

Hari ini mereka akan menghadiri pentas seni di sekolah anak kedua mereka. Seina Revanne. Gadis cantik berusia dua belas tahun yang sudah sejak dua minggu lalu mewanti-wanti agar mereka tidak datang terlambat. Mengharuskan Varon bergegas tak mau sang putri menunggu. Sebenarnya di antara sikap santai ini ada satu masalah yang juga tengah memenuhi sisi hati dan pikirannya, tapi Varon memilih mengenyampingkan dulu karena berfikir hal itu bisa di atasi setelah mereka selesai dengan acara Seina.

Mobil akhirnya mulai melaju meninggalkan pekarangan, membelah jalanan dengan deru pelan yang menghiasi kebungkaman dua orang di dalamnya. Ekspresi mereka sama biasanya tapi ada perbedaan yang tersembunyi, yaitu isi kepala.
Jika kepala Varon di penuhi oleh anak perempuannya, maka Annette tidak. Pikiran wanita itu tidak pernah lepas dari anak sulungnya. Sangga nya yang dari tiga minggu lalu mendiaminya, menghindarinya bahkan mengabaikan presensinya. Selama mereka bersama, ini pertama kalinya anak itu bersikap demikian, dan efeknya sukses membuat suasana rumah terasa mencekik.
Sejenak Annette menghela. Kilas awal dari semuanya kembali terlintas.

"Apa yang kau lakukan?!" Sangga menatap adik perempuannya yang tengah duduk di kasur miliknya. Di tangan gadis itu ada kertas yang sudah terbagi dua.

AFFECTION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang