RUFUS
Kendati Andarmensia memperketat keamanan, Rufus heran karena dirinya masih bisa masuk tanpa diketahui siapa pun. Bahkan perlindungan yang dibuat oleh para penyihir berhasil dia lewati tanpa ketahuan.
Tidak sulit mendapatkan informasi soal keluarga Willson dan Alister. Biar bagaimanapun, dua keluarga inilah yang paling dirugikan sebab Agnar membunuh kepala keluarga mereka. Setelahnya pun tidak ada pertanggungjawaban berarti yang diberikan pihak Dracaelum maupun Andarmensia atas kerugian dan duka yang telah ditimbulkan.
Setibanya di tujuan pertama, yakni kediaman keluarga Willson, Rufus yakin pelayan rumah tidak akan membiarkannya masuk, tetapi dia tetap mencoba. Sesuai tebakan, sang pelayan memang menolak kunjungan dari orang asing, terlebih karena sang tuan rumah sedang mengadakan pertemuan santai dengan keluarga penyihir lainnya. Akan tetapi setelah mendengar nama Rufus, ekspresi pelayan tersebut sedikit berubah.
"Oh, Rufus Stone?" tanya pria di depannya. Wajahnya terlihat berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Akan saya sampaikan perihal kedatangan Anda kepada Madam Willson."
Rufus dipersilakan menunggu di ruang depan sementara pelayan itu menyampaikan informasi kepada nyonya rumah. Dari kejauhan, suara alunan piano membantu mengisi keheningan di tempatnya berada. Rufus mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati kediaman penyihir yang tidak jauh berbeda dari mansion para bangsawan abad pertengahan. Lokasinya memang agak terpencil dari desa dan desain eksterior rumah terlihat biasa saja. Akan tetapi kemewahan interiornya tidaklah tanggung-tanggung. Kandelir raksasa yang bergelantung tampak berkelap-kelip memantulkan cahaya lilin. Segala perabot rumah dibuat dari kayu berkualitas tinggi yang telah dipoles. Lantai keramiknya memantulkan bayangan dengan sempurna, seperti melihat ke permukaan air. Sofa yang Rufus duduki dilapisi beludru merah gelap, ditemani beberapa bantal kecil yang tersandar pada pojok sofa.
Apakah Cassie pernah melihat semua ini? Dia suka sekali dengan—-
Tidak, sebuah suara mendesis. Jangan dia lagi.
Rufus mengernyitkan dahi ketika kepalanya serasa diremas.
Kau meninggalkannya, sebuah suara baru berkata lirih.
Yang mana merupakan hal bagus, sambung suara pertama yang terdengar tegas. Kau tidak perlu memusingkannya lagi.
Rufus tahu hal itu bagus. Dia hanya tidak paham kenapa pikirannya terus mengarah ke sana. Seharusnya menyingkirkan orang seperti Cassie memberinya ketenangan, bukannya kegelisahan yang dia tak pahami.
Aku tidak ingin..., suara lirih tadi kembali terdengar, tetapi dengan cepat dibungkam sehingga tidak sempat melanjutkan kata-katanya.
Sang pelayan kembali tak lama kemudian. "Maaf membuat Anda menunggu, Mr. Stone. Silakan ikuti saya."
Mereka berjalan melewati bagian samping tangga rumah, menuju sebuah pintu yang mengarah pada bagian rumah lainnya.
"Sebenarnya pekerjaan apa yang dilakukan penyihir?" tanya Rufus, masih terpukau dengan kemewahan rumah ini.
"Tuan dan nyonya kami pemilik tanah, Mr. Stone. Mereka juga pemilik beberapa lahan pertanian," jawab sang pelayan. "Ada pula keluarga yang berdagang atau mengurus pertambangan."
"Jadi semacam bisnis," Rufus menyimpulkan. "Kenapa mereka mengasingkan diri?"
"Sudah menjadi hal yang lazim bila itu terjadi," balas sang pelayan. "Bergaul dengan manusia biasa tidak akan memberi manfaat apa pun, sementara menghindari penunggang naga adalah pilihan terbaik."
"Kenapa malah penyihir yang menjauhkan diri? Tidakkah mereka punya kekuatan?"
Sang pelayan terkekeh sopan. "Saya rasa ini adalah salah satu cara untuk menghindari masalah. Selain itu, ketenangan memang terasa menyenangkan."
Mereka semakin dekat dengan sumber denting piano yang terdengar, kali ini ditambah oleh suara percakapan dari para tamu. Sang pelayan dan Rufus tiba di depan salah satu pintu. Setelah diketuk, pelayan itu masuk diikuti Rufus dari belakang.
Keadaan ruangan itu senyap seketika. Berpasang-pasang mata melihat Rufus dengan tatapan penuh tanya, mengamati dirinya dari atas hingga bawah. Beberapa dari mereka tampaknya sudah mendengar dari sang nyonya rumah sehingga hanya memasang raut penasaran.
"Kau boleh pergi, Ronald," seorang wanita berucap pada sang pelayan, yang segera ditanggapi dengan patuh. Sementara pria itu pergi, Rufus masih berdiri di tempatnya. Akan tetapi tidak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya.
"Selamat malam, ma'am," Rufus menyapa sang nyonya rumah. "Aku minta maaf sudah mengganggu acara Anda."
"Bukan masalah besar," Mrs. Willson menepis. "Aku justru bertanya-tanya apa yang membuatmu kemari, Mr. Stone."
Rufus tersenyum. "Tampaknya jati diriku sudah dikenal banyak orang," dia berkata, tidak langsung membalas pertanyaan tadi.
"Oh, aku yakin orang-orang sudah mendengar desas-desus soalmu dan bagaimana para pihak dewan gagal menjalankan tugas mereka," Mrs. Willson berkata geli. "Kalau boleh kutebak, permata di lehermu itu pastilah permata tersohor itu."
Tanpa sadar tangan Rufus bergerak menyentuh permata sihir yang menjadi bandul kalungnya. "Anda benar, ma'am. Inilah permata yang seharusnya menjadi milikku, tetapi disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab."
"Kalau boleh tahu, apa tujuan Anda kemari, Mr. Stone?" Seorang lelaki yang lebih muda dari Rufus berjalan mendekatinya. Dilihat dari ciri fisiknya, kemungkinan besar remaja itu adalah anak dari Mrs. Willson. "Terakhir kami mendengar bahwa penyelesaian masalah dengan Dracaelum tidak berjalan baik, apalagi mengingat kalau Anda sudah memiliki permata naga itu." Matanya mengamati bandul kalung Rufus secara terang-terangan.
"Sungguh?" Rufus terkejut. "Aku malah merasa kalau segala sesuatu sudah kembali ke jalan yang benar. Karena itu sekarang aku ingin meluruskan lebih banyak kesalahan yang terlanjur terjadi."
Beberapa tamu terlihat saling pandang. Dahi Mrs. Willson mengerut dalam. "Maksudmu?"
"Naga itu telah mengakibatkan banyak kerugian bagi Andarmensia, baik kepada penunggang naga maupun penyihir. Namun, patut disayangkan karena para penunggang menolak bantuanku. Karena itulah aku ingin menawarkannya kepada pihak yang diperlakukan lebih tidak adil."
Rufus berhenti sesaat ketika dahi Mrs. Willson mengerut kian dalam, sementara wajahnya menunjukkan air muka pahit. "Tanpa bermaksud menyinggung Anda ataupun keluarga Anda, ma'am, tapi aku sudah mendengar soal suami Anda, Richard Willson."
Semua orang sudah bisa menerka ke mana kira-kira arah percakapan ini, tapi tidak semuanya menunjukkan pemahaman. Beberapa dari mereka justru buru-buru mengalihkan pandang, berharap bisa menghindari topik ini.
"Aku ingin menawarkan bantuan kepada kaum penyihir," Rufus menegaskan maksudnya. "Keluarga yang telah dirugikan akan memperoleh permata sihir, dan kalau kalian ingin, aku akan membiarkan kalian membalas dendam secara langsung kepada naga yang telah merenggut anggota keluarga kalian. Tapi semua itu akan diberikan setelah Anda sekalian mendukungku."
"Mendukung dalam hal apa?" seorang pria ikut serta dalam percakapan. Dia tidak berusaha menyembunyikan nada penasarannya.
"Membantu ketika diperlukan untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak bisa diajak bekerja sama," Rufus membalas. "Atau minimal tidak ikut campur atau mendukung pihak-pihak pembangkang itu."
"Dan pihak manakah yang kau maksud ini?"
"Untuk saat ini, para penunggang naga," Rufus menjawab tenang. "Aku tahu para penunggang naga tidak akan suka rencana ini, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, dan akan lebih baik bila kalian tidak ikut campur dalam membela mereka."
Tidak ada balasan yang terdengar. Mrs. Willson sendiri memasang wajah lebih tenang. Dia membuka kipas yang sedari awal sudah dipegangnya dan mulai mengipasi diri. "Kami akan mengingatkan hal ini, Mr. Stone," wanita itu meyakinkan. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda."
"Tidak perlu berkata demikian, ma'am," tepis Rufus. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Iltas 3: A Dance of Fire and Sorcery
FantasyApi dan sihir. Penunggang naga dan penyihir. Persahabatan dan pengkhianatan. | • | Hampir dua tahun berlalu, Cassidy dan Beast masih menjalankan tugas mereka sebagai duta Andarmensia bagi Dracaelum. Namun, keanehan terjadi. Naga Agung ingin menghent...
