Bab 4

181 27 40
                                        

Cukup mudah mengenali Rufus karena pemuda itu tidak banyak berubah. Sampai hari ini dia masih punya rambut pirang ikal dengan mata hijau terang. Tubuh jangkungnya selalu lebih tinggi dariku, tetapi kini dia tampak lebih berotot dibandingkan dulu. Ketika memelukku, Rufus harus menunduk lebih ke bawah dan hampir mengangkatku.

"Um...." Aku menggeliut gelisah. Kudorong pemuda yang sedang dilanda semangat itu dan mundur selangkah. "Kau sungguh Rufus Stone yang itu?"

"Memangnya aku Rufus yang mana lagi?" Dia tertawa puas. "Akhirnya aku menemukanmu! Demi Tuhan, banyak yang kulalui. Kau harus tahu betapa anehnya kembali ke New Orleans dan mendadak semua orang tidak kenal Cassidy Adams!"

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"

"Aku tidak tahu." Dia sendiri kedengaran bingung. "Aku hanya mencoba sihir ini dan berpindah dimensi. Lalu, baru hari ini aku dengar namamu dibicarakan oleh beberapa pengunjung kedai. Karena itu aku mencoba mencari tahu lebih lanjut, dan di sinilah kau sekarang!" Sambil tertawa senang, dia merentangkan tangan ke arahku, menunjukku bagaikan sedang memperlihatkan sebuah kejutan.

Alih-alih ikut senang, kejengkelan justru memenuhi hatiku. "Ke mana saja kau selama ini!?"

"Bukannya sudah kubilang kalau aku masuk sekolah asrama di Jerman?"

Aku bersedekap, menahan tangan agar tidak menampar Rufus. "Ya, dan setelah itu kau menghilang tanpa jejak begitu saja dan tidak membalas satu pun pesanku!"

"Aku tidak punya banyak kebebasan di asrama itu. Peraturannya ketat sekali!" Rufus beralasan. "Sulit berkomunikasi dengan siapa pun selain keluarga. Dan...."

Rufus menelan ludah, mendadak sulit bicara.

"Ya?" Kucoba menanyakan kelanjutannya.

Sekarang, aku bisa mengingat lagi satu alasan yang membuat Rufus enggan berkomunikasi denganku. Padahal sudah jelas-jelas aku memintanya untuk tidak memikirkannya masalah itu, tetapi pemuda satu ini malah memanfaatkan kepergiannya ke negara lain untuk memutus pertemanan kami.

"Aku minta maaf," Rufus menyerah, tidak bisa lagi menemukan alasan untuk dikarang. "Tidak seharusnya aku mengabaikanmu."

Aku menaikkan kedua alis sambil menoleh ke arah lain, masih merasa jengkel dengan hal tersebut. "Aku sampai berpikir kau menolak bicara gara-gara dulu aku menyatakan perasaanku padamu."

"Mana mungkin!" Rufus membantah. "Aku... waktu itu aku cuma gugup dan aku... kau tahu kenapa aku tidak bisa menerimanya."

Aku melambai tangan sekilas. "Tidak apa-apa. Itu cuma pengakuan cinta anak kelas delapan. Bukan hal besar."

Rufus terlihat bersalah. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Namun, kau tahu aku tidak bisa.... Tidak setelah semua yang terjadi itu."

Tanpa aba-aba Ben merangkul pinggangku ke dekatnya, seolah hendak mengingatkan kembali kehadirannya di dekat kami.

Ben mengulas senyum ramahnya yang khas. "Kita belum berkenalan dengan layak." Dia mengulurkan tangan ke arah Rufus. "Ben Salvatore."

"Ah, Rufus Stone," buru-buru Rufus memperkenalkan diri. "Kau teman Cassie?"

"Aku kekasihnya," Ben membalas dengan keramahan yang mulai cukup dipaksakan. "Apa kau baru tiba?"

"Aku sudah berada di sini beberapa hari dan menyewa kamar di pusat desa," Rufus menjawab. "Aku tidak punya uang, jadi Mr. Bary, pemiliknya, membiarkanku bekerja di sana sebagai ganti kamar dan makanan." Tatapan Rufus kembali padaku, disertai senyum canggungnya. "Bisakah kita bicara, Cass?"

Semua rasa laparku hilang seketika sehingga tak mungkin aku kembali ke ruang makan. "Tentu. Di luar saja, bagaimana?"

"Cass," Ben memprotes pelan dari samping, tetapi tidak kuhiraukan. Saat ini, yang ingin kuketahui hanyalah bagaimana Rufus bisa tiba di Andarmensia.

Iltas 3: A Dance of Fire and SorceryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang