Mereka ada di taman itu sampai sore. Saat mereka di warung bubur, panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke nomor Fattah. Marco bertanya apa anaknya bersamanya dan Fattah menjawab apa adanya.
Taman itu semakin ramai saat sore. Matahari sudah turun ke barat dan menggantung rendah. Ada saat-saat mereka berdua hanya diam dan menatap apa yang ada di depan mereka. Fattah tidak ingin berbicara apapun, ataupun mengajak gadis itu bercanda untuk membuatnya tertawa. Dunia sedang tidak berpihak pada gadis itu dan ia tidak ingin melakukan apapun. Ia hanya ingin ada di samping gadis itu. Mendengarkan jika gadis itu berbicara. Mengulurkan lembaran tisu jika gadis itu menangis lagi. Membelikan minum jika botol air gadis itu sudah kosong.
"Gue nggak tahu harus marah sama siapa?" Kai menarik napas panjang-panjang. Mengisi paru-paru dengan sebanyak-banyak oksigen yang bisa ia hirup. "gue marah sama almarhum nyokap gue karena kesalahannya. Gue marah sama bokap gue karena dia segitu gampangnya. Gue bahkan marah sama diri gue sendiri. Kenapa nggak gue aja yang mati?"
Fattah menggeser duduknya dan mengusap punggung gadis itu pelan. Tarikan napas gadis itu terasa berat. Gadis itu tidak menangis lagi, tapi ia takut jika gadis itu berubah. Ia takut gadis itu tidak kembali menjadi Kai yang dulu karena mungkin memandang dunia dengan kacamata berbeda.
"Bertahun-tahun bokap gue ngerawat gue yang bukan siapa-siapanya." Kai menarik napas panjang lagi demi mengurai sesak. "gue bahkan ngelarang bokap gue menikah lagi. Karena keegoisan gue, bokap gue menduda selama hampir dua puluh tahun." Kai tersenyum miris.
"Itu karena bokap lo sayang sama lo." kata Fattah akhirnya. "harusnya itu udah cukup buat lo ngerti kalau bagi bokap lo, lo bukan kesalahan. Lo berharga." Fattah melihat Kai menoleh ke arahnya. Mata gadis itu merah dan bengkak. Gadis itu diam saja. Hanya menatapnya.
"Tapi gue ngerasa bersalah banget. Di sini, bokap gue yang paling dirugikan."
Fattah melihat air mata gadis itu menggenang lagi. Dan saat gadis itu berkedip, air matanya jatuh. Fattah memberanikan diri mengulurkan tangan untuk mengusap pipi gadis itu.
"Tapi bokap lo nggak berpikir begitu." kata Fattah setelah menarik tangannya.
Mereka berdua diam lagi. Lama. Mereka seperti tertinggal. Sepertinya hanya waktu dan orang-orang di sekitar mereka yang bergerak.
Kai mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menekan tombol power. Rentetan denting terdengar. Ia menatap belasan pesan dari ayahnya dan puluhan panggilan tak terjawab.
Kai menjatuhkan kepala di atas lututnya. Persendiannya terasa lemas. Ia kelelahan.
***
Karena Kai tidak mau pulang, Fattah mengantar gadis itu ke rumah Gita sesuai permintaannya. Ia juga memberitahu ayah Kai di mana alamat rumah Gita. Kai langsung masuk ke kamar Gita dan tertidur.
"Kurang lebih begitu, deh." Fattah menceritakan garis besar masalah Kai. Gita menutup mulutnya yang terbuka. Menatapnya tidak percaya.
"Lo serius?" Ia bertanya lagi untuk meyakinkan.
Fattah hanya mengangguk. Mereka masih mengobrol di beranda rumah saat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Marco keluar dengan tergesa-gesa.
"Kai ada di dalam?" Ia bertanya pada Gita dan Fattah yang langsung mengangguk.
"Iya, Om. Tapi udah tidur." kata Gita. Ia mengambil kantong tas berisi pakaian dari tangan Marco.
"Tapi dia... nggak apa-apa, kan?" Kali ini pertanyaan ditujukan pada Fattah.
Marco mengambil posisi di tempat Gita sebelumnya saat gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Nggak apa-apa, Om. Cuma nangis aja seharian. Jadi kayaknya langsung tidur karena kecapekan." jelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Little Words [TAMAT]
HumorKai, gadis tomboy dan cuek yang tiba-tiba jatuh cinta. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, gadis itu mulai mengubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan berusaha terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Ia pergi ke kedai k...
![Three Little Words [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/325342162-64-k892603.jpg)