Bab 53

102 20 13
                                        

Malam tidak pernah tiba secepat ini.

Kadang-kadang aku berusaha membohongi diri dengan meyakini kemenangan kami, tetapi semakin kupikirkan, semakin bercabang pula pikiranku. Kucoba menyibukkan diri dengan melatih beberapa penunggang dan penyihir, sayangnya kecemasan itu tetap tidak kunjung lepas.

Setelah mengadakan pertemuan dengan ketua dewan dan pimpinan divisi keamanan, kami setuju untuk menyebar sebagian besar pasukan di sebelah timur. Walaupun aku dan Beast sudah memasang perlindungan agar Rufus tidak dapat sembarangan masuk ataupun mengintai ke dalam Andarmensia, tetap saja ada kemungkinan pelindungan tersebut berhasil ditembus. Pasukan pun telah diimbau untuk tidak terlihat berkerumun di titik yang hendak disasar Rufus.

Sesekali aku masih memeriksa keadaan Rufus. Sejauh ini tidak ada perubahan rencana, tetapi aku belum tahu lewat mana dia akan membobol masuk kemari. Yang jelas di setiap titik telah disebar penyihir yang akan segera datang ke Belt Centras untuk mengabariku bila pemuda itu muncul.

Aku tidak yakin kapan pernah bertarung satu lawan satu melawan seseorang dan menang. Tentunya dalam hal ini, pertarungan yang kulakukan saat latihan di Matumaini tidak termasuk. Aku teringat dulu sewaktu bertarung melawan Asmodeus; bagaimana kami semua nyaris mati bila tidak ada Immy. Kemudian ketika melawan Naga Agung pun, pertarungannya bisa dibilang singkat dan kami tidak pernah benar-benar menghadapinya. Ditambah, melihat roh naga di sekitarnya sudah cukup membuat Naga Agung berhenti.

Tapi ini Rufus. Dia berbeda sekaligus sama dengan lawan-lawan sebelumnya. Dia memiliki dendam kesumat sedalam Asmodeus dan kekuatan sebesar Naga Agung. Perpaduan yang tidak terlalu menyenangkan, kalau aku boleh jujur.

Sentuhan di bahu membuatku tersadar dari lamunan. Begitu menoleh, Ben sudah duduk di sampingku.

"Kau sudah makan?" tanya Ben.

Aku mengangguk. "Beast memaksaku makan. Kalau tidak dia akan menyihir makanan untuk masuk ke perutku," jawabku. "Omong-omong, bagaimana latihan dan pengarahan timmu sejauh ini?" aku bertanya pada Ben.

"Tidak banyak hal yang bisa kuajarkan kepada para penunggang itu. Tetapi mereka perlu mengingat-ingat lagi teknik bertarung yang sudah dipelajari di Matumaini," jelas Ben. "Sementara mengenai kerja sama dengan para penyihir, ya, itu bukan hal mudah. Kulihat mereka masih sungkan antara satu sama lain. Hanya saja keadaan yang mendesak membuat semua orang mau tak mau bekerja sama."

Aku mengangguk kecil, merasa cukup lega mendengar hal tersebut. Tim di bawah naunganku pun kurang lebih sama. Tetapi aku baru menyadari kalau penunggang naga di luar pegawai pemerintahan tidak terlalu sinis padaku. Justru untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku menemukan penunggang naga yang bisa diajak bicara dengan normal. Oleh karena itu, tidak terlalu sulit mengarahkan mereka.

Sementara untuk para penyihir, jumlah mereka tidak sebanyak penunggang sehingga perlu dibagi secara saksama. Kami juga telah mendiskusikan formasi yang tepat agar penyihir yang terlibat bisa melindungi para penunggang dengan lebih baik. Mereka tidak banyak memprotes, tetapi justru kebungkaman mereka yang membuat suasana canggung. Belum lagi cara mereka mengamatiku di waktu-waktu tertentu tak jauh berbeda dari peneliti yang penasaran pada spesies langka.

"Oh, bagaimana tanggapan para penunggang di timmu terkait Perjanjian Darah? Apakah ada yang memprotes?" aku kembali bertanya.

"Beberapa memang mengeluh, tapi setelah mendengar rencana dewan ke depannya, mereka tidak banyak bicara lagi," ujar Ben. "Biar bagaimanapun aku setuju dengan jalur Perjanjian Darah. Sayang sekali aku tidak dipilih untuk mewakili kaum mana pun."

"Kau tahu perjanjian itu bisa menular padamu suatu saat nanti," kataku. "Dan sudah pasti anak kita akan terkena dampaknya."

Ben menoleh cepat. Tubuhnya dicondongkan sedikit ke arahku. "Anak siapa?"

Iltas 3: A Dance of Fire and SorceryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang