Sesuai dugaanku, Rufus tidak terlihat di penginapannya. Mr. Barry, sang pemilik penginapan, bilang kalau Rufus belum memutuskan untuk keluar dari sana sehingga ada kemungkinan kalau pemuda itu akan kembali.
Aku menunggu di area tempat makan, tidak lupa memesan segelas teh hangat untuk menemaniku. Walau cukup tergoda untuk memesan ale, tetap saja aku butuh kepala yang jernih untuk bicara dengan Rufus.
Kucoba untuk menyisakan tehku selama mungkin. Namun, hingga malam tiba pun, tidak ada tanda-tanda kehadiran Rufus.
Ini buang-buang waktu, pikirku. Tidak ada cara selain meninggalkan pesan. Mr. Barry berbaik hati menyimpankan pesanku untuk nantinya diberikan pada Rufus.
Aku kembali ke Belt Centras untuk menyelesaikan sisa pekerjaan. Rasa lelah berpadu dengan kepala yang penuh beban membuatku nyaris memberanikan diri untuk pergi ke ruang makan dan mengabaikan apa pendapat orang terkait masalah yang terjadi tadi siang. Akan tetapi, ketika mengingat surat kaleng yang kuterima, kuputuskan untuk kembali ke kamar demi menghindari perdebatan yang tidak diinginkan. Mungkin aku bisa turun nanti seusai jam makan malam.
Ketika duduk di meja kerja dalam kamar asramaku, baru kusadari ada selembar kertas berisi tulisan di sana. Aku sempat mengira surat kaleng lainnya telah tiba. Namun, isinya menunjukkan sebaliknya.
Aku menunggumu lama dan kau belum kembali. Ketemu di penginapanku jam 8 malam besok?
Rufus
PS: Menurutku kau penunggang naga yang hebat. Abaikan surat kaleng payah itu.
Pesan itu membuatku kesal sekaligus bingung. Kalau tahu begini, aku akan langsung pulang. Kendati perlu dipertanyakan bagaimana Rufus tahu nomor kamarku.
Aku menoleh ke arah tong sampah. Remasan surat yang tadi meleset kini sudah berada di tempat yang seharusnya.
Ketukan pintu dari luar memecah keheningan kamar. "Cass?"
“Masuk.”
Ben membuka pintu dengan salah satu tangan memegang sebuah nampan. “Aku tidak melihatmu di ruang makan, jadi kubawakan ini."
Melihatnya datang membuat dadaku terasa lebih lapang, terlebih ketika dia membawa apa yang sedang kuperlukan. Ketika dia menundukkan tubuh untuk menaruh nampan di meja, kuberi dia kecupan di pipi. “Terima kasih. Aku berencana makan saat sudah sepi.”
“Aku tahu kau pasti tidak turun karena itu.” Ben mengusap kepalaku. “Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja padaku. Oh, dan ayam balur madu hari ini enak sekali. Cocok untuk hari yang melelahkan.”
Sementara aku mulai makan, Ben melihat surat Rufus di mejaku dan mengambilnya. “Apa ini?”
Kuceritakan padanya soal rencanaku bicara dengan Rufus, serta penantian kami yang buang-buang waktu.
Ben meletakkan surat itu kembali ke meja. “Pemuda itu membuatku ngeri. Bagaimana bisa dia masuk ke kamar orang sembarangan? Selain itu, dia bahkan masih sempat menyelipkan pujian untukmu. Betapa manisnya.”
“Dia hanya merespon surat kaleng yang kuterima.” Aku menunjuk ke satu-satunya benda yang mendiami tong sampahku sekarang. Ben mengambil remasan kertas itu dan membaca isinya. Tak sampai lima detik, dia merobek kertas itu dan meremasnya lebih kecil, lalu membuangnya kembali ke tong sampah.
“Dia cukup bodoh untuk memakai tulisan tangan.”
“Jangan coba-coba mencarinya, Ben.”
Ben mendesah pelan sambil duduk di tepi ranjangku. “Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Tapi, kau harus beri tahu aku soal ini, Cass.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Iltas 3: A Dance of Fire and Sorcery
FantasyApi dan sihir. Penunggang naga dan penyihir. Persahabatan dan pengkhianatan. | • | Hampir dua tahun berlalu, Cassidy dan Beast masih menjalankan tugas mereka sebagai duta Andarmensia bagi Dracaelum. Namun, keanehan terjadi. Naga Agung ingin menghent...
