Bab 28

101 21 15
                                        

BEN

Rufus memang menepati janji dengan membiarkan para naga Andarmensia kembali ke tempat asalnya. Sejak kembali dari Dracaelum, Ben tidak lagi pergi ke pos jaganya. Alih-alih, dia dan Kaia justru segera pergi ke Belt Centras untuk mengabari Santiago dan Immy mengenai hal buruk yang terjadi.

Kendati Ben dan Immy punya serangkaian ide gila untuk membawa Cassie dan Beast pergi dari Dracaelum, rencana itu sudah sia-sia. Ketika mereka nekat membuat portal ke Dracaelum, tidak ada yang terjadi. Santiago menyimpulkan bahwa akses ke sana memang sedang dibatasi Rufus.

"Kalau kita belum menemukan cara memasuki Dracaelum, kurasa kita masih bisa melihat keadaan di sana," usul Santiago.

"Hanya melihat?" Ben mengulang tanpa bisa menahan diri. Ketidakpuasan menyeruak sejadi-jadinya. "Pasti ada sesuatu yang bisa kau lakukan."

Santiago mengangguk sabar. "Aku juga ingin berpikir demikian, tapi kita bahkan tidak punya akses ke Dracaelum untuk sekadar teleportasi sederhana. Aku akan sangat bersyukur kalau mantra pengawas ini berhasil."

Ben mendenguskan sinis. "Jadi kita cuma duduk dan mengawasi Cassidy sementara Rufus... entahlah, menyiksanya, mungkin?"

"Ben, lebih baik kau ambil barang Cassie," Immy menyuruh tak sabaran sambil masih membuka lembaran buku mantra. "Aku dan Santiago akan mencari cara lain."

Ingin rasanya Ben membantah dan mencoba merapalkan mantra untuk pindah ke Dracaelum. Namun di tengah kekalutan pun dirinya sadar pilihan tersebut konyol dan tidak memungkinkan untuk saat ini sehingga dia memilih berteleportasi kembali ke rumah, tepatnya ke kamar Cassidy.

Ruangan tertutup itu berhawa cukup hangat, tetapi keberadaan jendela cukup untuk mengusir kepengapan. Aroma yang familiar tercium dari mana-mana, membuat Ben kian tak sanggup berlama-lama di sini.

Untuk mantra seperti ini, akan lebih baik kalau menggunakan sesuatu yang berasal langsung dari tubuh orang yang dicari. Rambut adalah yang termudah. Ben menemukan banyak helaian rambut hitam di bantal serta dari beberapa ikat rambut yang tergeletak di nakas. Pada sisir dan lantai di dekat cermin pun banyak dia temukan.

Untuk sekarang seharusnya ini cukup, maka dia kembali ke kediaman Santiago. Sementara pria itu menyiapkan mantra dan kuali, Immy tidak terlihat di dapur tetapi suaranya terdengar dari luar, sedang bicara dengan beberapa orang.

"Apa ini cukup?" Ben menunjukkan helaian rambut yang dibawa.

Santiago mengangguk cepat sembari mengambil beberapa helai rambut dan memasukkannya ke dalam kuali yang bagian dalamnya sudah diberi api. Terdengar desisan singkat tatkala rambut itu dimasukkan, menunjukkan bahwa sihir mulai bekerja.

Tibalah saat yang paling Ben benci: menunggu.

"Apa ini butuh waktu lama?" tanya Ben tanpa memalingkan wajah dari kuali. "Terakhir kali para naga Dracaelum berusaha mencari kami di Bumi, mereka butuh waktu berjam-jam."

"Aku tidak bisa memastikan itu," ujar Santiago. "Mantra ini kurang lebih sama dengan mantra pencari. Akan tetapi, selain butuh lebih banyak rambut atau benda milik Cassie, kita juga butuh energi untuk mempertahankan penglihatan yang telah dipancarkan."

"Berapa lama kita bisa mempertahankan penglihatan tersebut?"

"Barangkali dua menit untuk satu sesi. Itu pun akan membutuhkan tiga sampai empat helai rambut."

Mendengarnya membuat perut Ben merasa lebih mual. Bergantung pada sihir ini semata tidak akan efisien. Bagaimana bisa dia tenang sementara dirinya tidak bisa sekadar mengawasi Cassidy dalam kondisi seperti ini? Terlewat sedikit saja dan barangkali pada waktu berikutnya, gadis itu sudah ...

Iltas 3: A Dance of Fire and SorceryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang