Semalaman Kai tidak bisa tidur. Ia tidak berani membayangkan gosip apa yang sudah beredar. Ia mematikan ponselnya karena benda itu tidak berhenti berdenting. Bahkan grup-grup saat kuliahnya ikut ramai karena melihat foto-foto yang beredar. Orang-orang berbondong-bondong meminta konfirmasinya.
Ia keluar dari kamar dengan langkah gontai. Keluarganya sudah berkumpul di ruang makan.
"Cie... Kakak jadi artis." goda Raihan. Kai cemberut. Tidak bisa menyembunyikan bahwa moodnya hari ini hancur karena kebodohan Fattah yang tidak ada duanya.
"Gosip-gosip kayak gitu cepat redanya, kok. Tenang aja." kata Kinan.
"Tetap aja, Ma, Kai harus nunggu berapa lama? Tiga hari? Seminggu? Sehari aja Kai rasanya udah mau meledak saking marahnya." Kai memakan sarapannya dengan kasar.
"Sabar aja dulu." Marco menenangkan.
"Sabar gimana, Pa? Kai bahkan nggak berani aktifin ponsel saking banyaknya notifikasi yang masuk." Ia bersungut. Ia perlu memberitahu keluarganya bahwa ia sangat dirugikan atas kejadian itu dan benar-benar akan memberi pelajaran pada Fattah.
Kai hanya menghabiskan setengah isi piringnya dan langsung berangkat ke kantor.
***
Fattah melihat berita-berita yang beredar di media sosial. Postingan-postingan itu sudah dihujani ribuan komentar. Banyak spekulasi yang dituliskan di sana. Bahkan ada akun yang terang-terangan memberikan hate komen pada gadis dalam foto itu. Fans militannya memang kadang keterlaluan. Mereka bersikap seolah-olah tidak ada perempuan yang pantas untuknya. Dunia yang ia tempati memang bisa semengerikan itu.
Pagi ini, foto-foto itu mungkin akan muncul di infotainment televisi. Ia tahu gadis itu tidak suka jadi pusat perhatian, dan sekarang wajah gadis itu ada di seluruh akun gosip. Bahkan orang-orang berhasil menemukan akunnya dan menandainya dalam komentar. Ia tidak tahu siapa yang pertama kali menandai akun Kai. Pasti seseorang yang mengenal gadis itu, tapi ia tidak bisa mencari tahu siapa yang pertama kali karena sudah terlalu banyak komentar.
Gadis itu pasti akan marah-marah, memakinya, memukulinya hingga babak belur lalu memotong semua bagian tubuhnya. Fattah bergidik ngeri. Kenangan saat gadis itu meninjunya hingga hidungnya berdarah kembali teringat.
***
Gedung perkantorannya tidak sama lagi bagi Kai. Ia telah mati-matian berusaha menegakkan bahunya dan berjalan dengan percaya diri. Namun saat melihat orang-orang di lobi menatapnya secara terang-terangan, ia mulai menunduk dan memaki dalam hati. Ia pura-pura fokus pada ponselnya, padahal ia hanya menslide foto di galeri karena ia menonaktifkan data.
Ia masuk ke dalam lift dan menggeser tubuh hingga ke pojok. Setiap orang yang masuk paling tidak melihatnya selama dua detik sebelum mengalihkan pandangan. Tatapan mereka semua seperti memastikan apakah benar ia yang ada di foto yang bertebaran di media sosial. Kai menelan ludah dan mulai tak nyaman.
Ia buru-buru keluar di lantainya dan berjalan cepat menyusuri lorong menuju kantornya.
"Kai..." Ia menoleh saat mendengar suara itu. Gio baru saja keluar dari toilet dan berjalan ke arahnya.
"Foto-foto lo..."
Kai mengangkat sebelah tangannya untuk memberi sinyal agar Gio berhenti.
"Gue nggak mau ngomongin itu. Yang jelas, gue nggak ada hubungan apa-apa. Dia cuma teman kuliah gue. Orang-orang aja yang sinting karena mikir aneh-aneh." kata Kai dengan nada menggebu-gebu.
Gio menatap Kai yang tampak kesal. Mata gadis itu menyala. Sudut mulutnya mencibir.
"Calm down." Gio mendekat lalu mengusap bahu gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Little Words [TAMAT]
HumorKai, gadis tomboy dan cuek yang tiba-tiba jatuh cinta. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, gadis itu mulai mengubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan berusaha terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Ia pergi ke kedai k...
![Three Little Words [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/325342162-64-k892603.jpg)