Bab 19

103 21 3
                                        

Kalau aku orang awam yang kebetulan diberi kesempatan untuk menyaksikan persahabatan Naga Agung dan Rufus, barangkali aku akan merasa terharu dan mendukung pertarungan mereka melawan para penyihir. Namun setiap kali emosi semacam itu hendak menguasaiku, lagi-lagi aku teringat pada keadaan mereka di masa kini.

Omong-omong, pertarungan mereka melawan penyihir bisa dibilang sukses. Aku justru terkejut karena Rufus dan Agnar tidak membunuh lawan mereka. Yah, kurasa beberapa dari penyihir terluka parah, tapi tidak seburuk dugaanku. Aku telah mengantisipasi kepala yang meledak di tempat atau hal sadis serupa.

Pertarungan tersebut diakhiri dengan semua penyihir yang tumbang di tempat masing-masing. Dengan kekuatannya yang bertambah berkat permata sihir, Rufus mampu menyingkirkan tubuh-tubuh itu dari gua.

"Kau apakan mereka?" tanya Agnar.

"Memindahkan mereka ke desa," Rufus membalas tenang. "Dengan demikian orang-orang akan tahu apa yang terjadi."

"Tidakkah kita seharusnya membunuh mereka?" tanya Agnar, tidak terima. "Mereka membunuh teman-temanku!"

Rufus menggeleng. "Bersabarlah. Bukan seperti itu caranya. Manusia yang hidup punya lebih banyak kegunaan dibandingkan yang mati. Tapi, itu pun kalau mereka mau bekerja sama."

Agnar mendengus sinis. "Aku meragukan hal tersebut."

Rufus mengambil beberapa permata sihir yang tersisa dari bebatuan tadi. "Panggil naga lainnya. Kau harus segera memasangkan permata ini kepada mereka."

"Aku?"

Rufus mengangguk. "Aku yakin para naga akan lebih senang kalau kau yang memasangnya." Pemuda itu mengulas senyum kemenangan. "Setelah itu, aku yakin kita punya kekuatan yang cukup untuk melawan balik."

Senyap sesaat. Agnar tidak kunjung beranjak dari tempatnya.

"Kenapa kau melakukan ini?" sang naga bertanya pelan. "Para penyihir itu kaummu."

Rufus semula tidak membalas. Dia sibuk memisahkan permata dari bongkahan batu yang masih menempel.

"Rufus," Agnar memanggil lebih keras.

Sang pemilik nama menghela napas. "Kau benar. Aku bisa saja membawa kembali permata ini ke desaku. Barangkali dengan demikian, kebencian Ayah terhadapku akan sedikit berkurang." Rufus memandangi permata yang berkilau di tangannya. "Lalu, aku bertanya pada diriku, apakah aku mau membantu orang-orang yang selama ini sudah memandang rendah diriku? Apa bagusnya jika aku berbuat demikian?"

Dia membawa kumpulan permata sihir itu ke arah Agnar. "Bayangkan saja, aku membantu kaum yang sudah lama diburu oleh penyihir; kaum yang punya potensi lebih besar untuk berjaya hanya dengan sedikit bantuan," ujar Rufus. "Satu hal lain yang tak boleh dilupakan adalah fakta bahwa kau satu-satunya temanku. Kau tidak membunuhku di saat pertama kita bertemu."

"Aku tidak membunuhmu karena kau terlihat mengalami hal yang sama denganku," balas Agnar. "Ketika melihatmu ketakutan, aku ingat pernah merasakan hal serupa. Kupikir, untuk sekali ini saja, aku ingin tahu apakah persamaan itu bisa membuahkan sesuatu."

Rufus mengulas senyum kecil. "Kurasa peruntunganmu sedang sangat baik waktu itu."

Agnar mendenguskan tawa. "Ya." Naga itu menjeda sesaat, kemudian lanjut berkata, "Kau yakin dengan semua ini? Kau mau membantu kaum yang telah membunuh ibumu?"

Ketika diingatkan kembali dengan hal tersebut, mata Rufus melebar, tetapi dengan gerakan yang cukup halus hingga nyaris tak terlihat. "Kau masih ingat cerita itu?"

Agnar mengangguk. "Tentu."

"Seberapa banyak ceritaku yang kau ingat?"

Naga itu mengedik. "Cukup banyak, mengingat kau suka mengoceh."

Iltas 3: A Dance of Fire and SorceryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang