Sebelah tangan Fattah menempelkan kartu pada lempengan. Ia menekan handle pintu saat bunyi klik terdengar. Kakinya melangkah masuk. Ia melempar ranselnya ke meja, ponselnya ke atas ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Kurang dari setengah jam, ia keluar.
Setelah berpakaian ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan mengambil gawainya. Ia membuka menu whatsapp lalu menghubungi kakaknya. Sementara menunggu panggilannya tersambung, ia melirik penunjuk waktu di ruangan itu. Sudah pukul setengah dua belas malam.
Matanya kembali pada layar gawainya saat sebuah suara menyapanya. Ia menatap Freya di layar.
"Belum tidur?" Ia bertanya.
Freya menggeleng.
"Udah minum obat?" Fattah melihat Freya naik ke atas ranjang dan memiringkan tubuhnya.
"Udah." jawab Freya, "lo baru selesai?"
Fattah mengangguk. Mulut terbuka saat ia menguap. "gue balik besok pagi, ya. Capek banget." adunya. "gue temenin sampai lo tidur." katanya lagi.
Kekehan suara Freya terdengar, "orang mah sleep call sama pacar. Lah ini..." Ia melihat Fattah tersenyum di layarnya. "lo sama Kai gimana?"
Fattah berpikir sebentar, "ya gitu..." Ia menghela napas berat. "gue mutusin untuk jaga jarak dulu." tambahnya. Ia melihat Freya menatapnya lamat-lamat. "gue cuma bisa cuti dua semester. Gue mau fokus sama karir, sama kuliah yang harus gue lanjutin, sama lo juga."
"Gue bukan pasien sekarat yang bisa mati kapan aja. Nggak usah lebay."
"Tetap aja. Semenjak lo didiagnosis depresi, gue sebenarnya nggak tenang ninggalin lo sendirian."
Freya tersenyum kecil. Ia menarik napas panjang untuk mengurai sesak yang terasa. Ia menatap Fattah yang saat ini terlihat jauh lebih dewasa darinya. Beberapa bulan lalu, laki-laki itu cuma mahasiswa semester tiga yang hanya tahu main-main dan mencereweti berbagai hal. Kini dia membawa beban di punggungnya.
***
Kai tidak pernah tahu kalau malam itu adalah terakhir kalinya ia melihat Fattah. Setelahnya, semua kembali seperti sebelumnya. Laki-laki itu tak menghubunginya, juga tak muncul di depannya. Bahkan saat semester baru, ia baru tahu kalau laki-laki itu mengambil cuti kuliah. Laki-laki itu tidak terlihat lagi selama berbulan-bulan lamanya.
Namun seiring dengan menghilangnya Fattah, wajah laki-laki itu semakin sering muncul di televisi. Dia menjadi bintang iklan, pemeran pendukung di berbagai web series dan film. Laki-laki itu menjadi idola baru. Wajahnya terpampang di billboard di jalan besar.
Kai kembali menjalani hari-hari sebelum mengenal Fattah. Bedanya, ada kenangan-kenangan mereka yang terlanjur tersimpan dalam memorinya dan kerap muncul tiba-tiba.
Ada malam-malam saat Kai mencoba menghubungi nomor laki-laki itu. Namun panggilannya selalu masuk ke kotak suara. Ia pikir laki-laki itu pasti mengganti nomor.
Waktu terus bergulir. Bulan berganti bulan. Bahkan saat Fattah selesai dari cuti kuliahnya, laki-laki itu tetap tak menemui Kai. Laki-laki itu tetap sulit ditemui. Kai harus cukup puas melihat wajah itu di layar televisi, atau layar bioskop. Ia kadang berlama-lama menatap instagram milik laki-laki itu hanya untuk tahu apa saja aktifitasnya. Hal yang selalu membuatnya sadar bahwa Fattah memang sesibuk itu.
Suatu hari, Kai pergi ke kedai kopi dan menemui Rayi. Karena tahu laki-laki itu dan Fattah bertetangga, ia mencoba mencari informasi. Tapi ia terkejut saat mendengar bahwa Fattah pindah dan Rayi ataupun adiknya, Andra, sama sekali tidak tahu ke mana.
Kai mulai berpikir bahwa Fattah telah melupakannya, ataupun janjinya. Ia telah meluruhkan segala harapan. Bagi Fattah yang tengah meniti ke puncak, jelas ia tidak sepadan dengan karir laki-laki itu. Fattah akan melupakannya dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Little Words [TAMAT]
ComédieKai, gadis tomboy dan cuek yang tiba-tiba jatuh cinta. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, gadis itu mulai mengubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan berusaha terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Ia pergi ke kedai k...
![Three Little Words [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/325342162-64-k892603.jpg)