CHAPTER DUA PULUH SEMBILAN

1K 156 14
                                        

Dua tahun kemudian...

Restoran jepang itu ramai. Pelanggan bergerombol memenuhi meja-meja yang berjejer rapi. Pelayan sibuk hilir mudik. Suara berisik di sana-sini. Antrean mengular di depan kasir.

Kai ada di salah satu meja bersama tiga teman kantornya. Mereka sibuk dengan panci dan pemanggang yang ada di tengah meja.

"Kai, lo besok ikut nonton kan?" Alia, salah satu rekan kerjanya bertanya. Sejak tadi mereka sibuk membicarakan acara menonton besok. Film yang dibintangi Fattah sudah hadir di bioskop. Kali ini laki-laki itu menjadi pemeran utama. Dalam dua tahun terakhir, laki-laki itu semakin sering menghiasi layar kaca. Menjadi lebih terkenal dari hari ke hari.

"Nggak, ah." jawab Kai. Ia mengunyah. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan teman-temannya tanpa minat. Ia sudah tidak lagi mengikuti Fattah sejak dua tahun terakhir, dan tidak pernah ingin memulai lagi.

"Adegan kissingnya katanya real loh. Ada adegan panasnya juga." Ria, salah satu fans Fattah garis keras yang selalu bersemangat jika membicarakan project-project laki-laki itu.

"Ayo, Kai. Ikut aja." Sabila coba membujuk meski tahu akan sia-sia.

Lagi, Kai menggeleng dan menatap ketiga temannya tanpa minat. Tangannya fokus mengambil potongan daging di atas pemanggang dan memasukkannya ke dalam mulut. Kai sudah terlalu lelah. Ia ingin mengenyangkan perutnya lalu pulang. Berada dikeramaian menyedot energinya dengan cepat. Ia perlu berada di kamar dan merecharge energinya.

"Kai mah jangan diharapkan mau ikut gitu-gituan. Diajak makan kayak gini aja harus dipaksa dulu. Introvertnya udah parah dia." kata-kata Alia membuat Kai tersenyum kecil. Semua teman-temannya sudah tahu kepribadiannya, dan ia tidak pernah tersinggung kalau teman-temannya bilang ia terlalu cuek, pendiam, tenang dan tidak suka terlalu lama dikeramaian.

Setelah merasa kenyang, Kai menandaskan isi gelasnya. Matanya menatap ke dinding kaca dan melihat mall itu masih ramai.

"Gue duluan, ya." katanya sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya.

"Dih, kok gitu? Kita belum selesai makan. Ini masih banyak daging sama sayurnya." Ria menatap ke arah Kai yang tampak tak acuh. Ia tahu kalau Kai tidak akan mendengarkan semua ocehannya.

"Gue udah kenyang."

"Besok weekend, Kai. Ngapain buru-buru sih?"

"Social battery gue udah mau habis." Kai menyantelkan tas ke sebelah bahunya dan menatap teman-temannya satu persatu. Ia tahu jika mengikuti ketiganya, ia bisa pulang hampir tengah malam. Para perempuan itu pasti lupa waktu jika sudah mengobrol.

Karena sudah sangat mengerti Kai, ketiga orang itu mengangguk pelan dan melepas kepergiannya.

Langkah kaki Kai keluar dari restoran, mendekati lift dan langsung menuju basement. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam setengah sembilan malam. Ini kemajuan buatnya. Biasanya ia akan lembur di kantor lalu pulang. Untuk dirinya yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah, keluar bersama teman-temannya hari ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan.

Mobil Kai keluar dari mall dan bergabung dengan mobil lainnya di jalan besar. Kai menyalakan radio agar suasana tidak terlalu sepi. Suara bincang-bincang terdengar. Kai terdiam saat menyadari bahwa itu adalah suara Fattah. Laki-laki itu dan pemain lainnya sedang promo di stasiun radio itu. Tanpa pikir panjang, Kai mengulurkan tangan untuk mematikan radio.

Menghindari pikiran dari Fattah terlalu sulit sedang wajah laki-laki itu ada di mana-mana. Di layar televisi, di papan iklan, di media sosial. Wajah laki-laki itu sangat sulit dihindari. Bahkan setelah lebih dari empat tahun, Kai masih berusaha mati-matian untuk melupakan Fattah.

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang