“Gue ke minimarket dulu, ya.” kata Kai pada kedua sahabatnya, Nada dan Gita. Mereka bertiga baru saja keluar dari kantin dan akan masuk kembali ke dalam kelas.
“Titip kopi kaleng, ya.” kata Nada.
“Gue juga.” kata Gita.
Kai berdecak. “nggak ada yang mau ikut?” ia menatap kedua sahabatnya yang langsung menggeleng pelan.
“Yaudah. Nanti kalau dosen udah masuk, kasih tahu gue, ya.” kata Kai. Ia membalik badan dan berjalan menjauhi keduanya.
Kai memasuki pintu kaca itu dan mendengar pegawai minimarket menyapa. Ia langsung pergi ke rak minuman. Ia berdiri di depan kotak pendingin yang memuat berbagai macam jenis minuman. Ia tampak meneliti deretan minuman di depannya, lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil tiga kaleng minuman kopi. Ia lalu membalik badan dan mengambil satu roti sobek rasa cokelat keju lalu membawanya ke kasir.
Ia perlu menunggu seorang wanita yang sedang melakukan transaksi di depannya, lalu maju selangkah saat wanita itu selesai dan menyingkir dari depan kasir. Ia menaruh belanjaannya di atas meja kasir dan membiarkan gadis berseragam itu menghitungnya.
Setelah kasir menscan kode dalam kemasan kaleng juga roti yang dibelinya, gadis berseragam itu menyebutkan jumlah yang harus ia bayar.
“Tiga puluh enam ribu lima ratus, kak.” kata kasir pada Kai yang sudah mengeluarkan kartu dari dompetnya. “maaf, lagi ada gangguan, Kak, jadi bisanya cash aja.” katanya lagi saat Kai mengulurkan kartu debitnya.
Kai mendesah saat menyadari ia belum sempat mengambil uang di atm. “sebentar, ya, mbak.” katanya. Ia melihat sang kasir mengangguk. Ia mulai mengecek dompet, merogoh saku celananya dan saku-saku ranselnya.
Ia menemukan uang dua puluh ribuan di dompetnya, lalu sepuluh ribuan di saku belakang celananya. Ia lalu merogoh saku kecil di ranselnya dan menemukan tiga buah uang dua ribuan dari sana.
“Bentar, mbak, lima ratus lagi.” kata gadis itu. Ia kembali melakukan pencarian. Ia merogoh semua saku ranselnya.
“Ini aja.” Seseorang yang sejak tadi berada di belakang Kai menaruh satu keping uang lima ratusan di atas meja kasir.
Kai menengadahkan wajahnya dan tatapannya langsung bersibok dengan tatapan lembut seorang laki-laki. Bulu mata lentik membingkai kelopak mata itu. Sebuah senyum menawan terulas di bibirnya. Untuk beberapa saat, Kai merasa waktu berhenti. Ia seperti tersedot dalam lorong waktu tanpa ujung. Detak jantungnya menggila. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Makasih, Kak.” kata Kai akhirnya setelah kesadarannya kembali. Ia menggambil kantong plastiknya dan menggeser tubuhnya untuk membiarkan laki-laki itu menaruh barang belanjaannya di meja kasir.
Ia berjalan pelan keluar dari minimarket dan kembali merogoh saku ranselnya. Mencoba mencari keberadaan uang lima ratus rupiah yang bisa ia berikan pada laki-laki itu untuk menggantikan uangnya.
“Masih nyari receh?” Suara itu membuat Kai menoleh. Ia melihat laki-laki itu baru saja keluar dari pintu minimarket dan kini berdiri di depannya.
“Iya…” kata Kai. Ia mencoba mengulas senyum semanis yang ia bisa.
“Nggak usah. Lima ratus perak doang.” kata laki-laki itu. “kamu mahasiswa di sana?” Ia melirik kampus yang berada tepat di sebelah minimarket. Gadis itu mengangguk.
“Ya sudah… saya duluan, ya.” kata laki-laki itu. Kai mengangguk dan bilang terima kasih sekali lagi. Ia melihat laki-laki itu menjauh dengan kantong plastik berisi belanjaan entah apa di tangan kanannya.
Kai menarik napas lalu memegang dadanya yang jantungnya terasa berdebar tak karuan. Rasa yang baru pertama kali dirasakannya. Rasa yang tiba-tiba membuatnya bingung. Ia menatap punggung laki-laki itu yang masih terlihat. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu.
Ia mengambil langkah jauh di belakang laki-laki itu. Ia mengikutinya dengan langkah teratur. Matanya menatap tubuh bagian belakang laki-laki itu yang bahkan terlihat sempurna di matanya. Ia menatap punggung laki-laki itu dengan tatapan berbinar penuh harap seperti anak anjing. Tak butuh waktu lama, wajah laki-laki itu kini memenuhi pikirannya. Matanya, bulu mata lentiknya, juga senyumnya yang ramah. Semua hal yang bisa bisa ia tangkap dalam sepersekian detik mata mereka bertemu.
Langkah kaki Kai memelan lalu berhenti saat melihat laki-laki itu memasuki sebuah kedai kopi yang berada tepat di samping gerbang utama kampusnya. Ia masih bisa melihat laki-laki itu berbicara dengan seseorang berseragam hitam yang ia tahu salah satu karyawan yang ada di sana.
Ia melengkungkan senyum hingga akhirnya melihat sosok itu menghilang dari pandangannya. Ia menatap plang yang ada di depan kedai kopi itu, “Kedai Kopi Pahit.”
Getaran di saku celananya membuat fokusnya buyar. Ia menatap nama Nada yang ada di layar ponselnya. Ibu jarinya menslide layar dan mendengar suara berbisik gadis itu diujung sambungan.
“Iya… iyaa… gue ke kelas sekarang.” kata gadis itu. Ia melangkah terburu-buru ke fakultasnya karena Nada bilang bahwa dosen baru saja masuk ke dalam kelas. Ia tidak berhenti meruntuki kebodohannya. Bisa-bisanya ia mengikuti laki-laki itu. Untung laki-laki itu berhenti di kedai kopi dekat kampusnya, bagaimana jika lebih jauh.
Fattah menghentikan motornya saat melihat Kai berlari dari arah berlawanan. Gadis itu tampak terburu-buru lalu berbelok ke fakultas ekonomi. Ia masih menatap punggung gadis itu yang menjauh. Rambut dan ransel gadis itu bergoyang seiring dengan langkah gadis itu. Ia masih di sana saat melihat sosok itu menghilang dari pandangannya.
Fattah tersenyum kecil. Ia ingat sekarang siapa gadis itu. Gadis itu adalah teman SMPnya yang tomboy dan galak. Gadis itu tidak banyak berubah. Hanya jelas kulit gadis itu lebih gelap, kulit wajahnya lebih kusam dengan bercak kemerahan bekas jerawat. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu terlihat sangat berbeda. Oke, memang tidak semua orang mengalami puberty goals.
Ia bingung bagaimana bisa orang tidak berubah selama tujuh tahun terakhir. Gadis itu masih saja begitu galak. Ia ingat bahwa dulu selalu menyenangkan menganggu gadis itu. Ia ingat betapa menyenangkannya melihat gadis itu marah-marah. Ia selalu terhibur saat melihat bibir gadis itu mencebik kesal, atau gadis itu yang bertolak pinggang di depannya sambil mengomel. Ia suka mendengar gadis itu menggerutu di sebelahnya. Ia tersenyum saat mengingat hal-hal itu.
Akhir-akhir ini ia merasa hidupnya sangat monoton dan membosankan. Namun kini, ia tahu bagaimana mengembalikan hidupnya yang berwarna.
Namun… ia mengingat bahwa teman gadis itu memanggilnya dengan nama Kai. Sedangkan seingatnya, gadis yang dikenalnya bernama Andini. Ia akan memastikannya besok.
TBC
LalunaKia
29 Oktober 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Little Words [TAMAT]
HumorKai, gadis tomboy dan cuek yang tiba-tiba jatuh cinta. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, gadis itu mulai mengubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan berusaha terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Ia pergi ke kedai k...
![Three Little Words [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/325342162-64-k892603.jpg)