CHAPTER TIGA PULUH DELAPAN

1K 170 7
                                        

Mobil yang dikendarai Fattah melaju di jalan raya yang ramai. Kai duduk di sebelah, melempar pandangan ke luar jendela. Mata gadis itu mengamati trotoar yang masih ramai.

"Kamu belum ngantuk kan?" Fattah bertanya saat mobilnya berhenti di perempatan.

"Kenapa memang?"

"Makan es krim dulu, yuk." Fattah menunjuk toko es krim yang terlihat dari tempatnya berhenti.

"Aku agak ngantuk sih." kata Kai sambil pura-pura menguap.

"Jangan bohong. Tadi kamu udah tidur pulas banget."

Kai tak jadi membuka mulutnya saat Fattah mengatakan itu. Ia tahu mendebatnya hanya akan membuat Fattah sadar bahwa ia ingin menghindarinya.

Mobil itu berhenti di depan toko ice cream yang terlihat ramai.

"Aku aja yang turun." Fattah menahan sebelah tangan Kai yang sudah membuka safety beltnya.

Kai melihat laki-laki itu keluar dari mobil. Dari kaca bening toko es krim itu, ia bisa melihat beberapa orang di dalam langsung menatap ke arah Fattah yang baru saja masuk. Sementara mengantre, satu orang terlihat menghampiri Fattah. Gadis itu tersenyum, menyapa dan meminta foto. Dan satu persatu orang-orang di sana mulai mengerubuti dan meminta hal yang sama.

Kai menatap di dalam mobil. Ia melihat Fattah yang tersenyum meladeni fans-fansnya. Mereka bahkan terlihat mengobrol sambil mengantre. Pasti selalu seperti itu jika laki-laki itu keluar dari rumah dan berjalan-jalan di tempat umum. Kai bergidik ngeri dan tidak bisa membayangkan jika ada di posisi Fattah.

Fattah akhirnya keluar dari toko. Semua mata mengikuti punggungnya. Wajah mereka terlihat senang dan menatap hingga laki-laki itu masuk ke dalam mobil.

"Jumpa fans dadakan." kata Kai saat menerima bungkusan dari Fattah. Laki-laki itu tersenyum, memakai safety beltnya dan melanjutkan perjalanannya.

Ki membuka plastik dan mengeluarkan isinya, "kenapa cuma beli satu?" Kai membuka penutup cup dan mengambil sendoknya.

"Itu kan yang gede. Satu berdua aja." kata Fattah. "suapain aku."

"Manja banget. Raihan aja makan sendiri."

"Mana bisa aku makan sambil nyetir." Fattah tak mau kalah. "aku minta sendoknya dua kok itu." tambahnya.

Fattah fokus menyetir. Sementara Kai menyuapkan es krim dari cup ke mulut Fattah dan ke mulutnya sendiri secara bergantian. Kai menyalakan musik agar suasana tidak terlalu hening.

"Kamu belum punya adik lagi, Kai?" Fattah melirik Kai di sebelahnya.

"Adik?" Gadis itu terlihat bingung.

"Iya."

"Oh. Belum." Kai menyuapkan sesendok es lagi ke dalam mulutnya. Lalu ke mulut Fattah yang langsung membuka.

"Kok nggak belok?" Kai menoleh saat menyadari Fattah tak melewati jalan biasa menuju rumahnya.

"Muter dulu. Biar lama."

Kai mendelik, tapi tak mengatakan apapun. Ia membiarkan Fattah melakukan semua yang ia mau.

"Kai... mau jajan lagi, nggak?" Fattah bertanya saat es krim dalam cup itu habis.

"Memang belum kenyang?" Kai menatap Fattah tidak percaya. "jangan kebanyakan makan malam, nanti buncit."

"Tinggal olahraga lain. Perut aku sixpack tahu. Mau lihat nggak?"

"Jangan ngawur!" Kai melotot. Sementara Fattah terkekeh.

Mobil terus melaju. Memutar lebih jauh untuk sampai di kediaman Kai. Fattah menikmati sedikit waktu bersama gadis itu. Yang ia tahu, mereka mungkin baru bisa bertemu beberapa hari lagi.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang