03 | Pilihan

488 44 0
                                        

Tidak seperti hari kemarin, Mahaka terbangun terlalu pagi. Matahari bahkan masih enggan memunculkan diri. Langit masih hitam. Dari jam dinding yang terpajang, jarumnya menunjukkan angka tiga.

Tidak ada alasan lain selain rasa menggebu akan kebingungan dan penasaran. Pertemuan Mahaka dan pemilik toko kecil kemarin, malamnya terbawa dalam mimpi. Aneh dan tidak jelas. Mahaka mendengar suara berisik yang kian menggema dan menyentak telinga. Dirinya resah, terbangun duduk tepat di waktu sekarang.

Memijit kening berharap pusingnya hilang walau sedikit. Tidur yang seharusnya mengantar hingga langit menjadi biru terang, hal itu sudah berlalu. Untuk memejamkan mata pun Mahaka sudah tak bisa. Tubuhnya menolak kembali beristiahat.

Mahaka turun dari pembaringan. Berlalu menuju kamar mandi untuk membasuh wajah. Kilahnya menatap pada cermin di depan. Bayangan pahwalannya muncul tanpa diundang. Tersenyum hangat seraya merangkul bahunya. Mahaka tertunduk. Meremat sisi wastafel cuci tangan dengan kuat. Helaan napas terlepas setelah dia mendongak.

Mengambil segala cara untuk kembali memanggil lelah. Mahaka ingin tidur meski mimpi buruk itu kian datang di sepanjang matanya terpejam. Mahaka sudah kebal, Mahaka sudah terbiasa dengan semuanya. Meski batinnya terus memberontak lelah meratapi, Mahaka tidak memiliki pilihan lain selain menerima.

Kartu tanda nama Mahaka pandang. Diraihnya benda itu dibawa bersama duduk di tepi kasur. Bukan nama pemiliknya yang Mahaka fokuskan, melainkan barisan kalimat yang tercantum akan namanya di sana. Pemilik toko kecil kemarin, Mahaka meyakini bahwa dirinya bukanlah sembarangan orang.

Entahlah, Mahaka hanya berpikir liar dengan imajinasi akan bayang kemungkinan. Tapi terlihat dari bagaimana kejadian kemarin terjadi, Mahaka mengambil simpul semuanya bukanlah hal yang bisa dikatakan kebetulan.

Siapa dia? Dari mana dirinya tahu nama Mahaka?

Seperti pandangan dunia yang diberikan kepada Mahaka. Jalan timbul berbayang, memberi tuntunan menuju suatu tempat. Mahaka menghayal, imajinasinya kian makin liar. Menyentak diri untuk kembali sadar.

Mahaka menyimpannya. Kembali berjalan lengah menuju tempat tidur. Membuang badan sekali hentak dan terpejam. Hayalannya berhasil mengundang lelah namun dengan sakit kepala yang justru bertambah. Menusuk-nusuk hingga terasa ke dalam.

Teeeettt!!

Waktu berlalu begitu cepat. Mahaka terbangun pelan. Menghentikan suara yang kian nyaring menggema di ruangan. Berdesis pelan dan duduk seraya memegang kepala.

Di depan, jendela terbuka lebar. Silau surya mentari memenuhi rungannya. Mahaka menyerit. Tidak pernah membiarkan dinding kaca itu terbuka luas sebagaimana kini. Berjalan tanpa alas kaki dan mengedarkan pandangan. Situasinya tetap sama seperti kemarin-kemarin. Namun, hari ini mood bumi terlihat sangat baik.

Mahaka beralih pada jam dinding, pukul sembilan pagi, pantas matahari sudah terlihat tinggi.

Sarapan pagi hanya sebatas roti selai nanas. Mahaka bahkan tidak tahu pasti apakah makanannya masih layak dikonsumsi atau tidak. Semua yang dia cicipi terasa sama di lidah. Pengecualian kopi kemarin.

Benar, Mahaka memang memutuskan untuk bertemu dengan lelaki pemilik toko kecil kemarin. Selain karena pakaiannya, Mahaka punya banyak teka-teki yang perlu penjelasan. Termasuk kalimat yang tertera di belakang kartu namanya.

Menggunakan rute yang sama, cara berpakaian yang sama, bus dan supir yang sama. Seakan waktu merekam ulang adegan lampau.

Pemberhentian pasti, Mahaka meyakini jalan yang menuntun akan membawanya ke tempat sebelumnya. Toko kecil dengan pintu yang tertutup rapat. Bertanda telah dijual yang membuat kebingungan kian membesar.

MAHAKA [Markhyuck]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang