CHAPTER DUA PULUH TUJUH

1K 142 5
                                        

Kai menatap penampilannya di cermin. Ia memindai wajahnya yang semakin hari semakin baik. Merah-merah bekas jerawatnya mulai hilang. Jerawat datang tak sesering dulu. Wajahnya sangat terkontrol saat ini.

Ia memakai kemeja biru muda oversize yang dipadukan dengan jeans. Ia membubuhkan sedikit bedak ke wajahnya dan memakai liptint yang ia beli bersama Fattah waktu itu.

Fattah... ia mengucapkan mana itu dalam hati. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Hampir satu bulan laki-laki itu sama sekali tidak ada kabar. Ia mulai berpikir apakah ia melakukan kesalahan? Apa ponsel laki-laki hilang sehingga nomornya hilang? Atau laki-laki itu hanya sibuk?

Kai menyadari ia merindukan laki-laki itu. Tawanya, sifat jahilnya, dan semuanya yang hilang selama sebulan ini.

Suara ketukan di pintu membuatnya menoleh. Wajah ayahnya menyembul di baliknya. "Yuk." ajaknya.

Kai mengangguk. Ia mengambil flat shoes di rak dekat jendela lalu keluar dari sana setelah menyambar tote bagnya. Ia mengekori ayahnya yang sudah keluar. Ia mengunci pintu lalu mendekati mobil dan merangsek di samping kemudi.

Kai tahu apa yang ia ingin inginkan. Ia ingin bertemu Fattah. Tidak ada apapun yang ingin ia katakan. Ia hanya ingin melihat wajah itu.

Roda mobil berputar menuju salah satu hotel mewah di bilangan Jakarta Selatan. Kai membuang pandang ke luar jendela. Ke mobil-mobil yang juga memadati jalanan. Suara musik yang keluar dari radio membuat mereka berdua merasa tak perlu mengobrol. Seperti tahu anaknya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Marco fokus pada jalanan.

Lobi hotel itu ramai. Kai menggamit lengan ayahnya agar tidak hilang. Langkah kakinya mengikuti ayahnya. Mata Kai mencari-cari, meski tahu Fattah tidak akan ada di sana. Laki-laki itu pasti sedang bersiap di belakang panggung.

Mereka berdua menuju sebuah hall. Mereka mendekati salah satu meja yang berderet rapi untuk menunjukkan undangan sebelum dipersilakan masuk. Saat masuk ke hall itu, Kai merasa seperti berada di tempat yang salah. Orang-orang di sana berpakaian sangat rapi, juga terlihat mahal. Wajah-wajahnya terlihat orang-orang yang memang menggemari fashion. Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa dorongan untuk pergi dari sana tiba-tiba saja muncul.

Langkah kaki Kai berhenti saat melihat Kinan tiba-tiba saja sudah ada di depannya. Ia tidak tahu sejak kapan. Ia menjabat tangan wanita itu, sementara Raihan langsung menarik tangan ayahnya dan menghilang di antara kerumunan.

"Di sana ada minuman sama makanan kecil." Kinan menunjuk deretan meja di ujung ruangan, "acaranya sekitar setengah jam lagi." Wanita itu memberitahu.

Kai mengangguk.

"Tante tinggal nggak apa-apa, ya. Kalau mau langsung duduk juga boleh. Raihan sama Papa kamu mungkin udah di sana."

Kai mengangguk lagi. "Tante..." Kai memanggil saat Kinan baru saja membalik badan.

"Ya..." Kinan kembali menatap Kai yang terlihat bingung.

"Aku kira-kira... bisa ketemu Fattah nggak, ya?" Pertanyaan itu keluar dengan susah payah dari mulutnya. Ia memilin jemarinya dan melihat Kinan tersenyum kecil.

"Bisa. Tapi nanti kalau udah selesai, ya. Nanti Tante kasih tahu dia. Kamu jangan buru-buru pulang."

Kai mengangguk sambil tersenyum.

Karena tidak mengenal satupun yang ada di sana dan ayahnya entah di mana, Kai akhirnya memilih langsung duduk di tempat yang disediakan. Di depannya, sebuah panggung memanjang terbentang. Beberapa kursi sudah terisi. Orang-orang di belakang acara hilir mudik dan tampak sibuk. Kai memilin jemarinya. Entah kenapa perasaannya tak keruan.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang