CHAPTER TIGA PULUH DUA

1K 165 8
                                        

Kai mengambil kursi di barisan paling bawah. Fattah mengambil tempat di sampingnya, dipisahkan meja kotak berisi makanan dan minuman yang tadi dibeli Andreas. Kai melipat kedua tangannya di depan dada. Sebelah tungkainya bertumpu pada kaki lainnya.

Kai menatap ke layar yang tidak menyala, sementara Fattah sibuk memilah kata. Ada terlalu banyak yang ingin laki-laki itu ceritakan dan ia bingung harus memulai dari mana.

"Aku minta maaf sama kamu. Aku hilang tiba-tiba selama empat tahun, dan bahkan saat kembali pun, aku malah bikin masalah." Fattah menarik napas panjang. "saat itu... aku nggak punya pilihan lain." tambahnya.

Kai melirik pada Fattah yang menatap ke depan.

"Kamu dulu selalu bilang kalau aku cocok di jadi artis, tapi aku nggak pernah benar-benar kepikiran akan terjun ke dunia ini." Suara Fattah mulai terdengar berat. "sejak kuliah, aku cuma tinggal sama kakakku, Freya. Mama udah meninggal dan Papaku udah nikah lagi." Fattah memilin jemarinya.

"Waktu itu, aku dengar kalau Papa udah nggak bisa bayarin uang kuliah aku sama Kak Freya lagi. Dan hanya selang beberapa hari, Papa bilang kalau rumah yang aku tempati akan di jual."

Kai menoleh dan menatap Fattah yang tersenyum miris.

"Aku terpaksa cuti kuliah dan ambil tawaran Mbak Karin. Saat itu, aku benar-benar nggak punya apa-apa lagi. Aku cuma mikir aku harus fokus kerja supaya bisa tetap hidup." Fattah menarik napas panjang.

"Aku buat keputusan untuk nggak nemuin kamu karena aku perlu fokus sama banyak hal. Nyari uang, lanjutin kuliah, jagain Kaka Freya yang di diagnosis depresi." Fattah mengambil jeda.

Kai tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Yang ia tahu, laki-laki itu menghilang tanpa kabar dan sejurus kemudian wajahnya muncul dibanyak media sosial sebagai model dan melebar ke televisi dan layar lebar.

"Kenapa kamu nggak pernah cerita?" Kai bertanya.

"Aku terlalu malu buat nunjukin diri aku yang sebenarnya." jawabnya.

"Fattah... kamu sadar nggak sih, aku selalu cerita apapun sama kamu, bahkan hal-hal terburuk sekalipun, itu karena aku percaya sama kamu." ujar Kai, "bahkan sekadar Freya kakak kamu aja aku nggak tahu. Dari awal kamu memang nggak percaya sama aku, kan?"

"Bukan gitu..." Fattah membela diri, "saat itu, aku benar-benar nggak punya apa-apa, Kai. Aku pengin ketemu kamu lagi dengan versi terbaik dari diri aku." kata Fattah.

Mereka bertatapan selama beberapa saat. Tatapan yang sama-sama sulit diartikan.

"Ingat nggak, waktu dulu aku ngajak pacaran. Kamu bilang mau nunggu aku sukses aja. Kamu nggak mau nemenin aku dari nol, karena takut aku nol terus." Fattah terkekeh. Namun kekehan itu membawa sekelebat nyeri pada hati Kai.

Kai sadar, penolakannya saat itu karena ia memang tidak memiliki perasaan apapun pada Fattah.

"Aku cuma..."

"Bercanda?" Fattah memotong omongan Kai dan melihat gadis itu mengangguk. "aku tahu kok. Tapi setelah dipikir-pikir, omongan kamu ada benarnya. Saat itu, aku bahkan nggak bisa lihat masa depan aku sendiri. Aku belum tentu sukses di sini. Belum tentu bisa lanjutin kuliah juga. Saat itu, semuanya terlalu tiba-tiba. Aku nggak bisa ambil keputusan lain selain fokus sama hal-hal lain dulu."

Kai menelan ludah. Ia tidak pernah tahu hari-hari berat yang dilalui laki-laki itu. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa laki-laki itu sudah terlalu asik dengan dunia barunya dan telah melupakannya.

Sebelah tangan Kai terulur untuk mengambil minuman di atas meja dan menyesapnya melalui sedotan yang mencuat.

"Sekali lagi, aku minta maaf. Tapi seandainya aku bisa mengulang waktu, aku pikir aku tetap akan melakukan hal yang sama." kata Fattah. "bukan karena kamu nggak berharga, tapi sebaliknya. Aku pengin merasa benar-benar pantas buat kamu."

Three Little Words [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang