Kai tersenyum sepanjang perjalanannya menuju kampus. Sementara ayahnya fokus pada kemudi, Kai fokus berpikir bagaimana jika ia bertemu lagi dengan laki-laki kemarin. Kai bertanya-tanya, akankah laki-laki itu ingat dirinya? Apa tidak apa-apa jika nanti ia mengulas senyum atau menyapa laki-laki itu? Kai langsung menggeleng. Ia tidak mungkin berpikir untuk mempermalukan dirinya sendiri. Ia hanya akan pergi ke kedai itu dan melihat laki-laki itu.
Jika bisanya makanan manis adalah yang terbaik untuk memulai harinya yang panjang, ia kini punya pengalihan. Wajah pria itu jauh lebih baik dari makanan manis apapun.
"Turunin Kai di sana aja, Pa." Kai menunjuk sebuah kedai kopi di samping gerbang utama kampusnya.
"Kenapa?" Marco bertanya dengan nada penasaran.
"Kai mau beli kopi dulu." jawab gadis itu.
"Tumben?" Marco bertanya lagi.
"Lagi pengin aja." Kai menjawab sambil menghela napas berat.
"Kenapa tiba-tiba? Ini masih terlalu pagi buat ngopi." kata pria itu.
"Papa jangan ribet, deh." keluh Kai. Pria itu terkekeh lalu menghentikan mobilnya tepat di depan kedai sesuai dengan perintah anaknya.
"Papa hati-hati, ya." Kai mencium telapak tangan ayahnya setelah melepas safety beltnya. Pria itu mengangguk.
Kai keluar dari mobil sambil tersenyum. Ia berkali-kali menghela napas panjang untuk meredam detak jantung yang entah kenapa mulai menggila. Gadis itu mendekat, ia sudah menaruh sebelah tangannya pada handle pintu saat kepalanya menoleh dan melihat ayahnya baru saja keluar dari mobilnya.
"Papa mau ngapain?" tanya gadis itu.
"Papa juga mau beli kopi, deh." kata pria itu sambil mendekat.
"Jangan." Kai sudah melepas handle pintu dan kini berdiri di depan ayahnya, melarang pria itu ikut masuk ke dalam kedai.
"Kenapa?"
"Masih terlalu pagi untuk ngopi." Kai mengembalikkan kalimat ayahnya tadi.
"Kenapa kamu jadi ribet?" Marco tidak mengerti dengan tingkah anak semata wayangnya hari ini.
Kai berdecak. Ia menghela napas panjang lalu berbalik dan masuk ke dalam kedai. Ia membiarkan ayahnya mengekorinya karena tahu bahwa ia tidak akan pernah menang jika berdebat. Ia hanya berusaha menjaga mimik wajahnya agar tidak ada yang menyadari bahwa ia menyukai salah satu orang yang mungkin akan ia temui di sana.
Seorang karyawan menyapa kedatangannya. Kai langsung memindai sekeliling sementara Marco langsung menatap daftar menu yang terpampang di dinding.
Kedai itu masih sepi dan tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa orang yang dicarinya tak ada di sana. Gadis itu mendesah pelan lalu akhirnya menghampiri ayahnya dan berdiri di sebelahnya.
"Kamu mau apa?" Marco bertanya setelah ia selesai memesan. Ia kini mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celananya.
"Nggak, deh." kata Kai akhirnya.
"Kenapa?" Marco menatap Kai dengan bingung.
"Masih terlalu pagi untuk ngopi." ujar Kai. Ia melihat ayahnya mengeluarkan uang seratus ribuan dari dalam dompetnya, tepat saat seseorang keluar dari pintu yang ada di belakang kasir.
"Caramel latte satu." kata Kai langsung. Marco dan seorang kasir yang baru saja menerima pembayaran langsung menoleh pada Kai.
"Caramel latte satu, Mbak." Kai mengulangi pesanannya. Kasir kembali memasukkan minuman itu dalam mesin kasir sehingga pembayaran bertambah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Little Words [TAMAT]
HumorKai, gadis tomboy dan cuek yang tiba-tiba jatuh cinta. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, gadis itu mulai mengubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan berusaha terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Ia pergi ke kedai k...
![Three Little Words [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/325342162-64-k892603.jpg)