Mahaka kembali dilanda demam. Jam istirahat memang sempat keluar, rencananya ingin ke ruangan Vouz sebagimana yang diperintahkan lelaki itu. Namun, baru berdiri dari duduknya Mahaka sudah limbung lebih dulu. Haka masih setia bersamanya, menjadi orang yang membopongnya ke ruang kesehatan.
"Dia hanya demam," kata perawat yang menjaga piketnya.
Haka menghela napas lega. Beruntung pikiran buruknya pasal keadaan Mahaka tidak terjadi.
Perawat muda itu kembali ke ruang pribadinya. Meninggalkan Haka yang kini berdiri di samping tempat tidur Mahaka. Tertidur lelap dengan napas yang berderu. Bibir pucat dengan keringat yang kian bercucuran.
Haka tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. Mengotak-atik kontak dan melakukan panggilan.
"Iya, di ruang kesehatan. Bukan aku, tapi Mahaka. Cepatlah!"
Haka duduk dengan sedikit tenang. Menghindari dari decitan kursi yang bisa saja mengganggu tidur Mahaka.
Haka menaruh tangannya di depan bibir Mahaka, mendapat helaan napas yang terasa hangat. Padahal baru dua hari di sekolah baru ini. Keanehan Mahaka sudah banyak terjadi.
Pintu ruang kesehatan kemudian terbuka. Maha memunculkan dirinya dengan raut cemas bercampur heran.
"Ada apa?" tanyanya setelah berdiri di samping Haka.
Haka menatap Maha dengan mengadah. "Kau bisa menjaganya sebentar? Aku akan menemui Pak Vous untuk memberitahu keadaan Mahaka. Sekaligus, aku ingin mengambil buku paket untuknya."
Maha mengerjap. "Kenapa harus kau yang sibuk?"
Tanpa kesiapan, Haka memberikan pukulan pada pinggang lelaki itu hingga membuatnya sedikit terkejut.
"Kau dimintai tolong saja banyak pertanyaannya," protes Haka. Lelaki itu kemudian berdiri.
"Jagalah sebentar. Lagi pula kau tidak benar-benar sendirian di sini. Perawat ada di ruangannya."
Haka meninggalkan tepuk sejenak ada bahu Maha sebelum berlalu keluar.
Maha hanya diam, mendengkus sejenak sebelum mengisi kekosongan tempat Haka sebelumnya. Menjadi orang baru yang menatap Mahaka tertidur lelap dengan deru napas yang panas.
Maha menatapnya. Bagaimana Mahaka terpejam dengan raut pucat kelelahan. Tangannya sempat menyentuh kening yang basah akan keringat dingin. Panas seketika menyelimuti telapak tangannya.
"Baru juga dua hari," gumam Maha.
Lelaki itu kemudian menatap sekitar. Ruang kesehatan yang penuh akan obat-obatan dan bernuansa dingin. Tidak ada kegiatan yang menyenangkan di sini. Sekadar duduk dan menatap Mahaka yang beristiahat.
Maha kemudian mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi permainan dan menyambungnya dengan penyumbat telinga. Hanya sekadar menjaga Mahaka, Maha pikir dirinya bisa selingi dengan bermain game.
Lagi pula, Maha heran dengan Haka yang sibuk sendiri. Padahal bisa saja orang lain yang membantu Mahaka.
Maha mengedikkan bahu dan kembali fokus pada permainannya. Sesekali menatap Mahaka memastikan kondisinya sebelum kembali beralih pada game-nya.
Lain di posisi Haka yang sudah berada di ruang guru. Haka sempat menaruh permisi pada Pak Tom yang sempat bertemu. Mengatakan kalau Vouz ada di ruangannya.
Haka berjalan dengan pelan dan penuh kesopanan. Berhenti di depan pintu besar baru tangannya mengetuk tiga kali. Tanpa mendengar perintah untuk membuka, Haka lebih dulu mendorongnya.
"Permisi, Pak."
Vouz mengadah di kursinya. "Oh, Haka. Ada apa?"
Kegiatan kerja Vouz terhenti. Menyilakan Haka untuk duduk di sofa ruangannya namun ditolak dengan gelengan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAKA [Markhyuck]✓
Fiksi UmumNamanya Mahaka. Gadis entah berantah datang dari mana yang ingin mengubah alur kehidupan orang tuanya. Ps. much naration than dialogue
![MAHAKA [Markhyuck]✓](https://img.wattpad.com/cover/326753491-64-k164619.jpg)