Kai menggeliat di atas ranjangnya. Ia memusatkan fungsi indera pendengarannya. Matanya perlahan terbuka, hanya untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi. Bel unitnya benar-benar berbunyi. Ia melirik jam di kamar itu dan melotot saat menyadari masih jam empat pagi. Ia memaki lalu turun dari ranjang. Kakinya melangkah keluar kamar dan mendekat ke arah pintu. Tanpa rasa takut, ia membuka pintu dan melihat senyum Fattah di baliknya.
Kai mengusap kedua matanya, hanya untuk memastikan bahwa yang ada di depannya benar-benar Fattah. Jam empat pagi. JAM EMPAT PAGI.
Kai menutup mulut saat ia menguap lebar. "ngapain?"
"Sarapan." Fattah mengangkat plastik di sebelah tangannya.
"Kamu ngelindur ya?" Kai mulai kesal karena laki-laki itu membangunkannya untuk sesuatu yang konyol.
"Kan kamu janji mau sarapan bareng."
Kai mengusap wajah dengan kasar. Ia berkacak pinggang dan menatap Fattah yang tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Ini masih jam empat pagi, Fattah. JAM EMPAT PAGI." Kai menyentak.
"Nggak apa-apa. Lebih cepat lebih baik." Fattah masih terlihat tenang.
Kai berdecak. Ia maju lalu menjewer telinga Fattah hingga laki-laki itu menjerit. Tak cukup, ia menyeretnya ke ujung lorong. Fattah perlu menggigit bibirnya sendiri untuk meredam teriakannya yang bisa menganggu penghuni yang lain.
"Kai ampun. Sakit." Fattah memohon. Ia terseok-seok mensejajari langkah Kai yang lebar.
Fattah mengusap telinganya saat mereka berdiri di depan pintu unitnya. Kai mengetuk pintu dengan kasar dan menunggu hingga pintu terbuka. Tak lama wajah bantal Andreas terlihat. Laki-laki itu menatap kebingungan pada Kai yang wajahnya tak bersahabat, lalu ke arah Fattah yang menunduk.
"Mas, tolong dijagain ya artisnya. Dia tidur sambil jalan." Kai menatap Andreas dengan delikan tajam.
"Hah?" Andreas menatap Fattah yang menenteng plastik di sebelah tangannya. Wajah laki-laki itu terlihat segar. Sebelah telinganya memerah.
"Masuk." Kai memerintah. Ia melirik pada Fattah yang langsung menurut dan berdiri di samping Andreas.
"Ini jam berapa, ya?" Andreas berbisik pada Fattah. Ia berpikir bahwa ia kesiangan karena Fattah bangun lebih dulu.
"Empat." Fattah berbisik.
"Hah?"
"Jam empat. Ini jam empat pagi." Fattah memperjelas.
Andreas melotot, lalu berdecak. Ia kini tahu alasan Kai menatapnya seperti itu. Ia sedikit menunduk pada gadis itu dan meminta maaf.
"Anything else?" Andreas menatap Kai yang masih memakai piyama. Rambut panjang gadis itu berantakan. Ada guratan bekas bantal di sebelah pipinya. Gadis itu pasti kesal karena tidurnya terganggu gara-gara Fattah.
"Kalau sampai gue denger bel unit gue bunyi di bawah jam enam pagi..." Kai menatap tajam pada Andreas. Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Andreas langsung menyambar.
"Nggak akan. Gue jamin." Andreas meyakinkan. Ia melihat sekali lagi Kai meliriknya tajam lalu pergi dari hadapannya.
Ia menutup pintu sementara Fattah menjatuhkan diri di sofa ruang tamu.
"Lo nggak beneran tidur sambil jalan, kan?" Andreas berdiri di samping sofa. Kantuknya seketika hilang.
"Nggak lah." Fattah melipat tangan dan menjadikannya bantal.
"Terus lo ngapain jam empat pagi gini udah beredar ke mana-mana." Andreas melirik bungkusan restoran cepat saji di atas meja, "udah keluyuran cari sarapan segala." Ia menggeleng tidak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Little Words [TAMAT]
HumorKai, gadis tomboy dan cuek yang tiba-tiba jatuh cinta. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, gadis itu mulai mengubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan berusaha terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Ia pergi ke kedai k...
![Three Little Words [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/325342162-64-k892603.jpg)