CHAPTER ENAM

1.2K 164 7
                                        

Kai, Gita dan Nada sedang makan siang di kantin fakultas mereka saat seseorang menghampiri meja mereka dengan satu mangkok bakso di tangannya.

"Boleh gabung nggak?" Laki-laki itu bertanya. Ketiga pasang mata yang ada di meja itu langsung menengadah dan menatapnya.

Kedua mata Kai membulat dan serasa ingin meloncat dari tempatnya saat tahu bahwa Fattah kini berdiri di samping mejanya dan menebar senyum ramah yang entah kenapa membuatnya jengkel. Jika Kai menatap Fattah dengan tatapan tajam, itu tidak terjadi pada Gita. Gadis itu sedikit menganga dan menatap laki-laki itu dengan tatapan memuja. Nada menunjukkan ekspresi biasa.

Kai baru saja hendak mengusir laki-laki itu dengan nada menyentak, saat Gita sudah menjawab lebih dulu, "boleh, boleh... sini..." tidak cukup, Gita menggeser duduknya dan memberikan space untuk laki-laki itu duduk. Laki-laki itu kini duduk tepat di depan Kai.

Kai melotot pada Gita yang justru tersenyum.

"Lo bukannya anak hukum, kenapa makan siang jauh-jauh sampai ke sini?" Nada bertanya. Itu jelas aneh buatnya. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah melihat laki-laki itu di kantin fakultasnya, dan sekarang laki-laki itu muncul secara tiba-tiba. Ia memiliki suatu keyakinan bahwa kedatangan laki-laki itu berhubungan dengan Kai.

"Gue kebetulan tadi habis ketemu teman di sini." jawab Fattah sambil mengaduk baksonya. "gue Fattah..." kata laki-laki itu saat menyadari bahwa ia belum sempat memperkenalkan diri. Ia mengulurkan sebelah tangannya pada Gita, Nada, dan Kai yang langsung menyebutkan nama masing-masing.

"Kai atau Andini?" tanya Fattah saat Kai buru-buru melepas jabatan tangan mereka.

"KAI." Kai mengatakan itu lengkap dengan pelototan tajam.

"Nama panjangnya siapa?" Fattah bertanya lagi. Kini ia menatap Kai yang mendengus dan tampak mengacuhkannya. Gadis itu sibuk dengan nasi sotonya.

"Nama panjangnya siapa?" kali ini ia bertanya pada Gita yang duduk di sebelahnya.

Kai yang sedang mengunyah langsung menengadah dan baru saja hendak menggeleng pada Gita yang sudah lebih dulu berkata, "Kaiana Andini." jawab Gita dengan wajah polos tanpa dosa. Sementara Nada hanya menggeleng. Fattah tersenyum puas.

Gita baru sadar bahwa ia melakukan kesalahan saat melihat Kai kembali melotot padanya. Ia baru mengingat bagaimana gadis itu ingin menyembunyikan identitasnya dan tak ingin Fattah tahu bahwa ia adalah teman sekolah menengah pertamanya.

"Eh..." Gita baru saja hendak meralat ucapannya saat Fatta berkata,

"Nggak apa-apa. Gue memang udah tahu kok." Fattah mengangkat mie dengan garpunya dan memasukkannya ke dalam mulut.

Kai menghela napas kasar. Ia tahu ia tidak akan lagi bisa menyangkal. Semua usahanya sia-sia karena mulut Gita yang tidak terkontrol.

Kai dan Nada lebih banyak diam dan fokus pada makanannya. Gita dan Fattah yang lebih banyak mengobrol. Bagi Kai mereka berdua cocok karena sama-sama cerewet.

Kai adalah orang pertama yang menghabiskan makanannya. Entah kenapa melihat wajah Fattah membuat perutnya terasa sangat melilit sehingga ia makan lebih cepat dari biasanya.

Kai menyesap es teh manis dalam gelasnya lalu berkata, "gue duluan, ya."

"Lo makan udah kayak dikejar-kejar setan." kata Gita saat melihat Kai makan lebih cepat dari biasanya. Gadis itu kini tengah menyantelkan tali ransel ke sebelah punggungnya.

"Emang, kalian nggak sadar kalau di sini ada setan?" Kai mengatakan itu sambil melirik sinis ke arah Fattah yang langsung membelalakkan mata. Gadis itu lalu berjalan menjauhi kantin.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang