CHAPTER SEMBILAN

1.2K 151 5
                                        

"Kamu punya rencana apa hari ini?" Marco bertanya pada Kai yang sedang bermalas-malasan di ruang tamu, sementara ia baru saja selesai jogging mengelilingi komplek dan membuat tubuhnya berkeringat.

"Kai mau ke toko buku nanti siang." jawab gadis itu sambil melirik ayahnya yang kini duduk di sofa single dan tengah menyeka keringat di leher dengan handuk kecilnya.

"Sama siapa?" tanya pria itu lagi.

"Sama Nada sama Gita." Kai sudah mengembalikan fokusnya pada layar televisi yang menyala di depannya.

"Papa ikut dong." kata Marco yang langsung membuat Kai menatap ke arahnya dan menggeleng keras. "kenapa?"

"Ya... masa Papa ikut."

"Emang orang setua Papa nggak boleh ke toko buku?"

Kai bangun dari posisi setengah duduknya dan menatap ayahnya, "bukan gitu. Tapi mana ada sih, Pa, anak seumur Kai yang jalan bareng teman diikutin Papanya." Kai sedikit mengeluh. Bukan hanya karena itu, tapi karena wajah Papanya sangat mudah menarik perhatian. Masih mending jika ia dianggap adiknya. Kalau ia dikira pacar ayahnya, orang-orang pasti akan berpikir bahwa ia main dukun. Kai tidak siap menerima tatapan-tatapan penuh tanya di sepanjang perjalanannya.

"Jadi Papa nggak boleh ikut?" Marco merendahkan sedikit nada suaranya agar terlihat memelas, meski tahu bahwa itu tidak akan mengubah keputusan anaknya. "kita udah lama, lho, nggak jalan bareng." katanya lagi. "mumpung hari ini Papa nggak ke studio."

Kai menghela napas, "Tapi Papa pasti punya banyak hal buat dikerjain." kata Kai. Meski tak ke kantor, Kai tahu bahwa ayahnya kerap membawa pekerjaan di rumah sehingga tidak pernah benar-benar libur. Lagipula, ayahnya punya banyak teman yang bisa diajaknya bertemu dan berjalan-jalan. Bukan Kai tak ingin, Kai hanya perlu sedikit ruang saat ini.

"Yaudah kalau gitu. Tapi nanti Papa antar ke mallnya, ya." Marco melihat gadis itu mengangguk pelan saat ia berdiri dari duduknya.

Suara denting ponsel terdengar saat ayahnya menghilang dari pandangannya.

Nada: Jadi, kan?

Kai: Jadi dong.

Gita: Kai, ajak bokap lo dong.

Kai: BUAT APA?

Gita: Cuci mata.

Kai: Nanti gue bawain air rendaman kaos kaki buat lo.

Nada: Gue bawain sabun colek sekalian biar mata lo bersih.

***

Kai berdiri di rak-rak yang memajang novel-novel. Kai tidak berbeda dengan anak seumuran lainnya. Membaca buku roman, menonton west series ataupun drakor, yang membuat otaknya kerap berpikir bahwa akan ada laki-laki yang begitu sempurna yang tidak hanya melihat seorang perempuan dari wajahnya saja. Perasaannya kerap berbunga-bunga saat adegan-adegan romantis diperlihatkan. Membuatnya merasa bahwa kelak ia akan menjumpai hal-hal seperti itu. Yang sebenarnya ia tahu tidak akan mungkin. Jaman sekarang standar orang semakin tinggi, yang juga diakibatkan tontonan-tontonan itu yang terlampau tidak masuk akal. Tapi ia tetap menikmatinya.

Di satu lorong itu, Nada dan Gita sedang melakukan hal serupa lainnya. Nada dan Gita sama sepertinya, belum pernah berpacaran sehingga mereka kerap mengkhayalkan hal-hal serupa seperti, bagaimana rasanya berpacaran, diantar jemput, jalan sambil bergandengan tangan dan melakukan sederet hal romantis lainnya seperti di film atau buku yang mereka baca.

Mereka bisa mengagumi dan membicarakan seorang tokoh utama selama satu jam penuh tanpa rasa bosan. Saat itu, biasanya Nada yang langsung menyadarkan mereka berdua. Diantara mereka, Nada yang memang lebih realistis dibanding keduanya.

Three Little Words [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang