26

6.9K 734 54
                                        

"Seriusan?"

Fanya mengangguk mantap "serius. Ayo ikut aku".

Aku berjalan mengikuti Fanya dan para anak buah Fanya berjalan di belakang kami. Kami memasuki sebuah paviliun dan bibirku sontak tersungging lebar saat melihat Bastian yang terikat di kursi dengan mulutnya yang sudah di lakban hitam.

Kulihat kedua mata Bastian membulat sempurna saat dia melihat ku. Dan dahiku mengernyit saat melihat sebuah alat yang di letakan di dekat kaki Bastian.

Ku lirik Fanya yang berpangku tangan sambil menggerakan kepalanya sedikit kesamping dan anak buah Fanya berdiri di antara Bastian.

Kedua mataku berkedip pelan saat anak buah Fanya menjepit telapak kaki dan punggung kaki kanan Bastian menggunakan alat itu.

Anak buah Fanya memutar alat itu dan membuat Bastian mengerang kesakitan.

"Mmmmmphhhhh".

Bastian menggeleng-gelengkan kepalanya dan terus meronta ketika sekrup yang di putar anak buah Fanya menembus punggung kakinya.

Fanya mengangkat tangan kanannya dan anak buah Fanya berhenti lalu membuka lakban di mulut Bastian dengan kasar.

"CEPAT BUNUUUH AKU",teriak Bastian sambil menahan kesakitan.

Fanya menggerakan jari telunjukku ke depan dan anak buah Fanya kembali melakban mulut Bastian. Fanya menaikan sebelah alisnya saat Bastian terus meronta-ronta ketika anak buah Fanya memutar alat itu kembali hingga sekrup tajam itu menembus sampai telapak kakinya.

Fanya menarikku mundur beberapa langkah ketika anak buah Fanya yang lainnya membawa sebuah alat dengan serangkaian cakar logam dan ujung-ujung cakar itu sangatlah tajam.

Bastian menggeleng kan kepalanya dengan cepat saat tubuhnya di angkat untuk di baringkan di alat itu. Kedua mataku sontak membulat sempurna saat darah menyembur dari tubuh Bastian ketika alat itu bergerak mencakar-cakar tubuh Bastian sampai tubuh Bastian hancur.

Damn.... sangat mengerikan.

Aku menelan ludahku dengan susah payah saat para anak buah Fanya yang belumuran darah Bastian langsung membersihkan daging-daging dari tubuh Bastian yang berserakan di atas lantai.

"Ayo keluar".

Aku menoleh ke arah Fanya dan Fanya berjalan terlebih dulu meninggal kanku. Aku berjalan di belakangnya dan Fanya membawaku menuju paviliun yang ada di dekat danau. Kulihat Max langsung pergi ketika Fanya mengangkat tangan kanannya saat kami memasuki paviliun ini.

Aku kini berdiri di samping Fanya saat Fanya berdiri di dekat danau.

"Aku akan membawa sisanya untukmu. Aku akan menghubungi mu jika aku sudah menangkap Mateo atau Skyler".

"Terimakasih banyak. Aku benar-benar berhutang budi padamu".

Fanya menoleh ke arahku dan mengangkat sebelah alisnya "apa kamu tidak takut padaku?"

"Kenapa aku harus takut?"

"Aku sudah memperlihatkan penyiksaan itu kepadamu dan kenapa kamu masih tidak takut padaku? Aku bisa saja melakukan hal yang sama kepadamu seperti yang aku lakukan pada Bastian".

Bibirku tersungging tipis "silahkan saja kamu melakukan hal yang sama padaku seperti yang kamu lakukan ke Bastian, asalkan kamu sudah membunuh Mateo dan Skyler".

Fanya kembali memandang ke arah air danau "aku ingin hadiahku".

"Hadiah?"

"Ya. Aku ingin hadiah karena aku sudah membunuh Bastian".

RETURN (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang