CHAPTER DUA PULUH DUA

1.1K 144 11
                                        

Kembali ke rumah, Kai melakukan kegiatannya seperti biasa. Ia kembali berdua dengan ayahnya di rumah itu. Sosok ayahnya tidak pernah berubah, malah terkesan semakin memperhatikan dan memanjakannya. Ayahnya memperlakukannya seperti ia barang pecah belah yang sangat rapuh. Ia tidak tahu harus senang atau sedih.

Kai berusaha dengan susah payah untuk mengenyahkan segala perasaan canggung terhadap ayahnya. Ia tahu itu hanya akan membuat ayahnya merasa sedih. Benar kata semuanya, tidak adil jika ia menatapnya dengan kacamata berbeda karena rahasia itu. Padahal ayahnya bertanggung jawab dan merawatnya dengan baik sampai saat ini. Ia seharusnya berterima kasih atas semua hal terbaik yang ayahnya berikan. Kai tahu lukanya masih basah dan ia perlu banyak waktu untuk menyembuhkannya, tapi ia tidak bisa mengabaikan keberadaan ayahnya begitu saja.

Suara klakson terdengar saat Kai masih ada di meja makan. Ia mengunyah cepat lalu meneguk susu dinginnya.

"Kai berangkat dulu, Pa." katanya sambil menyampirkan ransel ke sebelah punggungnya.

"Hati-hati. Nanti Papa jemput, ya." Marco mengecup pucuk kepala anak semata wayangnya setelah Kai mencium punggung tangannya.

Kai mengangguk lalu melambai pada ayahnya dan melangkah cepat menuju pintu. Di depan gerbangnya motor Fattah terlihat. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya lalu mengulurkan helm saat ia mendekat.

"Berangkat dulu, Om." kata Fattah saat ia melihat Marco berdiri diambang pintu. Pria itu tersenyum, memintanya untuk berhati-hati dan melambai.

Setelah memastikan Kai memakai helmnya, dan naik ke belakangnya, ia memutar kontak, menstater dan menarik gas. Roda motornya berputar keluar dari komplek perumahan itu.

Hampir seminggu Kai keluar dari rumah sakit dan Fattah selalu menjemputnya setiap pagi. Kai tidak pernah mengerti sejak kapan ia mulai nyaman dengan keberadaan laki-laki itu. Masih segar dalam ingatannya saat pertemuan mereka. Ia bersumpah bahwa pertemuannya kembali adalah sesuatu yang sangat buruk. Laki-laki tidak sepenuhnya berubah. Fattah masih seperti dulu yang cewet dan suka mengejeknya, tapi laki-laki itu selalu tahu waktu. Dia tahu kapan harus bercanda, atau kapan harus serius. Ia merasa bahwa segala rasa kesal yang ia pendam saat kelas satu di sekolah menengah pertama karena ia belum lama mengenal laki-laki itu. Jika saja Fattah tidak pindah waktu itu, mereka mungkin juga akan sedekat ini.

***

Freya menatap Fattah yang mengekori Kai menuju kantin. Mereka berdua terlihat tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. Ia tidak pernah tahu apa yang membuat Kai berubah. Ia ingat bahwa sebelumnya, gadis itu selalu terlihat risih saat Fattah mendekat. Keduanya memilih meja yang masih kosong. Fattah sempat menoleh dan tersenyum sumir padanya sebelum duduk di depan gadis itu.

Ia menyesap teh hangatnya. Kedua tangannya menyelimuti badan gelas dan merasakan hangat menjalar di telapaknya. Ia tidak tahu berapa lama ia menatap keduanya yang asik berbincang-bincang, tapi ia merasa bahwa waktu berjalan sangat lambat. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, seperti seluruh udara disedot dan paru-parunya menciut.

"Kak Freya ngelihatin kita terus." Kai memberitahu setelah ia melirik ke arah seniornya yang menatap mereka secara terang-terangan.

"Biarin aja." Fattah mengingat sesuatu lalu mengeluarkan kertas kecil dari dalam dompetnya. "pas jenguk lo di rumah sakit, gue ketemu sama temannya Tante Kinan." Ia menunjukkan kartu nama yang baru saja ia ambil.

Kai menatap kertas kecil dalam tangannya dan menatapnya baik-baik, Karina Jasmin. Di sana tertera nomor ponsel dan email.

"Dia mantan manajernya Kara Karenina." Fattah memberitahu karena Kai sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang