CHAPTER DUA PULUH TIGA

1K 146 12
                                        

 Kai pergi ke kedai setelah selesai kelas dan akhirnya bertemu dengan Rayi yang seminggu ini tidak pernah ditemuinya karena sedang bulan madu. Pria itu memintanya duduk di depannya setelah mendapatkan pesanan dan bertanya kenapa ia tidak datang ke acara pernikahannya.

Kai tahu hal itu akan ditanyakan dan ia menjawab bahwa saat itu ia sakit. Ia ingat memang malam itu, ia mendapatkan kesakitan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sakit yang ia pikir tidak akan bisa sembuh sampai kapanpun.

Rayi tidak berubah. Pria itu tetap begitu baik dan ramah. Namun Kai lah yang berubah. Perasaan itu tak ada lagi. Bukan semata-mata karena pria itu sudah menikah, tapi karena ia merasa tidak pantas untuk siapapun. Ia pikir ia tidak akan jatuh cinta lagi. Dengan semua masa lalunya, ia pikir ia tidak pantas untuk siapapun.

Ia anak di luar nikah, yang bahkan tidak tahu darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya. Apa ada yang lebih buruk dari itu?

Kai keluar dari kedai dan memilih duduk di area outdoor. Masih jam empat sore dan dua temannya sudah pulang lebih dulu. Pesan dari ayahnya masuk. Memberitahu bahwa ia baru bisa pulang sekitar satu jam lagi karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

Ia baru saja hendak memesan taksi saat suara klakson terdengar. Ia menengadah dan melihat motor Fattah berhenti di depannya.

"Belum pulang?" Laki-laki itu bertanya setelah menaikkan kaca helmnya.

"Baru mau pesan taksi." Kai menjawab tanpa berdiri.

"Ayo gue anterin." tawar laki-laki itu.

Kai berpikir sebentar, lalu akhirnya mengangguk. Ia berdiri dan menghampiri Fattah yang mengulurkan helm padanya.

"Bokap lo nggak jemput?" Ia bertanya saat roda motornya berputar.

"Jemput, sih, cuma katanya satu jam lagi kerjaannya kelar." Kai menjawab. Fattah mengangguk dan kembali fokus pada jalanan yang lumayan padat.

Dengan izin Kai, Fattah menghentikan motornya di taman kota. Mereka membeli minuman dan duduk di salah satu sudut. Taman itu ramai. Matahari masih terasa terik.

"Fattah... nikah, yuk." kata Kai asal. Fattah yang sedang meneguk air mineralnya tersedak. Laki-laki itu terbatuk, lalu menepuk dadanya.

Ia melihat Fattah menoleh ke arahnya dan menatapnya seperti ia baru saja berbicara bahasa asing yang tidak bisa dimengerti.

"Lo gila, ya?" Raut wajah Fattah campuran kaget, bingung dan tidak percaya.

"Gue udah izinin bokap untuk nikah. Nggak tahu kenapa gue rasanya pengin pergi dari rumah. Nikah satu-satunya cara." kata Kai santai. Ia tidak memedulikan raut wajah Fattah yang keheranan. Angin sore berembus dan menerbangkan beberapa helai rambutnya yang jatuh di dahi.

"Kita masih semester tiga!" sentak Fattah. "lo mau mengorbankan hidup lo buat nikah muda, hanya karena pengin keluar dari rumah? Jangan ngaco." Suara laki-laki itu terdengar sedikit kesal. Ia tidak pernah menyangka kalau Kai akan mengatakan itu. Untung padanya. Bagaimana jika gadis itu memilih orang random dan akhirnya dimanfaatkan.

Kai tersenyum geli. Tidak menyangka Fattah akan menganggap kata-katanya serius.

"Kai, lo tuh cuma punya bokap lo. Kenapa nggak lo manfaatin waktu baik-baik, sih?"

Kai mengulum senyum. "gue bercanda." kata Kai akhirnya. Ia melihat Fattah menghela napas lega. Ia tertawa melihat raut wajah Fattah yang baginya terlihat lucu. Ia tidak pernah tahu laki-laki itu benar-benar mengkhawatirkannya.

"Tunggu lima tahun lagi, ya." kata Fattah akhirnya. Ia memilin jemari di pangkuannya.

"Lima tahun apaan?" Kai kebingungan.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang