50

9.2K 242 30
                                        

"Ayah bangun!"

"Ayah!"

Varon menggeliat sambil menutup wajah sebab Sangga terus berusaha menarik tangannya. Geraman rendah sesekali terdengar dari bibirnya, berusaha tidak emosi. Semalam ia tidur nanti waktu menunjukkan pukul tiga karena  insomnia. Tapi sekarang di waktu-waktu mengantuknya Sangga sudah sibuk membangunkannya.

"Ayah belum bangun?"

Presensi Annette muncul. Bisa Varon rasakan istrinya itu kini berdiri tepat di sampingnya. Tiba-tiba tanpa bisa ia prediksi, pukulan keras mendarat pada belakang kepalanya.

Pekikan seketika memenuhi kamar.

"Bangun atau kau akan mendapatkannya lagi?"

Varon menarik selimut yang menutupi wajahnya lantas menatap Annette geram "Memangnya apa yang harus di lakukan pagi buta begini? Aku masih mengantuk!"

"Lihat! Aku dan Sangga sudah siap"

Varon mengernyit "Kalian mau pergi kemana?"

Sangga yang masih berada di atas punggungnya memberi pukulan lagi.
"Ayah sudah janji kita akan liburan. Kenapa lupa?" Rengeknya

"Kapan?" Varon jelas bertanya-tanya. Kemarin setelah selesai berenang bahkan sampai malam pun mereka tidak berbicara banyak satu sama lain, jadi kapan ia membuat janji?

Annette semakin menatap horor padanya "Kau bercanda?!"

"Aku tidak pernah membuat janji, Anne. Jadi bagaimana bisa— Ah mungkin kalian bermimpi"

Saat ini memang sudah akhir tahun hampir memasuki awal tahun selanjutnya. Sudah dua minggu ia libur dari pekerjaan kantor, tapi soal liburan bersama Sangga dan Annette sepertinya belum pernah ia rencanakan. Jadi kenapa dua orang ini bersikap seperti sekarang?

Sebentar kembali diliriknya Annette, dan tanpa berniat meladeni lebih lama kepalanya kembali terjatuh ke bantal hendak  melanjutkan tidur.

"Kau benar-benar——" Wanita itu baru saja akan protes, tapi tangisan keras Sangga langsung terdengar.

Sialan Varon! Kodenya benar-benar tidak di mengerti pria ini.

"Bangun sekarang!"

Annette di ujung rasa kesal. Berkali-kali cubitan ia layangkan pada suaminya setelah meraih tubuh anaknya untuk ia peluk. Varon bangkit dengan cepat. Seolah rasa kantuk hilang seketika, tangannya terulur meminta menggendong Sangga namun anak itu justru mengamuk memukul Annette.

"Ayah sudah bangun. Jangan menangis lagi, sayang" Annette terus memberi kode pada sang suami. Menunjuk kamar mandi berulang kali dan untungnya sekarang pria itu paham. Segera ia melompat dari ranjang. Tangisan Sangga masih terdengar samar membuatnya gelagapan saat membersihkan diri.

"Ada apa sebenarnya?"

°°°

Hampir setengah jam saling membujuk, akhirnya sekarang mereka bertiga berada di dalam mobil menuju tempat yang Sangga inginkan. Pertanyaan yang sejak tadi bersarang, sudah terjawab. Sungguh di luar nalar Varon. Sebab liburan keluarga Livi lah yang menjadi penyebabnya. Dimana Sangga menyimpulkan jika dirinya membuat janji akan berlibur juga karena Annette berucap demikian saat semalam mereka tidur bersama.

Sumpah demi Tuhan, dirinya kewalahan. Dengan santai istrinya membuat janji yang padahal tidak ia buat, hingga Sangga terus mengamuk saat ingin ia ambil.

"Dimana Livi liburan?"

"Resort dekat pantai milik kakek" Annette menatap Varon sedikit bersalah. Pagi hari mereka kacau karena dirinya.

AFFECTION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang