2

12.1K 402 14
                                        

Saat itu malam benar-benar sangat pekat. Sepekat hati perempuan sembilan belas tahun yang tengah berdiri rapuh menunggu pintu di depannya terbuka.  Dirinya sungguh buntu, tidak ada tempat lain selain bangunan ini yang ia pikirkan untuk membawa makhluk kecil di gendongannya. Tidak ada air mata, hanya wajah ketat dan pucat lah yang sejak tadi ia tahan.

Lama menunggu, tangannya dengan sadar mencengkeram lengan bayi yang bahkan baru beberapa jam lalu dia lahirkan itu. Sampai kemudian suara pintu terbuka mengalihkan atensinya,
tanpa bicara Annette langsung mengulurkan sang bayi.  Wanita cantik yang ia perkirakan berusia sama dengannya yang berdiri di depan pintu tersebut mematung tak bersuara melihat penampilannya yang begitu berantakan.

"Ambil bayi sialan itu, aku tidak sudi merawatnya" Setelah mengucapkan kalimatnya, Annette pergi dengan tergesa tanpa menunggu apa tanggapan gadis pemilik panti.

Empat tahun setelah kedatangannya malam itu, tahun berikutnya Annette kembali datang dengan alibi memastikan apakah anak itu masih hidup atau telah tidak.

"Kau?" Vanya tertegun.

"Ya. Apa dia sudah mati?" 

Meski wajah Annette tidak bersahabat saat menanyakan tentang anak itu, Vanya tetap tidak berburuk sangka dan langsung menunjuk kearah seorang balita yang tengah bermain sendirian di temani mobil-mobilan miliknya.

Senyum sinis terbit dari wajah Annette. Ia mendongak dengan mata tertutup sambil menghela nafas "Masih hidup ternyata"

"Hahh! Harusnya aku tidak usah membawanya kesini saat itu, kan?" Annette sedikit menyesal membawa anak itu ke tempat ini, seharusnya dia tenggelamkan saja di sungai atau membiarkannya dikerumuni semut di taman dekat apartemennya.

"Anak adalah anugrah untuk orang tuannya" celetukan Vanya mengundang tawa Annette

"Jika kau merasakan apa yang terjadi denganku, mungkin kalimat itu tidak akan pernah kau katakan bahkan mendengarnya saja kau merasa jijik" Annette berbalik kasar meninggalkan Vanya setelah melempar beberapa kerikil yang sejak tadi di genggamannya ke arah anak kecil di depan sana.

Terhitung sejak saat itu Annette mulai rutin berkunjung. Dalam setahun ia bisa empat sampai lima kali datang dengan membawa bingkisan untuk anak-anak. Itu memang hal positif, tapi tidak berlaku pada anaknya sendiri. Bingkisan yang selalu ia bawa tak pernah lengkap, selalu di kurangi satu. Tidak mau repot-repot menghitung anak laki-laki pembawa sialnya ke dalam list yang akan dia berikan bingkisan.
Ia pun juga sudah memberi peringatan pada Sera dan Vanya agar selalu melewati anak itu saat pembagian hadiah darinya.

"Jadikan dia anak terakhir yang mendapat pembagian"

Sera dan Vanya hanya patuh, karena takut sebab Annette adalah satu-satunya donatur yang menaungi panti asuhan mereka setelah berhasil menyingkirkan donatur sebelumnya. Alhasil, karena bocah itu yang terakhir, ia tak mendapatkan apa-apa yang sukses membuatnya menjadi bahan ejekan teman-temannya.

"Tenanglah, bibi akan membelikan hadiah yang lebih bagus untukmu nanti" Bujuk Vanya lembut sambil memeluk anak itu sayang. Ia tahu ini hanya ucapan semata, karena nyatanya sudah tiga kali ia menjanjikan hal tersebut tidak pernah sekalipun terbukti.

"Maafkan bibi sayang" bisik Vanya di telinga Sangga saat anak itu telah terlelap di dadanya.

Sangga Arga Davano

Nama indah untuk anak laki-laki kuat di dekapan Vanya.

°°°

"Kau dari mana?" Annette mengangkat alis menatap sang ibu yang melangkah ke arah dapur. Ia baru saja pulang tapi langsung di tanyai.

"Dari tempat hiburan" Jawabnya enteng

"Club?" Hashi melotot horor

"Ibu, memangnya tempat hiburan itu hanya Club, begitu? Lagipula untuk apa aku kesana" balas Annette tak habis pikir.

"Jadi sebenarnya dari mana?"

"Panti asuhan" Jawabnya jujur.

Hashi diam menatapnya tak yakin.

"Kenapa, apa aneh? Aku kesana hanya untuk melihat anak-anak menggemaskan supaya sedikit menghilangkan penatku. Ibu tahukan betapa aku menyukai anak-anak?" Annette tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Betapa pintarnya ia berbicara bohong.

"Ibu tahu, hanya saja tidak biasanya kau mengunjungi pantai asuhan"

"Sebenarnya aku sudah beberapa kali kesana"

Hashi hanya mengangguk-angguk paham. Memang yang ia tahu Annette tipe perempuan yang menyukai anak-anak.

"Ya sudah, pergilah ganti bajumu lalu turun kembali temani ibu menyiapkan makan malam"

"Siap!"

°°°

Dua hari telah berlalu, sekarang Annette telah kembali ke apartemennya dan mulai kembali mengurus butik.

Duduk manis di ruangan pribadi miliknya. Annette hanya memikirkan beberapa hal menyenangkan yang agaknya bagus untuk ia lakukan hari ini.

"Bagaimana jika aku mengajak anak itu untuk jalan-jalan hari ini?" Annette bergumam sambil membayangkan bagaimana indahnya hari yang akan dia lalui hari ini.

"Ya, pasti menyenangkan" Annette mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum licik.

Sekarang biarlah dirinya bekerja menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kembali memikirkan tentang jalan-jalannya.

Sampai waktu menunjukkan jam makan siang, Annette beranjak memberitahu pada salah satu karyawannya bahwa ia akan pulang lebih awal hari ini. Sempat ia berhenti di sebuah restoran makan siang. Selesai dengan itu tanpa kembali ke apartemennya, ia langsung saja menuju panti asuhan.

°°°

"Hai" Vanya terkejut saat membuka pintu untuk tamu hari ini. Bagaimana bisa Annette datang? Ah sebenarnya tak masalah mengingat wanita ini mempunyai anak disini, hanya saja ia bingung, tidak biasanya Annette datang dengan senyum se merekah itu di wajahnya.

"Dimana dia? Aku ingin mengajaknya jalan-jalan hari ini" Dengan wajah berseri Annette melangkah mencari Sangga.

"Dia sedang tidur siang" ucap Vanya, sedikit ia menaruh curiga.

"Mencoba membohongiku?" Annette menunjuk Sangga yang tengah bermain dengan mobil-mobilan miliknya.
Tak mau mengulur waktu, di dekatinya sang anak

"Hai, mau ikut denganku?" Sangga tersentak saat Annette tiba-tiba saja menghampirinya. Mata polos anak itu dengan cepat bergulir menatap Vanya yang tepat di belakang ibunya.

Melihat Vanya hanya diam, perlahan ia menatap Annette takut-takut. Perasaan tak karuan mendominasi anak itu. Tidak ada kata yang ia ucapkan, hanya saling melempar tatap dengan sang ibu.

"Tidak mau?" Oke Annette sedikit kesal, rencananya tidak boleh gagal.

"Iya" Sangga menjawab cepat kemudian berdiri berniat meninggalkan Annette.

"Kau harus ikut, aku akan memberikan apa saja yang kau inginkan jika mau pergi denganku hari ini" bujuk Annette meski sedikit muak.

Sangga kontan diam, beberapa detik setelahnya tatapannya sirat akan pertanyaan.

Annette langsung mengangguk yakin, paham apa yang anak itu mau.

"Jangan memaksanya jika dia tidak mau" Vanya bersuara setelah lama mengawasi dua orang tersebut.

"Aku tidak memaksa, hanya membujuk" Annette kembali menatap pada anak itu.

"Mau ikut?" Tak di sangka Sangga akhirnya mengangguk membuat Annette senang bukan main.

°°°

AFFECTION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang