Hari ini, perjalanan masa lalu diakhiri dengan kehancuran Eralstanor, atau harus kusebut Dracaelum. Suara napas terengah dari Rufus mengisi keheningan di kamar ketika kami kembali ke masa kini.
Di tahap ini, aku bersyukur tidak menyaksikan terlalu banyak hal dari masa lalu Rufus. Melihat dirinya diperlakukan dengan buruk oleh keluarga dan orang sekitarnya hanya akan membuatku ikut dilanda amarah. Di sisi lain, melihat persahabatannya dengan Naga Agung selama bertahun-tahun pun seolah tidak ada gunanya, mengingat segala sesuatu berakhir dengan buruk.
"Aku... aku tidak tahu harus bilang apa," gumamku, daripada hanya bungkam. "Aku turut menyesal, Rufus."
Pemuda itu tidak memberi respon. Hanya ada kelelahan di wajahnya.
Kuharap aku bisa melakukan sesuatu, demikianlah yang hendak kukatakan. Namun, aku sadar bahwa kata-kata itu bisa saja mengandung janji yang tidak dapat kutepati.
"Aku tidak seharusnya menunjukkan itu pada kalian," Rufus berujar lirih. Salah satu tangannya memijat bagian tengah dahinya, sementara tangan yang lain dilipat di depan dada. "Itu semua... aku bahkan tidak sanggup mengingatnya lagi."
Kusentuh pundak Rufus hati-hati, tak ingin mengagetkannya. "Tidak apa-apa, Rufus. Kami sudah memahami alasanmu mengambil permata itu. Tidak perlu lakukan ini lagi."
Rufus menggeleng kuat. "Itu bukan alasannya."
Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah melebarkan kelopak mata. Itu bukan alasannya? Bagaimana bisa itu bukan alasannya?
Kepala Rufus terangkat dan menoleh padaku, membuatku mengembalikan ekspresi normal di wajah. "Kau tidak mengerti betapa... betapa bodohnya diriku, Cass. Seharusnya setelah itu aku langsung menyadari kesalahanku, tetapi apa yang kulakukan? Aku malah melanjutkan segalanya, berpura-pura kejadian itu tidak melukaiku. Memang, para penyihir bukanlah orang-orang yang baik, tapi ada pula mereka yang bernasib sepertiku. Kuharap aku bisa...." Napas Rufus tercekat. Kedua matanya meneteskan air mata sekaligus. "Kuharap—-"
Aku merengkuh Rufus sebelum dia menyelesaikan kata-katanya. Pemuda itu memang menahan diri agar tidak terisak hingga sekujur tubuhnya gemetar, tetapi dia membalas pelukanku tak kalah erat.
Cukup lama kami terdiam dalam posisi itu. Ini pertama kalinya aku memeluk Rufus. Seandainya saja aku lebih berani untuk melakukannya sejak dulu, sekadar sebagai pertanda bahwa Rufus tidak sendirian.
Rufus melepaskan diri lebih dulu sambil mengusap wajahnya. "Aku butuh waktu sendiri," ujarnya. "Terima kasih, Cass."
"Kau yakin?"
Pemuda itu mengangguk. "Aku hanya ingin istirahat. Datanglah kembali besok dan akan kutunjukkan sisanya."
Berhubung Rufus sudah terlihat kehabisan tenaga, maka aku dan Ben segera pergi dari kamar itu setelah berpamitan. Walau sudah berjalan menjauhi penginapan, tetap saja apa yang kusaksikan tadi menghantuiku.
"Dia akan baik-baik saja," Ben menenangkanku. "Rufus pasti lelah, Cass. Dia butuh waktu sendiri."
Aku merangkul lengan Ben dan menyandarkan tubuh padanya. "Maaf aku memeluknya tadi."
"Hei, jangan minta maaf untuk itu," tegurnya. "Rufus butuh seseorang untuk menenangkannya dan kau adalah orang yang tepat. Akan aneh kalau aku yang memeluknya."
Aku terkekeh. "Kau benar."
"Malahan aku jadi merasa tidak enak karena pernah cemburu," celetuk Ben. "Apa yang dia alami benar-benar...." Kalimat tersebut tidak dilanjutkan karena Ben kehilangan kata-kata. "Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Iltas 3: A Dance of Fire and Sorcery
FantasíaApi dan sihir. Penunggang naga dan penyihir. Persahabatan dan pengkhianatan. | • | Hampir dua tahun berlalu, Cassidy dan Beast masih menjalankan tugas mereka sebagai duta Andarmensia bagi Dracaelum. Namun, keanehan terjadi. Naga Agung ingin menghent...
