Bab 25

101 21 10
                                        

Seharusnya aku sudah bisa menduga kalau Beast akan tetap ikut ke pertemuan dewan.

Semula aku cukup yakin dia akan memilih di rumah daripada menunjukkan wujud manusia yang, kalau kukutip darinya, terlihat "lemah, menyedihkan, dan mudah hancur". Kurasa Beast sadar masalah apa yang akan kami hadapi sehingga dia memilih menemaniku, yang mana membuatku merasa lebih tenang sekaligus cemas. Kalau Beast bisa berhadapan langsung dengan para anggota dewan di ruang rapat, semoga saja dia tidak kehilangan kendali dan menerjang mereka.

Butuh waktu beberapa menit hingga Beast siap. Tak hanya menyiapkan mental, dia pun harus berhadapan dengan pakaian manusia yang, lagi-lagi kukutip darinya, "merepotkan dan tidak nyaman". Untunglah pakaian ayah Ben pas untuk nagaku.

Semenjak bangun dari tidurnya yang singkat, suasana hati Beast agak tidak menentu. Aku bisa memaklumi kelelahan dan rasa frustrasi yang Beast alami tatkala membuka mata, hanya untuk mendapati bahwa segala sesuatu sungguh nyata. Gara-gara itulah sepanjang menuruni undakan tangga, kudengar dia menggumamkan sesuatu soal memberi Rufus pelajaran, disertai makian setiap kali langkahnya agak oleng atau ketika pijakannya kurang pas.

"Beast, kalau kau seperti ini terus, bisa-bisa kau tambah tua dalam sehari," aku mencoba bergurau, tetapi Beast menoleh ke arahku dengan mata terbelalak.

"Manusia bisa bertambah tua dalam sehari?!"

"Tidak, tidak!" Melihat keterkejutan yang terlalu nyata itu membuatku enggan mengganggunya lebih lanjut. "Itu cuma candaan."

Tatapannya terlihat datar, dengan mata yang tidak terbuka penuh akibat lelah. "Apa aku terlihat sedang ingin bercanda, Cass?"

Aku mengerutkan bibir. "Kupikir kau butuh sedikit hiburan."

"Aku butuh tubuhku kembali," ralatnya. Dia mendengus keras dan kembali menuruni tangga. "Kenapa tubuh ini cepat sekali lelah? Aku baru saja bangun tidur."

"Kau bisa istirahat lagi kalau mau."

"Dan membiarkanmu diserang orang-orang yang banyak omong itu? Tidak."

"Ben menemaniku, Beast. Kau tidak perlu me—-"

"Jangan memperlakukanku seperti manusia, Cass!" Beast menghardik keras.

Aku yakin balasanku sudah menanti untuk dikeluarkan, tetapi kupilih untuk menahan diri. Sesampai di lantai bawah pun, kami terus diam. Semua orang menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing karena aku sudah meminta tolong mereka agar tidak memperhatikan nagaku.

Setibanya di dekat pintu keluar, Beast terhenti. Keraguan mulai menguasai benaknya, membuat Beast seolah hendak melangkah menuju bahaya. Melihat ekspresinya yang tidak menentu itu, hampir saja aku bicara lagi. Namun, belajar dari kejadian sebelumnya, kupilih untuk tetap diam dan berjalan duluan daripada dikira memperlakukannya secara berlebihan.

"Tunggu."

Aku berhenti dan menoleh ke arah Beast. Tatapannya tertuju ke arahku dengan penuh kegelisahan. Dia mengulurkan tangan ke arahku, secara tidak langsung memintaku menggenggamnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya meraih tangan Beast. Bersama-sama, kami melangkah keluar. Kaia sudah menanti di depan rumah, membuat Beast bertambah tegang. Akan tetapi, nagaku tidak mundur sedikit pun dan terus menuruni tangga teras.

Setibanya di dekat Kaia, naga ur itu menurunkan kepala dengan hati-hati dan mengendus. "Ini benar Beast," Kaia berbisik, disertai ringisan. "Sejenak kupikir aku berkhayal."

"Kuharap juga demikian," gumamku.

Sambil menunggu Ben, kami bertiga menunggu dalam diam. Kaia terus mengamati Beast tanpa suara, tetapi nagaku menyadari semua tatapan prihatin itu dan mulai tidak sabaran.

Iltas 3: A Dance of Fire and SorceryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang