CHAPTER ENAM BELAS

1K 157 14
                                        

Saat terbangun pagi ini dan memindai isi kamarnya, Kai baru menyadari bahwa satu-satunya foto ibunya hanya ada di meja belajarnya. Ia ingat ia menyimpan satu di dalam dompet. Tapi di rumah itu, ia tahu tidak ada lagi foto ibunya yang terpajang. Ia ingat setelah pindah ke rumah ini beberapa tahun yang lalu, ayahnya tidak lagi memajang foto-foto ibunya. Entah ada di mana sekarang.

Setelah membersihkan diri, Kai keluar dari kamar dan berbelok menuju dapur. Sudah ada ayahnya di meja makan dan sepiring omelet. Ia hanya berdehem saat ayahnya menyapa dan langsung duduk di tempat biasa.

"Papa taruh di mana semua foto-foto Mama?" Kai bertanya dengan nada dingin. Ia melihat air wajah ayahnya berubah. "kenapa nggak Papa pajang di rumah ini?"

"Papa belum sempat." kata Marco akhirnya.

"Kita pindah ke sini udah berapa tahun? Bisa-bisanya Papa bilang belum sempat." kata Kai dengan nada sinis.

"Kai..." Marco sedang tidak ingin berdebat. Ia tidak mengerti kenapa anaknya tiba-tiba menanyakan foto-foto itu. Kemarin-kemarin semuanya baik-baik saja.

"Kalau Papa mau lupain Mama, silahkan. Tapi Papa nggak bisa minta Kai untuk lupain juga."

"Kai..." kali ini suara Marco sedikit meninggi, "Papa nggak pernah bermaksud begitu."

"Papa taruh di mana semua foto Mama?" Kai bertanya lagi.

Marco menelan ludah. Dilihatnya Kai yang menatapnya tajam. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Papa taruh di gudang." lirihnya akhirnya. Ia melihat kedua mata anaknya membulat tak percaya. Raut wajahnya terluka.

Kai mencengkeram gelasnya kuat-kuat. Seakan bisa menghancurkan dalam satu genggaman. Ia berdiri dengan kasar hingga kursi di belakangnya terjatuh dan pergi ke gudang.

Marco mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia mengusap wajahnya kasar. Perasaan bersalah menyergapnya.

Dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata, Kai membawa kotak itu keluar dari gudang. Kotak itu sudah sangat berdebu, dan ia merasa bersalah karena membiarkan foto-foto itu terlantar selama bertahun-tahun di gudang, berkumpul bersama barang tak berharga lainnya. Bagaimana bisa ayahnya sampai hati menaruh semua kenangan ibunya di gudang. Padahal ini satu-satunya yang ia punya untuk mengenal ibunya.

Ia membawanya ke kamar dan langsung menepuk-nepuk kardus, membuat debu menyebar di sekelilingnya. Dengan cutter yang ia ambil di meja belajar, ia membuka solasi yang mengerat lalu membukanya. Gemuruh sesak menyelimuti. Ia melihat bingkai-bingkai foto di dalamnya. Bahkan ada yang kacanya sudah pecah.

Ia mengeluarkan satu persatu. Menaruhnya dengan hati-hati di lantai kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah foto dari bingkai yang kacanya sudah pecah. Foto itu terlipat karena terlalu lebar. Ia membukanya dan melihat seseorang di samping ibunya yang tersenyum. Itu sahabat dekat ibunya. Sebagian besar dari foto-foto itu memang foto mereka berdua. Ayahnya pernah cerita kalau mereka berdua sangat dekat.

"Kai..." Marco berdiri diambang pintu kamar saat melihat Kai sedang mengelap bingkai-bingkai foto itu.

Kai hanya menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan.

"Udah siang. Kamu harus ke kampus." kata Marco dengan nada lembut.

"Papa nggak lihat Kai lagi ngapain?" Kei mengatakan itu tanpa menoleh. Ia masih dengan telaten membersihkan foto-foto ibunya yang berdebu.

"Kamu bisa lanjutin nanti." kata Marco sambil mendekat.

"Kai mau sekarang." Ia mendongak dan melihat ayahnya menjulang di depannya.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang