"Pagi cintaku." ucap Revan saat melihat Navy membukakan pintu rumahnya untuknya.
"Mau cari Alysa? Dia masih di dalam tuh." ucap Navy tak membalas sapaan Revan untuknya. Dia masih kesal sama Revan gara-gara semalam.
"Aku ke sini mau jemput kamu. Kita ke kampus bareng yuk."
Navy tersenyum malu saat mendengar perkataan Revan untuknya. Dia sudah terlalu bucin dengan Revan. Bahkan kata-kata sederhana dari mulut Revan mampu membuat hatinya langsung luluh.
"Malah senyum-senyum. Gimana mau nggak berangkat ke kampus sama aku?" tanya Revan lagi saat tak mendapat jawaban dari Navy.
"Enggak mau." jawabnya memalingkan muka.
"Kalau lagi ngambek makin cantik deh." Revan tersenyum menggoda pacarnya.
"Gombal. Berarti kalau lagi nggak ngambek aku jelek gitu."
"Kalau lagi nggak ngambek cantiknya makin nambah lagi. Makanya udah ya jangan ngambek lagi sama aku."
"Aku nggak lagi ngambek sama kamu."
"Terus apa ini? Manyun-manyun."
"Ayo berangkat."
"Berangkat ke mana?"
"Ihh Revan."
"Bercanda. Hahaha." Revan tertawa di akhir kalimatnya.
Dari dalam rumah seseorang mengintip obrolan mereka. Mukanya terlihat kesal dan marah. Dia adalah Alysa sepupunya Navy. Dia yang hendak keluar tak sengaja melihat Navy dan Revan. Membuat kekepoannya meningkat.
"Dasar buaya darat."
"Kenapa juga sih gua harus kesel ngelihat kemesraan mereka."
"Alysa loe nggak boleh jatuh cinta lagi sama Revan."
"Revan itu jahat."
"Kontrol hati loe."
***
"Alysa. Jangan lupa ya nanti sore nonton aku tanding basket." Isi pesan WhatsApp dari Revan.
"Kamu nggak lupa kan. Kemarin aku udah bayarin kamu ngeprint. Jadi hari ini kamu harus nonton aku tanding basket. Aku butuh di semangatin sama kamu biar menang." Revan kembali mengirim pesan untuk Alysa.
"Gua sibuk." balas Alysa lalu mengirim pesan itu pada Revan.
Seharian dia hanya di perpustakaan. Mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang banyak. Dia memang lebih suka mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di kampus daripada di rumah. Karena menurutnya di kampus banyak referensi buku-buku yang dia perlukan, yang pasti itu ada di perpustakaan.
Alysa melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 3 sore. Sebentar lagi pertandingan basket antar fakultas akan segera di mulai. Alysa tak peduli. Dia memilih untuk pulang ke rumah. Karena tubuhnya benar-benar capek. Butuh diistirahatkan.
"Ngapain sih gua ke lapangan basket." ucap Alysa saat tak menyadari kalau langkahnya ternyata malah membawanya ke lapangan basket. Padahal niat awalnya dia pengen pulang dan istirahat.
Alysa berbalik arah. Dia melihat Revan bersama seorang cewek cantik. Revan dan cewek itu melangkah melewatinya. Seperti orang asing yang tidak dikenalnya.
"Revan, kenapa kamu berubah sih? Kamu bukan Revan yang aku kenal dulu."
"Aku harus kasih lihat ini ke Navy. Biar matanya kebuka. Kalau Revan itu bukan laki-laki baik."
"Tapi Navy bakal percaya nggak ya sama aku. Atau dia malah mikir kalau aku mau ngerebut Revan darinya."
"Navy Navy. Kenapa sih kamu bucin banget sama Revan? Nggak habis pikir aku."
"Bodo ah. Aku fotoin aja. Siapa tahu nanti berguna."
Alysa lalu memotret Revan dan cewek itu dari belakang. Walaupun cuma dari belakang, tapi cukup jelas kalau dua orang itu adalah Revan dan cewek lain.
***
"Gimana?" tanya Yudha pada Revan.
"Nggak diangkat." jawab Revan masih terus mencoba untuk menelepon seseorang.
"Loe juga sih udah tahu lagi pedekate sama Alysa. Ngapain juga loe malah jalan bareng sama Vita?" ucap Juno.
"Siap-siap aja kali ini loe bakal kalah taruhan." tambah Yudha.
"Gua cuma pengen tahu Alysa cemburu nggak kalau gua jalan sama cewek lain." ucap Revan. "Dan satu hal seorang Revan nggak bakal kalah." ucap Revan lagi lalu memperlihatkan ponselnya, yang di mana panggilan teleponnya sudah dijawab sama Alysa. Revan juga menyuruh teman-temannya untuk diam sejenak.
"Hallo. Kenapa?" tanya Alysa lewat sambungan telepon. Nada suaranya terlihat marah dan kesal.
"Hallo Alysa. Akhirnya kamu angkat telepon aku juga. Kamu di mana sekarang?" jawab Revan sembari bertanya.
"Di rumah." jawab Alysa singkat.
"Lhoh kok udah di rumah. Kan pertandingannya belum di mulai. Padahal tadi aku lihat kamu kayaknya mau ke lapangan basket."
"Gua pergi ke lapangan basket bukan mau nonton loe. Tapi gua mau ketemu sama temen gua di sana." Alysa berbohong. "Dan loe masih kenal gua ya ternyata. Gua kira lupa." ucap Alysa lagi. Menyindir Revan yang tadi sempat mengabaikannya.
"Oh kamu marah ya karna tadi aku nggak nyapa kamu."
"Gua nggak marah. Gua cuma nggak suka loe nyakitin sepupu gua. Kalau loe emang nggak serius sama Navy, akhiri hubungan kalian sekarang." Navy menutup teleponnya secara sepihak.
"Dimatiin." ucap Revan pada teman-temannya. Revan lalu menceritakan yang dikatakan Alysa pada teman-temannya.
"Gua yakin loe nggak bakal bisa dapetin Alysa selama loe masih berstatus pacarnya Navy. Alysa itu anak baik. Mana mau dia menjalin hubungan sama pacar sepupunya sendiri. Walaupun dia suka sama loe pun, dia akan memilih menghindar dan memendam perasaannya sendiri. Daripada harus merebut pacar sepupunya." ucap Juno menasihati.
"Bener juga loe. Terus gua harus gimana?" tanya Revan.
"Ya loe pikir aja sendiri." jawab Juno membuat Revan jadi kesal.
"Udah loe pikirin itu nanti. Sekarang loe harus fokus ke pertandingannya. Loe nggak mau kan tim kita kalah." ucap Yudha.
***
Vita dan beberapa temannya menghampiri Revan di pinggir lapangan. "Honey, semangat ya." ucap Vita mendukung Revan.
"Vita, kok loe malah dukung fakultas lain sih. Jangan jadi pengkhianat di fakultas sendiri." ucap Erel. Erel tidak terima kalau Vita anak psikologi malah mendukung fakultas lain. Lebih-lebih itu adalah Revan, musuh dia sendiri.
Erel, dia anak fakultas psikologi. Dia juga sekelas sama Vita. Selain itu dia juga yang hari ini akan tanding bersama teman-teman sefakultasnya untuk melawan fakultas Ilmu ekonomi.
Sejak SMP, Erel tidak pernah suka sama Revan. Karena menurutnya Revan selalu bisa mendapatkan sesuatu yang dia mau. Termasuk soal cewek. Padahal orang tua Erel dan Revan itu bersahabat. Papanya Revan dan papanya Erel mereka adalah rekan bisnis.
"Emang kenapa? Revan kan pacar gua. Nggak salah dong kalau gua dukung Revan. Toh gua juga masih dukung anak-anak fakultas psikologi untuk menang. Gua bukan pengkhianat seperti apa yang loe kata." ucap Vita membela dirinya.
"Dengan loe ngedukung Revan, itu udah ngebuktiin kalau loe pengkhianat Vita."
"Gua bukan pengkhianat Erel." Vita emosi karena Erel terus menyebutnya pengkhianat.
"Tahan emosi loe Vita." ucap Shinta menenangkan Vita.
"Udah biarin aja Vit. Mungkin Erel iri karena nggak ada cewek yang dukung dia." ucap Revan yang akhirnya membuka suara.
Erel sangat emosi mendengar perkataan Revan padanya. Dia ingin memukul muka Revan yang sok kegantengan itu. Namun niatnya terhenti saat terdengar bunyi peluit, tanda pertandingan akan segera dimulai. Dan mereka yang ikut pertandingan harus segera ke tengah lapangan.
"Honey, aku ke lapangan dulu ya." pamit Revan pada pacarnya.
"Semangat honey." Sekali lagi Vita memberi semangat untuk Revan pacarnya.
***
Kamis, 15 Desember 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Playboy Jatuh Cinta (TAMAT)
RomanceSekali lagi Revan melihat rumah kosong itu. Di mana pemiliknya sekarang. Rumahnya kotor dan tak ada yang membersihkannya. Banyak rumput liar tumbuh di sana. "Icha sebenarnya kamu di mana sih?" "Kenapa kamu pergi tanpa bilang apapun sama aku." "Apa n...
