"Bagaimana keadaan Sakura? Kami ingin menelpon, tapi takut kalau emosinya belum stabil"
"Sakura sudah tidak apa-apa. Kemarin aku baru mengajaknya ke taman hiburan"
"Sou ka? Yokatta. Jaga dia terus, Sasuke. Ayah percaya padamu"
Telepon ditutup. Sasuke bernapas lega. Kecemasan ayah mertua tak sepenuhnya salah, tapi tak juga benar. Ada kalanya Sakura masih termangu memikirkan kejadian kelam lalu.
Dia menyisir rambut ke belakang, bersiap ke kantor usai menyantap bekal makan siang. Tak menghabiskannya bersama-sama lagi. Memilih menyendiri di kantin area perpustakaan.
Empat sekawan tinggallah sebuah julukan. Sai pun kian menjauh, bersibuk dengan rekan dosen satu ruangan. Menjalin relasi yang baru-baru ini diciptakan di lingkungan kerja.
Sementara Kiba dan Naruto masih bertukar pandang. Istirahat siang empat orang menjadi dua orang. Menu makanan mereka pun bukanlah bekal buatan Sakura lagi.
"Penghujung bulan ini, Sai akan pergi jauh. Apa boleh kita seperti ini terus?" cuap Kiba mengaduk-aduk es boba capucino yang dipesan.
"Entahlah. Aku tidak paham siapa yang memulai perang dingin antara mereka" tanggap Naruto di tengah seruput kuah ramen, "menurutku, keadaan yang membuat situasi ini"
"Orang bodoh macam apa yang cuma bisa menyalahkan keadaan" tangan Kiba mengepal menggebrak meja, "mereka itu jenius tapi bodoh! Sasuke. Dia top global ilmuan Konoha. Sebutlah si nomor satu universitas. Tapi hanya karena kegagalan kecil begitu sudah merajuk seperti bayi"
"Oi, kau tidak tau sejauh apa dia memperjuangkan Jerman" potong Naruto tidak terima. Ia tau betul jatuh bangun Sasuke demi menempuh studi ke Eropa Tengah.
"Tunggu, aku belum selesai bicara" Kiba menautkan alis, "kemudian Sai. Digadang-gadang orang paling sukses yang mengharumkan nama Konoha. Tapi begitu namanya disanjung, dia lupa diri"
"Jangan asal menuduh. Sai hanya sedikit kikuk dengan Sasuke. Mereka rival sejak masuk S3. Kurasa dia hanya bingung caranya bersikap" timpal Naruto, "waktu perayaan buatan mahasiswa doktoral, Sai kecewa Sasuke tak ikut serta. Dia merasa sudah berbuat salah ke Sasuke"
"Payah!" maki Kiba kesal, "inilah kenapa mereka terlalu banyak melatih otak, sampai lupa dengan hati"
Kiba ingin melampiaskan amarah. Dua sahabatnya amat tidak dewasa. Hanya perselisihan kecil mampu memecah belah sampai tak bertegur sapa.
"Ayo buat rencana mengakrabkan mereka kembali"
***
Langit masih berwarna oranye, tetapi mobil sedan hitam sudah terparkir di halaman. Sakura menyambut dengan suka cita. Jarang-jarang Sasuke pulang sebelum petang.
"Aku membawa umeboshi. Kau pernah bilang menyukai itu"
"Whoaa, arigatou!" Sakura menerima tray kecil berisi deret asinan plum kering, "Sasuke-kun perhatian sekali"
"Iia. Nan demo nai" seperti biasa pria itu hanya menanggapi sekenanya.
"Tokorode, bekal hari ini habis?" sejenak Sakura meletakkan buah tangan suami ke meja makan, berganti melepaskan simpul dasi dan jas kerja.
"Tidak mungkin tidak"
Dalam artian, bekal Sakura selalu enak. Sasuke bahkan tak menyisakan setitik nasi pun. Tak ada kesempatan bagi mikroorganisme komposter yang boleh mencicipi makanan buatan istrinya.
"Bagaimana dengan teman-teman Sasuke-kun? Mereka masih punya kegiatan sendiri-sendiri ya?"
Ada kalanya Sakura rindu masak porsi besar. Dua piring untuk menu sarapan. Selebihnya untuk bento suami dan sohib di kampus.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝕆𝕏𝕐𝕋𝕆ℂ𝕀ℕ ✔️
ChickLit| COMPLETED 18/11/2024 || #sasusaku pairs | 🔞 Mature but doesn't contain explicit contents 🔞 Uchiha Fugaku dan Haruno Kizashi mengatur sebuah rencana tanpa persetujuan putra-putri mereka. Adanya kecemasan dari dua ayah tersebut berujung pada kesep...
