Farrel udah selesai belum ya buat medianya?
Pertanyaan itu menggema di benak Esy tepat ketika Vanessa menutup praktikum siang itu. Praktikan keluar dari ruang praktikum dengan tertib.
Setelahnya Vanessa dan Esy keluar pula, menuju ruangan sang dosen. Esy membawa lembar kerja praktikum mahasiswa dan menaruhnya di atas meja Vannesa.
"Makasih, Sy."
Esy mengangguk. "Sama-sama, Bu. Saya permisi."
Keluar dari ruang Vanessa, Esy segera bergegas menuju ruang laboratorium kultur jaringan. Mengingat saat itu sudah jam dua belas siang maka Esy berpikir untuk menemui Farrel. Mungkin mereka akan pergi makan. Lagi pula Farrel tentu harus istirahat juga kan?
Esy masuk ke ruang kultur jaringan. Melepas sepatu dan tas, ia tak lupa membilas tangan dengan cairan pembersih tangan.
Melewati lorong, Esy melihat ke kanan dan kiri berulang kali. Menembus kaca yang ada di pintu untuk mencari keberadaan Farrel.
Langkah kaki Esy berhenti. Ia bisa melihatnya. Farrel sedang bekerja di laminar air flow. Sedikit melongok, ia dapati Farrel tengah melakukan sub kultur.
Apa buat bahan tanamnya?
Esy menduga demikian walau bisa saja Farrel sedang mengerjakan yang lain. Alhasil ia beranjak dari sana. Tidak berniat untuk mengganggu Farrel yang tengah bekerja.
Aku ke Perpus aja deh.
Mengingatkan diri untuk tidak lupa mengirim pesan pada Farrel, Esy pun menuruni lantai dua Gedung Jurusan. Ia keluar dari pintu belakang dan memutuskan untuk lewat jalan setapak penghubungi Gedung Jurusan dan Gedung Kuliah. Dari sana ia langsung menuju ke Perpustakaan.
"Esy?"
Melewati parkiran Gedung Kuliah yang kala itu sepi mengingat perkuliahan siang telah dimulai, Esy mendapati Radit menegurnya.
"Sendirian?" tanya Radit. "Mau ke mana? Farrel mana?"
Esy tidak heran bila Radit memberondongnya dengan tiga pertanyaan sekaligus. Biasanya selalu ada Farrel bersama Esy.
"Iya. Farrel lagi di leb kultur. Jadi aku mau nunggu dia di Perpus saja."
Radit sedikit beranjak di atas motornya. Kebetulan ia memang akan pergi dari sana.
"Aku antar deh. Sekalian aku juga mau keluar."
Esy menggeleng. "Perpus udah di depan mata kok. Tanggung."
Apa yang dikatakan oleh Esy memang benar. Gedung Perpustakaan hanya tinggal menyeberang dan berjalan sekitar sepuluh meter. Rasanya justru aneh kalau ia menerima tawaran Radit.
Namun, sepertinya Radit berpikir sebaliknya. Terbukti dari ekspresi wajahnya yang berubah.
"Kamu takut nggak mau karena khawatir Farrel cemburu?" tanya Radit seraya menyipitkan mata.
"Cemburu?" balik bertanya Esy. Ia memutar bola mata dan mendengkus geli. "Farrel nggak bakal cemburu. Lagi pula aku bukannya khawatir dia cemburu. Masalahnya ..." Ia menunjuk. "... Perpus itu udah dekat. Kalau kamu mau antar aku, harusnya dari Jurusan tadi."
Radit diam sementara Esy tersenyum biasa-biasa saja setelah panjang lebar bicara.
"Atau ..."
Suara Radit terdengar perlahan dan terkesan tak yakin. Esy menelengkan wajah ke satu sisi, menunggu perkataan Radit.
"... kamu lagi hindari aku? Gara-gara yang dulu?"
Kali ini bukan hanya wajah Radit yang berubah, alih-alih Esy pula. Ia mengerjap, bingung dan tak tahu harus bicara apa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Farrel! "FIN"
Teen FictionNomor Peserta: 095 Tema Yang Dipilih: Campus Universe Blurb: Untuk urusan keteguhan hati, Esy Handayani dan Farrel Anantara memang nggak ada duanya. Mau lihat buktinya? Bukan lagi setahun atau dua tahun, Esy sudah menyukai Farrel bahkan ketika merek...