Aku dan Ben menghabiskan waktu di pesta dengan takaran yang pantas; tidak terlalu lama ataupun terlalu sebentar. Meninggalkan para naga lama-lama selagi bersenang-senang rupanya membuat kami berdua tidak tenang.
Sepulang dari pesta, Ben dan Kaia memilih beristirahat. Jadwal latihan mereka selama seminggu ini terlalu menguras tenaga, terlebih setelah sekian lama tidak menghadapi jadwal latihan fisik yang padat. Kaia mencari tempat istirahat di area pantai yang sepi, sementara Ben berehat di kamarnya. Aku dan Beast pergi ke pesisir untuk menikmati malam. Sayangnya ketidakhadiran Lily dalam kondisi seperti ini membuat Beast lebih lesu dari biasanya, apalagi kami terakhir melihatnya seminggu lalu.
"Rasanya aku ingin pergi ke Dracaelum," Beast bergumam. "Portalnya masih ada, bukan?"
"Aku yakin Naga Agung masih mempertahankan portalnya."
"Bagaimana kalau dia menutupnya?" Beast menoleh ke arahku. "Bagaimana kalau kita tidak bisa melihat Lily lagi?"
"Beast, kau berpikir terlalu jauh," tegurku.
Sorot matanya bertambah muram. "Kurasa aku ketularan kebiasaanmu."
"Kalaupun hal semacam itu terjadi, kita masih punya berbagai cara untuk mengunjungi Dracaelum." Aku mengusap punggungnya. "Lily akan baik-baik saja, Beast."
Nagaku mengeluarkan suara geraman pelan, masih saja terdengar cemas. "Untuk apa pula dia kembali ke Dracaelum?"
"Memangnya dia tidak memberi tahu alasannya?"
"Sebenarnya ada," Beast mengakui. "Dia ingin mencari tahu informasi lebih lanjut. Tapi dia malah tidak kembali."
Kemungkinan masalah penyusup yang dihadapi Dracaelum masih belum tuntas, karena Naga Agung akan langsung mengirim anggota Fittwen untuk memberi kabar bila persoalan telah diatasi. Aku masih tidak paham penyusup macam apa yang dimaksud. Apakah itu sekadar gosip para naga? Kesalahpahaman? Aksi iseng semata?
Kalau benar-benar ada orang dengan tingkat keisengan seburuk ini, aku akan menendangnya tepat di wajah bila kami sampai berjumpa.
"Cassie, bisakah kau duduk di dekatku?" tanya Beast. "Sulit melihatmu kalau kau duduk di punggungku."
Tanpa diminta dua kali, aku turun dari punggung Beast dan berpindah posisi ke dekat kakinya. Ukuran nagaku yang sudah besar membuat kakinya tak jauh berbeda dari sebuah batu yang cukup diduduki manusia.
"Merasa lebih baik?" tanyaku.
Beast mengangguk. "Ya, terima kasih. Aku sudah cukup pusing dengan naga raksasa tua bangka itu, dan pasanganku nekat pulang walau sudah kuminta tetap di sini." Gerutuannya terhenti. Beast menegakkan kepala sambil mengendus, lalu menoleh ke belakang. "Oh, bagus. Sekarang si penyihir datang kemari."
"Halo, Beast. Namamu Beast, bukan?" tanya sebuah suara, agak ragu-ragu. "Apa Cassidy bersamamu?"
Aku turun dari kaki Beast dan memeriksa ke sumber suara. "Rufus?"
Melihatku, Rufus mengembuskan napas lega. "Hai, Cass. Apa kalian sedang sibuk?"
"Tidak, cuma bersantai," balasku. "Kupikir kau sudah kembali ke Bumi. Apa saja yang kau lakukan seminggu belakangan ini?"
"Tidak banyak." Rufus berhenti di sebelahku. "Cuma belajar mengenai Andarmensia, mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini."
Pemuda itu memutar tubuhnya ke arahku. "Kalau sekarang kau sedang sempat, kuharap kita bisa sedikit mengobrol. Ada banyak yang ingin kubicarakan. Itu pun kalau kau dan nagamu tidak keberatan."
"Aku sangat keberatan," Beast bergumam kesal.
"Beast," panggilku. Dia menundukkan kepala dan aku berkata pelan ke dekat telinganya. "Biar bagaimanapun Rufus teman lamaku. Kuharap kau bisa mengerti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Iltas 3: A Dance of Fire and Sorcery
FantasyApi dan sihir. Penunggang naga dan penyihir. Persahabatan dan pengkhianatan. | • | Hampir dua tahun berlalu, Cassidy dan Beast masih menjalankan tugas mereka sebagai duta Andarmensia bagi Dracaelum. Namun, keanehan terjadi. Naga Agung ingin menghent...
