"Farrel?"
Suara Linda membuyarkan lamunan Farrel. Cowok itu berpaling. Melihat sang ibu yang berdiri di ambang pintu. Menatapnya dengan kesan ragu.
"Ya, Ma?"
Linda memutuskan untuk masuk. Ia hampiri sang putra yang sedari tadi ia amati hanya terpaku pada layar ponselnya.
"Jadi gimana?" tanya Linda seraya memilih duduk di tempat tidur Farrel. "Kamu beneran mau pulang ke kos besok pagi?"
Farrel membuang napas panjang. Wajahnya jelas menunjukkan kebimbangan. Tapi, ada alasan mengapa ia harus kembali walau liburannya baru berjalan sebulan.
"Sepertinya iya, Ma. Tiket juga udah aku beli."
Linda manggut-manggut. Sebenarnya kalau boleh mengutarakan keinginan, tentu saja ia ingin Farrel liburan lebih lama. Tapi, apa boleh buat.
"Oh, benar. Mama hampir lupa," ujar Linda seraya bertepuk sekali. "Nanti kamu jangan lupa ke rumah Tante Dhian. Dia pasti mau nitip buat Esy. Kayaknya sih sekarang dia lagi masak bagar ikan hiu untuk Esy."
Farrel mengangguk. Mengiyakan perkataan sang ibu dan pergi ke rumah Esy sekitar setengah jam kemudian.
"Tante itu sebenarnya khawatir sama Esy. Dia belajar terus. Bahkan nggak mikir buat liburan. Bagaimana kalau dia kenapa-napa?"
Melayangkan pertanyaan itu, Dhian memberikan isyarat pada Farrel untuk mengikuti dirinya pergi ke dapur. Berjalan di belakang Dhian, Farrel menahan napas tatkala melihat apa yang ada di atas meja.
Ya Tuhan.
Farrel berdiri melihat bingkisan yang ada di meja. Sepertinya bukan hanya bagar ikan hiu yang akan ia ajak terbang bersama.
"Menurut kamu gimana, Rel?"
Farrel mengerjap. Sedikit gagap, tapi ia menjawab. "Esy baik-baik saja, Tan. Kemaren aku telepon dan dia sehat."
"Tante tau," angguk Dhian. "Kami selalu video call tiap malam Minggu. Kamu tau kan? Tante khawatir kalau dia pergi keluyuran. Dia itu nggak bisa dilepas."
"Esy nggak gitu, Tan. Dia nggak suka ke mana-mana. Paling dia jalan sama Bella dan Mia. Shopping, nonton, dan main wahana. Selain itu nggak. Dia lebih banyak di kos dan belajar."
Dhian membuang napas lega. "Untunglah. Sebenarnya Tante itu benar-benar nggak tenang melepas Esy. Dia anak cewek Tante satu-satunya. Tapi, kalau ada kamu ..."
Tubuh Farrel seketika menegang. Agaknya ia bisa menerka ujung perkataan Dhian.
"... Tante bisa yakin Esy akan baik-baik saja."
Farrel diam saja. Ketika ia memilih duduk sementara Dhian menyiapkan bingkisan untuk Esy, ia hanya membuang napas panjang.
"Ini, Rel. Semuanya udah selesai Tante packing."
Wajah Farrel terangkat. Ia melihat ada empat bingkisan di atas meja. Untungnya adalah ia sendiri tidak banyak bawaan. Jadi Farrel bisa sedikit bernapas lega.
"Farrel."
Farrel semula berniat untuk segera membawa semua bingkisan itu ketika Dhian memanggil namanya.
"Ya, Tan?"
Dhian menatap Farrel. "Ini sebenarnya buat Tante merasa nggak enak. Tapi, Esy nggak merepotkan kamu kan?"
Merepotkan?
Mata Farrel mengerjap sekali. Ia lalu tersenyum tipis dan mengangguk.
"Nggak kok, Tan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Farrel! "FIN"
Teen FictionNomor Peserta: 095 Tema Yang Dipilih: Campus Universe Blurb: Untuk urusan keteguhan hati, Esy Handayani dan Farrel Anantara memang nggak ada duanya. Mau lihat buktinya? Bukan lagi setahun atau dua tahun, Esy sudah menyukai Farrel bahkan ketika merek...