Pagi-pagi sekali Revan sudah berada di depan rumah Navy. Dia sedang menunggu orang di dalam rumah untuk membukakan pintunya.
"Revan, ada apa pagi-pagi ke rumahku?" tanya Navy dengan nada datar. Dia masih kesal dan marah karena Revan memutuskan hubungannya secara sepihak. Padahal dia masih sangat mencintai laki-laki di depannya itu.
"Kemarin apa loe yang ngunciin Alysa di ruang kelas C7?" tanya Revan tanpa basa-basi.
"Kamu nuduh aku?" tanya Navy balik. Dia nggak percaya Revan tega menuduhnya.
"Gua cuma nanya Navy. Soalnya kemarin gua lihat loe di tempat kejadian waktu gua nolongin Alysa." jawab Revan.
"Emang kamu bakal percaya kalau aku bilang bukan aku yang ngelakuinnya?"
Revan diam tak menjawab pertanyaan Navy padanya. Karena dia sangat yakin Navy adalah pelakunya. Revan berharap Navy bakal mengakuinya. Karena semua bukti menunjuk ke arahnya. Dari Alysa yang diusir dari rumahnya. Navy yang tiba-tiba mengajak Alysa ketemuan. Navy yang kemarin nggak bisa dihubungin. Dan Navy yang berada di tempat kejadian. Membuat Revan berpikir Navylah pelakunya. Mungkin Navy marah dan kecewa karenanya. Karena Revan memutuskannya secara sepihak. Navy akhirnya menyalahkan Alysa. Dan melakukan itu semua untuk membalas Alysa.
"Kenapa diem Revan? Bener kan yang aku katakan. Walupun aku bilang bukan aku pelakunya. Kamu tetap nggak bakal percaya. Karena kamu sudah dibutakan cintanya sama Alysa. Kamu ngggak bisa berpikir jernih lagi. Kita lebih lama mengenal. Daripada kamu mengenal Alysa. Tapi kenapa kamu lebih percaya sama dia daripada percaya sama aku. Orang yang lebih lama kamu kenal. Aku nggak ngerti Revan. Kamu berubah. Kamu bukan Revan yang aku kenal dulu. Aku benci sama kamu Revan." ucap Navy panjang lebar. Air matanya mengalir tanpa ia minta. Entahlah rasanya sakit melihat Revan yang menuduhnya. Rasanya sakit melihat orang yang dicintai menyalahkannya demi perempuan lain. Navy Lalu melangkah pergi.
Navy naik ke motor Juno yang sudah datang beberapa menit yang lalu untuk menjemputnya. Meninggalkan Revan dengan kebingungannya.
***
"Pagi Alysa." sapa Revan sudah berada di depan Alysa. Membuat Alysa sedikit bingung. Darimana Revan tahu tempat tinggalnya yang sekarang.
"Loe ngikutin gua semalam?" tanya Alysa tanpa menjawab sapaan Revan padanya.
"Aku cuma nggak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu. Makanya aku ngikutin kamu. Memastikan kamu selamat sampai rumah." jawab Revan dengan diakhiri senyuman yang menawan.
"Kenapa sih loe segitu khawatirnya sama gua?"
"Karena aku sayang sama kamu. Dan aku nggak mau ngelihat kamu terluka."
"Idih pagi-pagi udah gombal aja."
"Aku serius Alysa." Revan menatap Alysa.
Alysa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tak sanggup menatap mata Revan. Rasanya jantungnya mau copot setiap kali matanya menatap mata Revan. Apalagi kejadian kemarin saat Revan menolongnya. Membuat Alysa semakin susah move on dari Revan. Hatinya kembali bergetar saat berhadapan dengan Revan.
"Loe mau ngapain ke sini?" tanya Alysa mengganti topik lain. Dia berjalan ke arah tempat sampah. Karena sebenarnya tadi dia mau membuang sampah. Hanya saja tertunda karena adanya Revan.
"Mau jemput kamu lah. Kita berangkat bareng ke kampus." jawab Revan dengan pandangan mengikuti ke mana Alysa melangkah.
"Jam di rumah loe mati ya? Ini masih jam 8 pagi Revan. Ngapain jam segini ke kampus? Kuliahnya juga masih ntar jam 11 siang."
"Mau ngajakin kamu sarapan dulu."
"Gua udah sarapan." Alysa masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Revan di luar.
"Al. Alysa." panggil Revan, namun diabaikan oleh Alysa.
***
"Revan." panggil Juno menghampiri Revan.
"Ada apa?" tanya Revan.
"Gua cuma pengen ngasih tahu loe kalau bukan Navy yang ngunciin Alysa kemarin." jawab Juno.
"Apa buktinya kalau bukan Navy pelakunya?"
"Karena kemarin seharian Navy sama gua terus. Dan gua juga yang semalem nganterin Navy ke kampus buat nolongin Alysa. Sayangnya udah keduluan sama loe. Loe boleh nggak percaya sama Navy. Tapi seharusnya loe percaya sama gua sahabat loe."
"Terus kalau bukan Navy, siapa dong pelakunya?"
"Ya gua juga nggak tahu. Loe cari tahu aja sendiri. Pacar-pacar loe yang lain mungkin."
Revan sedang berpikir. Siapa sebenarnya yang kemarin sudah mengunci Alysa di ruang kelas C7. Kenapa tidak ada petunjuk lain. Selain petunjuk itu mengarah ke Navy. Padahal bukan Navy pelakunya. Bukankah selama ini dia mau pacaran sama berapa orang pun juga tidak pernah ada masalah yang seperti ini. Revan benar-benar pusing memikirkannya.
"Revan. Loe jangan lupa minta maaf sama Navy. Karena tuduhan loe tadi pagi itu sangat menyakitkan buat dia. Apalagi tuduhan loe itu untuk membela perempuan lain. Gimana perasaan Navy, laki-laki yang dicintainya malah membela perempuan lain. Lebih parahnya menuduhnya lagi."
"Loe nggak perlu khawatir. Gua pasti minta maaf sama Navy. Makasih juga buat infonya."
Juno tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari Revan. "Loe nggak beneran suka sama Alysa kan?" tanya Juno tiba-tiba. Pasalnya selama ini dia mengenal Revan. Revan jarang sekali mengkhawatirkan perempuan seperti ini. Kecuali pada satu orang "Icha".
"Suka? Ya nggak mungkinlah. Gua kayak gini biar gua bisa deket sama Alysa, dan gua bisa menang taruhan." jawab Revan.
"Taruhan?" ucap seorang perempuan mengagetkan Revan dan Juno. Seketika mereka berdua langsung menoleh ke belakang. Menampakkan Alysa yang terlihat sangat marah dan kesal.
"Jadi loe deketin gua cuma buat taruhan. Jahat loe Van." ucap Alysa sangat marah. Ia memberikan tas berisi kotak makanan pada Revan dengan marah. Melemparkannya ke dada Revan. Lalu pergi meninggalkan Revan yang masih diam mematung.
"Alysa." panggil Revan setelah kesadarannya kembali. Ia berlari mengejar Alysa. "Alysa tunggu aku." ucap Revan lagi. Ia menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Alysa.
"Kamu salah paham Alysa. Ini nggak seperti yang kamu pikir. Aku bisa jelasin." ucap Revan.
Alysa menghentikan langkah kakinya. Begitu juga dengan Revan yang ikut menghentikan langkah kakinya. "Nggak ada yang perlu dijelasin lagi Revan. Loe emang nggak pernah berubah ya dari dulu." ucap Alysa.
"Maksud kamu?" tanya Revan tak mengerti dengan ucapan Alysa padanya.
"Revan. Sayang." panggil Vita langsung melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Revan. "Kamu ke mana aja sih? Dari tadi aku nyariin kamu tahu." ucap Vita.
"Urusin tuh pacar loe." ucap Alysa yang kembali melangkah pergi setelah mengucapkan beberapa kalimat pada Revan.
Revan ingin mengejar Alysa. Namun ditahan oleh Vita.
"Revan, ke kantin yuk. Aku laper." ajak Vita, dan Revan tidak bisa menolaknya.
"Seharusnya aku sadar sejak awal kalau Revan nggak pernah cinta sama aku. Bisa-bisanya aku baper lagi karena perlakuan Revan yang istimewa padaku. Padahal itu semua cuma karena taruhan. Alysa kamu bodoh banget sih." ucap Alysa pada dirinya sendiri. Dia sempat menoleh ke belakang sesaat. Memastikan apakah Revan masih mengejarnya. Namun sayang laki-laki itu ternyata lebih memilih pergi bersama perempuan lain dibanding mengejarnya.
***
Minggu, 01 Januari 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Playboy Jatuh Cinta (TAMAT)
RomantikSekali lagi Revan melihat rumah kosong itu. Di mana pemiliknya sekarang. Rumahnya kotor dan tak ada yang membersihkannya. Banyak rumput liar tumbuh di sana. "Icha sebenarnya kamu di mana sih?" "Kenapa kamu pergi tanpa bilang apapun sama aku." "Apa n...
