Vanya mengusap kasar air mata di pipinya sambil memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas. Sejak tadi ia tidak bisa berhenti menangis memikirkan tentang dirinya yang akan pergi mencari Sangga sedangkan di sini Sera tengah sakit. Rasa khawatir dan amarah menguasai dadanya begitu penuh, membuatnya hampir berteriak sekarang. Annette benar-benar keterlaluan, bayangan tentang anak yang di rawat bertahun-tahun di tinggalkan begitu saja sukses membuat Vanya seperti orang gila.
"Kau tak apa pergi sendiri?" Sera menatap sendu anak semata wayangnya itu.
Vanya menghentikan kegiatannya lantas menoleh dengan senyum manis.
"Iya bu, aku harus pergi mencarinya. Kasihan Sangga"
"Hati-hati disana" Vanya mengangguk pasti. Ya, memikirkan bagaimana bahayanya ibu kota, membuatnya harus bisa menjaga diri dan berhati-hati.
"Aku berangkat sekarang, maaf harus meninggalkan ibu sementara waktu. Aku berjanji akan membawa Sangga pulang" Perempuan itu memeluk sang ibu lembut lalu mengecup pipinya sekilas sebelum memasuki sebuah mobil yang telah dia sewa.
Perlahan mobil mulai menjauh, meninggalkan Sera yang terus berdoa semoga sang anak cepat menemukan anak laki-laki tersayang mereka.
Sedangkan di mobil. Vanya terus saja menghubungi Annette yang sejak kemarin tak mengangkat telponnya atau membalas pesan darinya.
Annette benar-benar keterlaluan.
"Maaf" Gumamnya sendu sambal menatap foto anak kecil yang terlihat menggemaskan di ponsel miliknya. Ia gagal menjaga Sangga.
°°°
Varon tersentak dari tidurnya saat anak laki-laki di sampingnya tiba-tiba memeluk erat lehernya. Varon tidak bersuara, pria itu hanya mengelus punggung Sangga lembut berusaha menenangkannya yang mungkin tengah bermimpi buruk.
"Tidurlah lagi" gumamnya.
Pria itu tak bisa lagi menutup matanya saat pertemuan mereka kemarin berputar di kepalanya. Dia tahu siapa Sangga dan tahu juga dengan siapa anak ini kemarin di taman.
Annette, wanita yang selama ini ia awasi.
Senyum getir tercetak mengingat anak ini yang tinggal di panti asuhan karena Annette yang tidak menganggapnya. Ya. Sangga adalah darah dagingnya, Varon tahu fakta itu. Anak yang ada karena kesalahannya di masa lalu, yang sukses membuatnya frustasi. Selama ia di jauhi Annette, tak pernah sekalipun dirinya kehilangan jejak wanita itu sampai akhirnya Annette mengandung.
Sempat beberapa kali Varon ingin membawa Sangga pulang ke rumahnya, tapi ia mengurungkan niat mengingat Annette yang sesekali pergi menjenguk anak itu ke panti asuhan.
Kemarin Varon tahu ada yang ingin dilakukan Annette hingga terus mengawasi wanita itu saat membawa Sangga pergi. Dan benar saja, anaknya di tinggalkan tanpa rasa kasihan setelah Sangga berbalik pergi ke toilet sendirian.
Sekarang Sangga sudah bersamanya dan tinggal menunggu waktu yang pas ia akan membawa anak ini bertemu Annette dan keluarganya.
"Maafkan aku jika akan kembali lagi" gumamnya sambil memeluk Sangga erat.
Sungguh kesalahan dulu itu benar-benar tak di sengaja.
Malam perpisahan yang meriah sungguh memberi kesenangan bagi setiap siswa yang hadir. Tak terkecuali Varon dan teman-temannya. Lelaki itu selalu tersenyum sepanjang acara karena sang kekasih terus berada di sampingnya. Gadis pemilik hatinya yang telah bersamanya sejak satu tahun belakangan.
"Hey, coba perhatikan gadis itu" Varon menoleh saat salah satu temannya bersuara sambil menunjuk seorang gadis yang tengah berjongkok di sudut ruangan. Tampaknya gadis itu tengah memperhatikan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFECTION
RomanceRasa sakit yang terus menyapa, membuat Annette hampir kehilangan kewarasan. Masa lalu kelam yang terus terbayang, menjadi penyebab utama dirinya membenci orang yang dulu begitu ia cintai. "Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi walaupun kau berada l...
