Hari kedua setelah pertemuan yang menyesakkan itu, kini Annette di sibukkan dengan urusan Sangga dan Safa yang sudah di izinkan pulang. Wanita itu tentu senang namun tidak sepenuhnya. Karena fakta dimana ia di bopong oleh Hashi untuk tinggal kembali bersama Varon benar-benar semakin menipiskan kesabarannya. Wanita baya itu seakan tahu apa saja yang akan ia perbuat sehingga terus memantau.
Saat ini sudah menunjukan pukul delapan malam. Di belakang rumah yang begitu tenang, Sangga tengah duduk di temani oleh Annette. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya sunyi yang menyelimuti. Menikmati pemandang kolam renang yang terkadang cahayanya berganti-ganti warna.
Lama-kelamaan karena udara sudah semakin mendingin, Annette menggenggam tangan anak laki-lakinya lalu berdiri "Ayo masuk" ajaknya
Sangga hanya bergeming tapi kemudian menggeleng.
"Terlalu dingin untuk di luar, nak"
"Aku punya selimut" Sangga balas menatap Annette lurus terkesan datar.
Sesaat Annette membeku. Inilah pribadi Sangga setelah sadar dari masa kritisnya. Dingin dan pendiam. Tidak ada yang bisa membuatnya berbicara panjang lagi sekalipun itu Safa. Jujur hatinya sedih. Selain masalahnya, ia juga harus memikirkan masalah apa yang membuat Sangga menjadi diam seperti ini.
Di tengah suasana beku itu, tiba-tiba sebuah langkah terdengar mendekat. Sangga menoleh sedangkan Annette tidak. Siapa lagi di rumah ini selain mereka berdua dan pria sialan itu? Pikirannya
Sangga menatap sang Ayah, tanpa sedetikpun berkedip.
"Sangga harusnya sudah tidur di jam begini, ayo masuk" Varon berusaha tersenyum kecil. Dua orang di depannya sangat kentara tidak nyaman dengan kehadirannya.
Sangga mengabaikan. Matanya kembali memandang ke depan.
"Nak" Panggil Varon lembut
"Ayah saja kalau mau mau, aku masih disini bersama ibu"
"Nanti alergi—"
"Tidak usah memaksa. Dia tahu apa yang dia inginkan" Potong Annette tak suka.
Varon mengangguk patuh dan memutuskan untuk bergabung bersama dua orang itu. Duduk sedikit berjarak karena Annette terus melirik tajam ke arahnya. Baru saja menyamankan posisi duduk, tubuhnya tersentak saat Annette tiba-tiba berdiri.
"Mau kemana?"
Wanita itu menatapnya sinis lalu meraih tangan Sangga dan membawanya masuk ke dalam rumah, meninggalkannya yang hanya terdiam memperhatikan. Inilah resiko yang memang harus di terima saat hatinya sudah mantap dengan apa yang ia pilih. Tidak apa-apa, toh ini tidak seberapa dengan apa yang selama ini telah ia lakukan, jadi ia harus sabar.
°°°
Pagi ini sudah berpuluh-puluh kali telfon yang Felin lakukan untuk menghubungi sang kekasih tapi tidak satupun di jawab. Terhitung sudah satu minggu Varon tidak pernah memunculkan batang hidung di depannya, membuat perasaan resah jelas menguasai.
David, sang ayah memasuki kamar miliknya. Tatapannya sontak kembali menyendu.
"Masih memikirkannya?"
"Tolong bawa dia kesini ayah. Aku merindukan anakku" Mata Felin mulai memerah.
Ya dirinya sangat rindu. Terakhir kali bertemu Sangga adalah ketika anak itu pergi ke taman bermain bersama Annette dan Safa. Saat itu ia sangat ingin mendekat pada mereka, tapi Varon terus melarang, membuatnya harus mati-matian bersabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFFECTION
RomansaRasa sakit yang terus menyapa, membuat Annette hampir kehilangan kewarasan. Masa lalu kelam yang terus terbayang, menjadi penyebab utama dirinya membenci orang yang dulu begitu ia cintai. "Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi walaupun kau berada l...
