31

4.7K 241 20
                                        

Ponsel di genggaman Varon terlepas begitu saja, di ikuti matanya yang dengan cepat menatap ke bawah dimana Annette masih berada dalam kungkungannya. Wanita itu terisak dengan tangan yang menutup mulut, belum tahu apa yang terjadi.

Perasaan itu langsung menyapa, takut dan khawatir. Membuatnya seketika memegang lengan Annette membantu wanita itu agar duduk.

"Lepas!"

Annette jelas menjauh bahkan berusaha melepaskan genggamannya.

Varon menelan saliva kasar menatap wajah kacau sang istri. Sambil terus memegang lengan Annette, ia bangkit menuju pintu kamar masih dengan bibir terbungkam. Wajahnya jelas ketakutan, tapi Annette tidak menyadarinya. Saat  tangannya berhasil membuka pintu,  kehadiran Vanya dan Dava sukses membuat rasa khawatirnya bertambah besar.

"Sangga kecelakaan"

Dua kata itu jadi pembuka  percakapan sekaligus pengantar gelap untuk kesadaran yang sejak tadi Annette pertahankan.

°°°

Mata sembab Vanya terus menatap kosong pada brankar di depannya. Sudah hampir satu jam ia menunggu namun sampai sekarang tanda-tanda Annette akan sadar belum ada.

Waktu terus berlalu membuatnya memilih bangkit hendak keluar, tapi baru saja berdiri matanya langsung bertubrukan dengan tatapan kosong milik Annette. Wanita itu sadar. Refleks dirinya mendekat dan tersenyum senatural mungkin.

"Sangga, Vanya.."

Air mata membasahi netra cantik Annette. Bibirnnya bergetar dengan tangan terangkat meminta pelukan Vanya.

Semakin lama tangisnya semakin keras dengan tubuh yang  memberontak, sampai membuat selang infusnya terlepas paksa membuat Vanya ketakutan.

"Annette, Annette stop!"

Annette abai, emosi sudah menguasainya lagi yang tanpa sadar membuatnya mendorong Vanya hingga wanita hamil itu hampir terjatuh.

Terlepas dari jangkauan Vanya, Annette berlari keluar menyentak Dava yang baru saja menggapai kenop pintu.

"Dimana Sangga?"

Dava diam saat kerahnya di genggam Annette kuat. Wanita di depannya itu terus menyentak ingin informasi mengenai anaknya.

"Sangga hilang"

Annette kontan membeku, mata menelisik kebohongan di wajah Dava namun nihil.

"Jangan main-main dengaku, katakan jika kau berbohong Dava!"

Dava mengepalkan tangan saat Annette dengan setengah sadar meluruh ke lantai. Ia diam tak bergerak, hingga kemudian Vanya keluar mendekat pada mereka.

"Annette ku mohon, Sangga pasti baik-baik saja. Jangan seperti ini"

Vanya mengelus punggung Annette. Sesekali ia menatap Dava yang juga tengah menatapnya dalam diam.

"Sangga dimana, anak itu hilang Vanya" Tubuh lemahnya membuat Annette berakhir bersandar pada Vanya. Sedangkan wanita hamil itu menatap Dava terkejut.

"Jangan bercanda" Ucapnya tegas beralih pada sang suami.

"Dava——"

"Orang-orang suruhanku dan paman masih berusaha mencarinya"

Vanya ikut melemas, baru tahu fakta ini. Tubuhnya bahkan hampir ambruk jika Dava tak bergerak cepat menahanya.

"Aku berjanji Sangga akan baik-baik saja"  Dengan lembut Dava memeluk istrinya.

AFFECTION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang