Bab 38

96 20 5
                                        

IMMY

Santiago menolak bercerita dan hal itu sudah cukup membuat Immy frustrasi. Yang dia dan Ben ketahui hanyalah fakta bahwa Cassie dan Beast baik-baik saja. Informasi itu pun tidak terlalu menenangkan karena tetap saja keduanya sedang bersama orang asing; orang yang tidak Immy kenali tetapi entah kenapa dipercayai Santiago.

Santiago telah melaporkan apa yang terjadi pada pihak dewan, tentunya tanpa menambahkan cerita soal permata sihir. Sudah pasti Madam Jackson dan Mr. Lormant murka, tapi Santiago menolak menceritakan detailnya.

Pihak dewan juga percaya kalau Cassidy telah tiada, yang mana terdengar cukup masuk akal karena Cassie berani melanggar kesepakatan dengan Rufus. Sekarang penunggang naga dan penyihir dari pemerintahan sedang sibuk memperkuat pertahanan, memastikan kabar seheboh ini tidak bocor ke khalayak ramai dan menimbulkan lebih banyak masalah.

Immy sendiri sudah bosan berada di kamar terus. Sesekali dia keluar, tapi nyaris tidak ada yang bisa dilakukan. Mrs. Salvatore melarangnya membantu di dapur. Immy ingin membantu Mr. Salvatore merajut jaring ikan, tetapi baru semenit saja dia sudah menyerah dan kembali ke kamar.

Tiga hari berlalu sejak kunjungan mereka ke pulau itu. Segala sesuatu kembali berjalan normal, tetapi ada beban di hati setiap orang, terlebih yang tahu bahwa sumber masalah terbesar Andarmensia masih berkeliaran di luar sana.

Ketika mendengar suara tapak kaki dari luar kamar, Immy mengamati pintu yang tertutup. Sebuah ketukan pelan menandai kehadiran seseorang.

"Casimir," suara Ben memanggil, "...bisa keluar sebentar?"

"Kenapa?"

Jawaban baru datang beberapa detik setelahnya. "Tolong keluar saja."

Immy mendecakkan lidah sembari beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu.

"Kenapa?" Immy bertanya segera setelah pintu dibuka, tetapi Ben tidak langsung bicara. Wajah pemuda itu menunjukkan keraguan.

Ben berdeham pelan. "Uh... ikut aku."

"Kenapa wajahmu seperti itu?" selidik Immy.

"Seperti apa?"

"Entahlah, seperti menyembunyikan sesuatu."

Ben memalingkan tubuhnya ke arah tangga. Tangannya melambai, meminta Immy untuk ikut. Lelah dengan kebungkamannya, Immy memilih mengekori Ben.

Semakin ke bawah, Immy bisa mendengar suara Mrs. Salvatore, disahut oleh suara baru lainnya. Sang pemilik suara mungkin masih muda. Seorang perempuan.

Langkah kaki Immy terhenti. "Ben," Immy nyaris menggeram, "siapa yang datang?"

"Kalau kuberi tahu, kau tidak akan mau keluar."

Baru saja hendak kembali ke atas, tangan Immy langsung dicekal. "Dia tahu sesuatu soal Rufus," Ben segera menambahkan.

Immy mendecih jengkel. "Santiago bilang para penyihir sudah memasang perlindungan di sekitar Andarmensia."

"Dan menurutmu itu cukup?" Ben menghela napas. "Bukan hal mustahil bila Rufus berhasil menembusnya. Yang jelas sekarang dia telah menjangkau para penyihir Andarmensia. Isadora akan membantu kita kalau kau mau bicara padanya."

"Bicara apa?!" desis Immy. "Tidak ada yang perlu dibicarakan."

Wajah Ben menunjukkan ketidaksetujuan. "Dilihat dari reaksimu, kuduga ada banyak yang harus kalian bicarakan."

Fakta bahwa pemuda ini ada benarnya membuat Immy menggeram jengkel. Jadi begini taktik gadis itu sekarang, memanfaatkan keadaan untuk memaksa Immy bicara.

Iltas 3: A Dance of Fire and SorceryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang