"Farrel mau seminar proposal, itu artinya dia bakal tamat bentar lagi kan?"
Ucapan Radit kala itu berputar lagi di benak Esy. Menghadirkan ketakutan yang sempat ia singkirkan, tapi sekarang hadir lagi.
Tidak. Esy bukannya tidak senang dengan pencapaian Farrel. Sungguh! Beberapa saat yang lalu, ia adalah gadis paling bahagia di dunia ini. Dan alasan kebahagiaannya adalah seminar proposal Farrel berlangsung dengan sukses.
Farrel mendapati tepuk tangan meriah dari semua mahasiswa. Ia pun dipuji oleh semua dosen. Untuk itu, hanya Tuhan dan Esy yang tahu betapa bahagia dirinya. Namun, pemandangan itu berhasil menampar Esy.
Lagi-lagi, tidak. Esy bukan sekadar cemburu pada Dira. Pada kenyataannya Esy tahu Farrel lebih mendahulukannya untuk beberapa kesempatan.
Esy bisa merasakan kepedulian Farrel, satu hal yang membuat dirinya tetap bertahan hingga sekarang. Esy bisa merasakan bentuk perhatian Farrel, satu hal yang membuat dirinya tetap berharap hingga sekarang.
Namun, ada kenyataan yang membuat mengguncang dunia Esy. Bahwa dirinya benar-benar tidak sebanding dengan Farrel.
Menyaksikan percakapan Farrel dan Dira tadi sungguh membuat rasa rendah dirinya muncul lagi. Memperlihatkan fakta bahwa ia dan Farrel benar-benar bagai langit dan bumi.
B-bagaimana mungkin Farrel yang cakep, pintar, dan baik hati mau sama kamu, Sy?
Esy sudah berhasil mengubur pertanyaan semacam itu sejak dulu. Dimulai dari Esy mengenal perbedaan nyata di antara mereka, ia menenggelamkan rasa rendah diri itu. Namun, tak urung juga pikiran negatif tersebut memunculkan diri kembali.
"Esy."
Satu suara membuat Esy refleks menghentikan langkah kaki. Berniat untuk segera keluar dari Gedung Jurusan melalui pintu belakang, ia tak mengira bahwa akan bertemu dengan Nathan di lorong.
Nathan mengerutkan dahi. Di balik lensa kacamatanya, ia menatap khawatir pada Esy.
"Kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit?"
Esy buru-buru menggeleng. Mengerjap, mencoba untuk mengusir panas di matanya. Pun berusaha tersenyum walau sembari menahan perih di dada.
"Nggak, Pak. Saya sehat," jawab Esy.
Nathan sedikit ragu, tapi akhirnya ia mengangguk. "Baguslah kalau begitu," ujarnya. "Sebenarnya saya ada yang mau ditanyakan sama kamu."
"Apa, Pak?"
"Semester ini apa kamu sudah mulai penelitian? Soalnya ada dua jadwal praktikum Biologi yang belum dapat asdos. Selasa dan Rabu, semuanya di jam sepuluh," ujar Nathan. "Kalau kamu nggak keberatan, mungkin bisa bantu saya? Dosen pembimbingnya ..." Ia tampak mengingat. "... Bu Vanessa dan Bu Emi."
Entah mengapa, pikiran negatif Esy langsung menghilang saat mendengar kedua nama dosen itu. Tak ingin, tapi benaknya berbisik.
Ya Tuhan. Yang satu malaikat, yang satu lagi ... juga malaikat sih. T-tapi, malaikat penyabut nyawa.
Nathan menunggu jawaban Esy. "Bagaimana?"
"O-oh, bentar, Pak," ujar Esy. "Biar saya lihat jadwal saya sebentar."
Sebenarnya di semester tujuh itu, Esy tidak ada kuliah lagi. Terlebih ia dan teman-teman seangkatan sudah melakukan kuliah kerja nyata di KAS kemarin. Jadi praktis Esy hanya mengambil satu mata kuliah kali ini, mengingat ia sudah banyak mengambil mata kuliah ke atas dari sebelumnya.
Namun, satu-satunya mata kuliah yang Esy ambil adalah mata kuliah yang dianggapnya berbahaya. Yaitu, Rancangan Percobaan.
Esy mengecek semua kelas Rancangan Percobaan. Lalu ia mengangguk.

KAMU SEDANG MEMBACA
Farrel! "FIN"
Novela JuvenilNomor Peserta: 095 Tema Yang Dipilih: Campus Universe Blurb: Untuk urusan keteguhan hati, Esy Handayani dan Farrel Anantara memang nggak ada duanya. Mau lihat buktinya? Bukan lagi setahun atau dua tahun, Esy sudah menyukai Farrel bahkan ketika merek...