Melewati malam ke-sepuluh tepatnya. Masih dengan kediaman yang beranggotakan 5 orang itu, tengah bercakap di malam tersebut, berkumpul di ruang tengah.
"Strawberry kemarin itu, akan berbuah dengan cepat Seok!" ujar Mingyu.
"Yang kemarin kita tanam?" tanya Seokmin.
"Kita tak menanamnya. Kita merawatnya, hanya sampai berbuah nanti." tegas Mingyu.
"Sama saja kan!" bantah Seokmin, dengan wajah merenggut.
Perdebatan kecil itu terhenti, kala suara bel menyadarkan mereka, seorang tamu tengah berada di depan pintu.
"Biar aku!" ucap Seungcheol bergegas. Ia melangkah ke arah ruang depan dan segera membuka pintu. Namun..
"Seungcheol!"
Seungcheol terpaku di tempatnya. Ia membuang wajahnya. Tak ingin menatap sosok di hadapannya, meski dengan segala hormat, ia panggil sosok itu. "Ada apa ibu kemari?" tanyanya pada dia yang adalah ibunya.
Sang ibu terenyuh karenanya. "Seungcheol sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya sambil mencoba mengusap wajah putra tertuanya, namun ditepis kasar oleh Seungcheol.
"Untuk apa ibu kemari!" desak Seungcheol tak sabar.
Sang ibunda, menarik nafasnya pelan. Ia tahu putranya itu marah. Iapun menyerah pada Seungcheol yang memusuhinya. "Aku mencari adikmu! Dia ada?"
"Mengapa bertanya padaku? Aku tidak tahu!" jawab Seungcheol.
"Bohong! Ibu tahu, hanya kau satu-satunya tempat yang ditujunya selain aku dan ayahmu.."
Senyap.
Seungcheol bungkam, hingga menarik kesabaran sang ibunda yang lalu bertamu tanpa hormat. "Aku tahu ia ada di dalam!"
"Bertamulah dengan sopan, ibu!" teriak Seungcheol namun tak di dengar sang ibunda yang sudah memasuki rumah sambil berkacak pinggang.
Suasana berubah mencekam, kala kaki itu melangkah ke arah ruang tengah, dan mendapati apa yang dicarinya. "Sudah kuduga, kalian bersekongkol dengannya menghasut Seungcheol dan juga menyembunyikan Seokmin!" teriaknya.
"Eonnie.."
"Jangan berpura-pura! Aku tahu, kau akan lebih memihak pada kakakmu! Tega sekali kalian memisahkanku dengan kedua anakku!"
"Itu tidak benar, ibu!" raung Seungcheol menyusul.
Bukan tidak mungkin, prasangka itu hadir. Seungcheol, bahkan kini Seokmin, tinggal dengan adik dari ayah mereka. Semua mengerti bagaimana perasaan sang ibu, menyisakan dua bocah yang terlihat tak mengerti. Namun, ada Seokmin yang mulai merenggut takut.
"Eonnie kami tak begitu. Kau salah faham. Biar kita bahas dengan kepala yang dingin.."
"Tidak! Aku akan bawa Seokmin sekarang!"
Seokmin mulai menggeleng takut, dan juga resah.
"Jangan ibu!"
Satu tarikan kasar, disaksikan oleh 4 pasang mata disana! Mungkin 6 dengan dia yang menarik, dan dia yang tertarik diiringi jeritan keras.
"AKU TIDAK MAU PULANG!"
Ini dia, jeritan seorang Seokmin. Ia menangis keras, dan juga meronta atas tarikan keras sang ibu di tangannya. Mencengkramnya keras, dan menyeretnya. Menyakitinya tentu saja..
Di sudut lain, Seungcheol pun sedang berusaha menahan tangisnya. Dihampirinya jeratan tangan sang ibu pada lengan dongsaengnya. "Ibu jangan! Kasihan Seokmin!" jeritnya.
Mingyu. Iapun melihat, dan tanpa sadar menyembunyikan dirinya di balik tubuh sang ibu. Ia cengkram kuat jemari ibunya, menatap iba pada Seokmin yang tengah meraung di lantai. Sedangkan ayahnya? Berusaha melerai perlahan. "Noona, jangan biarkan amarahmu menyakiti mereka nantinya.."
"Diam! Kau tidak tahu apa-apa!" jerit ibu dari Seokmin dan Seungcheol.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau ibu!" jerit Seokmin semakin keras. Tubuhnya merosot di lantai meski itupun, tak menghentikan tindakan kasar sang ibu, yang malah menyeretnya tanpa ampun.
"Eonnie.." lirih ibu dari Mingyu, yang menyandang posisi sebagai mantan adik ipar dari wanita tersebut. Ia tak tahan menyaksikan anak seusia Seokmin yang menangis sedemikian rupa.
"Jangan macam-macam! Aku lebih berhak atas anakku! Dan kau Seungcheol? Ibu harap kau juga pulang!"
Berakhir dengan Seungcheol yang dengan terpaksa menghentikan tindakannya semenjak sang paman mengambil alih tubuhnya, mencengkramnya sambil berbisik, "Maaf, aku tak bisa melakukan apapun! Dia benar! Dia ibu kalian dan lebih berhak Cheol...."
"Tapi paman!" sela Seungcheol resah, sambil menatap Seokmin yang diseret sang ibu. Bahkan tangis Seokmin, semakin kehilangan suaranya. "Seokmin, Seokmin-ah...."
"Dia harus pulang. Biarkan dia pulang. Masih lebih baik dia tak membawamu pulang juga.."
"Tapi.."
"Kita masih bisa membawa Seokmin kelak.."
...
Dengan amarah yang berhasil ia redam, Seungcheol memberanikan diri untuk menghubungi sang ibu. "Kalian sudah sampai?" tanyanya lebih lembut. Tertuang dari suaranya yang parau.
Ada jawaban dari ujung sana. "Hm. Aku baik-baik saja ibu. Maaf atas sikapku. Iya.." ucapnya terlibat percakapan yang halus. Berbeda dengan beberapa waktu lalu itu.
Hening sejenak.
"Apa Seokmin baik-baik saja? Dia sudah tidur?" ucapnya dengan mata yang kembali berembun. "Jaga dia untukku ibu. Aku menyayangi kalian.."
Seungcheol menutup sambungan itu. Ada sang paman di sampingnya, yang lalu menepuk pundaknya.
"Dengar! Fokusmu sekarang adalah, gapai impianmu. Selesaikan sekolahmu. Jadilah orang yang sukses. Dengan begitu, paman yakin tak akan ada yang melarangmu untuk membawa Seokmin. Melindunginya dengan segenap jiwamu kelak.."
"Kau benar.."
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
AGEUSIA ✔
Teen FictionBROTHERSHIP AREA Akan seperti apa di penghujung cerita nanti? Original Story by ®MinaHhaeElf
