47

4.2K 215 16
                                        

Varon terus mendumel memindahkan kardus yang entah apa isinya ke dalam gudang. Sungguh jika tidak mengingat yang menyuruhnya adalah sang istri, mungkin sudah sejak tadi benda-benda itu ia pindahkan menggunakan kaki.

"Kau berisik jelek!" Teriak Annette dari arah dapur.

"Ayolah, aku sudah lelah memindahkan ini semua. Harus berapa banyak lagi?!" Varon meletakkan asal kardus yang ia pegang. Tangannya mengepal meninju udara saat Annette hanya menatapnya penuh ejek.

"Aku lapar!"

Annette bersedekap "Berhenti memindahkannya atau aku yang berhenti masak?"

Varon mendelik.

"Apa? Haruskah Sangga yang menggantikan mu?" Tantang Annette. Ia tahu apa yang akan Varon lakukan nanti,  mengingat pribadi suaminya itu yang kelewat nekat, membuatnya harus lebih pintar.

Varon menatap Sangga sendu.

Haruskah? 

Sesaat kemudian ia menggeleng. Tidak, Annette tidak mungkin tega pada anaknya sendiri. Maka tanpa menyiksa diri lebih lama lagi, pria itu meninggalkan kardusnya dan berjalan ke arah pintu utama.

"Kau berani?!" Annette menyusul dengan wajah tak percaya.

"Berani! Aku sudah sangat lapar tapi kau malah menyiksaku dengan kardus-kardusmu. Jadi jangan menahanku, aku makan di luar saja"

Annette melotot tak percaya.
Kekesalannya semakin menjadi kala suaminya itu sudah masuk ke dalam mobil siap pergi. Dengan cepat ia berlari menutup gerbang.

"Hei! Buka gerbangnya!"

"Keluar!" Annette murka.

Melihat hal itu Varon langsung tersedak ludahnya sendiri. Sesaat ia bersumpah, terkutuk lah pagi ini dan tanpa membantah lagi ia keluar.

"Aku sudah susah payah memasak tapi kau ingin makan di luar?!"

"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu kenapa masih menyuruhku memindahkan barang-barang itu tanpa di beri kesempatan makan" Varon mendelik masih berusaha mempertahankan diri.

"Sisa satu kardus Varon! Selesai kau mengangkat nya kita akan sarapan bersama. Aku juga belum sarapan, ini semua juga terjadi karena aku yang kau buat kesiangan!"

"Kau yang kesiangan kenapa menyalahkan ku?"

"Karena kalau kau tidak mengeluh sakit perut, sakit kepala atau apalah itu, aku pasti sudah tidur cepat semalam!"

Ya Tuhan Varon lupa yang satu itu.

"Sudah ingat? Sekarang bagaimana, tetap makan di luar tapi jangan tidur denganku atau makan disini tapi angkat kardusnya lagi?"

Seolah tungkainya melemas, Varon bersandar lelah pada badan mobilnya. Menekan dalam-dalam perasaan kesal dan terpaksa memilih opsi ke dua yang berhasil menerbitkan senyum kemenangan di wajah sang istri.

"Bagus. Kau berpihak, kau menang"

"Kalau kau bukan istri ku, mungkin sudah sejak tadi ku tenggelamkan ke kolam ikan" Dengan kekesalan yang tersisa, di lemparnya sandal kesayangannya ke dalam kolam ikan yang di maksud sebelum akhirnya menyusul langkah Annette

°°°

Jika pagi tadi kekesalan menjadi topik utama, maka siang berbeda. Pemandangan sang pria yang sedang tertawa sambil memeluk wanitanya menjadi pemandangan menyenangkan. Sangga berada di ujung sofa, menikmati camilan siangnya.

"Malam ini ayo dinner"

Annette yang sedang asik menikmati drama sontak menoleh dengan wajah terkejut "Apa kau bilang?"

Varon yang terlampau gemas, mencuri kecup pada ranumnya "Dinner"

"Dimana? Sangga ikut, kan?"

Varon menatap sang anak sebentar kemudian mengangguk "Di tempat yang sudah ku pilih. Dan tentu saja Sangga ikut"

Annette mengangguk saja.

Varon menatap lamat wajah kecil di sampingnya itu. Sudah berulang kali ia mencuri ciuman di pipinya, kenapa masih terlihat menggemaskan, sih?

"Anne"

Annette berdehem singkat. Sibuk mengunyah camilannya dengan tatapan masih ke depan.

"Kau tahu apa yang membuatku sayang padamu?"

"Apa?" Annette menoleh sebentar.

"Kau perempuan hebat"

Annette mulai fokus pada atensi  suaminya. Bisa ia lihat tatapan teduh menyapa netranya.

"Saat kau sakit hati, tanpa sadar kau menjelaskan padaku bagaimana hebatnya bersabar. Cara bicaramu memang berubah dan orang lain mungkin akan melihatmu keras, tapi aku tidak. Kasarnya dirimu di mataku adalah kelembutan. Annette ku itu lembut dalam segala perasaannya"

Annette tersenyum mengejek. Dengan keras di pukulnya lengan sang suami "Jangan serius seperti itu, kau tidak cocok" Candanya.

"Terserah saja. Yang penting aku sudah berusaha jujur dengan apa yang selama ini ku simpan"

Annette mengangkat sebelah alis dengan bibir melengkung ke bawah "Iyakah?"

Melihat tingkah sang istri yang bersikap menyebalkan, Varon berdecak lantas melepas pelukannya "Aku malas denganmu"

Annette terkekeh geli. Bukannya membujuk, wanita itu malah beranjak. Meninggalkan sang suami yang  menatapnya tak percaya.

"Annette—"

"Apa?!" Annette menoleh sengit, membuat pria yang berniat bersikap manja itu langsung diam. Ia tidak pernah suka saat Varon memanggilnya Annette.

Melihat sang istri menatapnya tajam, Varon tertawa kikuk "Maaf maaf" Ucapnya sambil meraih lengan Annette agar kembali mendekat padanya.

"Bukankah sore ini kau ada janji dengan Safa?"

Annette mengernyit "Kau tahu?"

Varon mengangguk yakin "Kau mengatakannya semalam. Kau bilang gadis itu ingin membeli sesuatu bersamamu"

"Ah, iya. Kado untuk pernikahan Alika" Annette meraih ponselnya, mengirim pesan pada Safa yang mungkin saat ini sudah bersiap-siap di apartemennya.

"Tapi kalian tidak akan lama kan? Ingat, kau sudah menyetujui ajakan ku tadi"

"Iya!" Karena gemas Varon sedari tadi banyak bicara, Annette memberi cubitan pada perutnya sebelum akhirnya berlari menuju kamar.

"Annette!"

Varon mengelus perutnya dengan senyum kecil. Annette sudah leluasa mengekspresikan diri padanya. Membuat perasaannya selalu menghangat saat wanita itu di sampingnya. Gummy smile, pipi chubby dan mata kucingnya selalu sukses menghipnotis.

Di awal sebenarnya ia sedikit ragu mereka akan sering berinteraksi, namun setelah tahu bagaimana pribadi wanita itu dari dekat, demi Tuhan ia sangat sangat bersyukur memiliki Annette di sisinya. Wanita yang awalnya sedikit pendiam, perlahan akan menjadi cerewet saat mereka  bersama. Mungkin inilah yang di sebut jodoh adalah pelengkap diri. Contoh lain, seperti jika di satu waktu ia banyak diam, maka Annette yang akan selalu mengajaknya bicara. Menariknya untuk menjawab tiap pertanyaan random darinya lalu akan berbisik jika ia sedikit takut karena tatapan mengintimidasi miliknya saat diam.

Annette se baik dan sehat tulus itu jika di lihat dari dekat.

°°°

Gak tau buat adegan yang manis-manis terlalu lama. Jadi maaf yah, kalau terlalu flat.

AFFECTION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang