"Farrel."
Farrel bisa melihat sedikit gentar di wajah Esy. Tepat ketika pagi itu ia menjemput Esy di kosnya. Sesuai rencana, mereka hari ini akan pergi ke kampus. Demi bertemu dengan dosen pembimbing akademik.
"Kenapa?" tanya Farrel. "Kamu takut ketemu Pak Zidan?"
Bibir Esy mengerucut, tapi ia menggeleng. "Aku bukannya takut. Cuma nggak tau juga sih. Ehm menurut kamu, gimana ntar tanggapan Pak Zidan?"
Dahi Esy mengerut. Semalaman ia merenung, tapi ia tidak bisa menebak.
"Kira-kira Pak Zidan bakal tetap mau jadi PA aku kan?" tanya Esy lagi. "Aku cuma khawatir beliau kesal dan akhirnya balikin aku ke Jurusan lagi."
Farrel berdecak samar. Itu memang hal yang bisa saja terjadi. Ketika ada ketidakcocokan antara mahasiswa dan dosen pembimbing akademik, maka dosen yang bersangkutan bisa mengembalikan mahasiswa tersebut pada Jurusan atau Program Studi.
Pengembalian itu berarti bahwa dosen tersebut tidak ingin menjadi pembimbing akademiknya lagi. Dengan kata lain Jurusan akan mencari dosen lain untuk menjadi pembimbing akademik yang baru.
"Kalau Pak Zidan balikin kamu ke Jurusan ... bukannya itu hal yang bagus ya?"
Bola mata Esy membesar mendengar pertanyaan Farrel. Tapi, menciut seketika saat mendengar kelanjutan perkataannya.
"Kan kamu sendiri yang suka ngomong kalau Pak Zidan itu ganas, suka marah, nakutin, dan dosen dari pelajaran yang nggak kamu suka."
Esy membuang napas panjang. "Memang benar sih, tapi kok kayaknya aku jelek banget kalau sampai dikembalikan ke Jurusan."
Yang pastinya Esy merasa malu. Walau di sisi lain, ia pun sadar diri.
"Cuma ... kayaknya wajar sih kalau Pak Zidan sampai balikin aku ke Jurusan," lirih Esy pelan. Wajahnya lalu tertunduk. Seolah pasrah pada takdir.
Farrel mendeham. Ia mengambil helm dan memberikannya pada Esy.
"Ayo," ajak Farrel seraya memperbaiki posisinya di atas motor. "Nanti kamu tanyain aja sama Pak Zidan. Masih mau jadi PA kamu atau nggak."
Mengenakan helm di kepalanya dengan manyun, Esy lantas bertanya pada Farrel.
"Menurut kamu bakal malu-maluin nggak, Rel? Masa pas ditanya orang Jurusan alasan Pak Zidan balikin aku, terus beliau jawab begini."
Farrel melirik pada spion. Melihat Esy yang bersiap untuk duduk di belakangnya.
"Saya malu, Bu. Masa saya dosen Statistika, tapi mahasiswa saya justru gagal Statistika? Mana tiga kali lagi."
Mata Farrel menyipit mendengar perkataan Esy. Alih-alih menanggapi perkataan Esy, ia justru memilih untuk diam. Bahkan ketika Esy tertawa samar setelahnya.
Farrel tidak akan tertipu. Walau Esy berusaha untuk menyelipkan humor di perkataannya, ia tetap bisa melihat apa yang sebenarnya. Dan itu bukan hal yang sulit untuk Farrel mengetahui semuanya. Bahwa itu adalah upaya yang Esy harapkan bisa membantu menyamarkan rendah dirinya.
Terlebih lagi Farrel bisa melihat bagaimana senyum di wajah Esy terkesan tanpa ada rasa sama sekali. Tampak sendu. Tidak ada gairah dan semangat.
Farrel bergeming. Ketika Esy sudah duduk di belakangnya, ia belum juga melajukan motornya. Esy pun memanggilnya.
"Rel?"
Mata Farrel melihat pada spion. Namun, adalah Esy yang menjadi fokus retinanya.
"Kamu serius kan buat bertahan di sini?" tanya Farrel. "Atau kamu masih ragu?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Farrel! "FIN"
Novela JuvenilNomor Peserta: 095 Tema Yang Dipilih: Campus Universe Blurb: Untuk urusan keteguhan hati, Esy Handayani dan Farrel Anantara memang nggak ada duanya. Mau lihat buktinya? Bukan lagi setahun atau dua tahun, Esy sudah menyukai Farrel bahkan ketika merek...