10. Serangan Like Massal

5.8K 268 14
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••


Sisa uap hangat masih menempel di kulit Akira, meninggalkan aroma manis sabun yang samar menari di udara kamar. Dengan handuk kecil di tangan, ia duduk di tepi ranjang, mengeringkan rambut basahnya sambil menguap lebar.

"Capek banget, sumpah..." gumamnya lesu.

Begitu punggungnya nyaris menyentuh kasur, ponsel di atas meja bergetar. Sekali. Dua kali. Lalu beruntun bak sirine darurat.

Kening Akira berkerut. "Apaan sih, spam amat..." Tangannya meraih ponsel dengan gerakan malas—dan detik berikutnya matanya membulat sempurna.

"Eh... HA?!" Akira refleks duduk tegak. "Nih orang nge-like semua postingan gue? SERIUS?!"

Notifikasi Instagram membanjiri layar. Puluhan, bahkan ratusan. Semuanya berasal dari satu nama yang sama: Daren.

"Tengil banget nih bocah! Mau creepy apa gimana sih?!"

Tanpa pikir panjang, Akira melompat dari kasur, menendang sandal kamarnya, dan bergegas melangkah ke kamar sebelah.

Tok! Tok! Tok!

"Raden! Buka pintu lo cepet!"

Suara langkah malas terdengar dari dalam. Pintu berhiaskan papan nama Sipaling Ganteng itu terbuka. Raden muncul dengan rambut acak-acakan, memakai hoodie hitam dan jeans sobek di lutut.

"Apaan lagi, Ra? Gue belum sempet napas, lo udah mulai drama."

"Lo liat nih!" Akira langsung menyodorkan ponsel ke depan wajahnya. "Temen lo—si Daren yang tengil itu nge-like semua postingan gue. Bahkan waktu gue study tour SMP! Itu foto gue paling burik pake behel ungu loh, UNGU!"

Raden melirik sekilas ke layar ponsel, lalu kembali sibuk memasang jam tangannya. "Mungkin jempol si Darenjing keseleo,"

"Ya masa keseleo sampe ratusan kali, Den?! Dia scroll tiga tahun ke bawah, loh! Itu udah ada niat jahat namanya!"

"Ya udah, cuekin aja lah"

"Gue nggak bisa cuek! Itu tuh vibe-nya sama kayak lo nge-like foto guru BP jam dua pagi sambil ngetik, 'Kangen masa-masa konseling bareng, Bu 😔'."

Raden memutar bola matanya jengah. "Daren tuh cuma tengil, bukan kriminal. Jadi tolong, simpen dramanya buat FTV lo sendiri," ucapnya sambil melangkah keluar kamar.

Akira mendengus, menatap punggung sepupunya yang melenggang pergi. Bukannya diam, ia malah mengekor, langkah kakinya bergema di tangga.

"Lo mau kemana?" tanyanya curiga.

"Keluar. Cari angin."

"Gue ikut!"

Raden tak menoleh, hanya mengibaskan tangan di udara. "Nggak usah!"

Mendengar penolakan itu, Akira mendadak berhenti di tengah tangga, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya menyipit penuh intrik.

"Oh gitu ya? Oke... tapi kalo lo nggak ngajak gue, gue bakal posting foto lo waktu kecil. Yang lo nangis di atas panggung TK gara-gara kostum singa lo robek di bagian pantat."

Raden berhenti di ambang pintu. Ia menoleh, menatapnya dengan ekspresi kosong selama tiga detik penuh.

Sengaja memanasi, Akira mengangkat ponselnya, pura-pura sibuk membuka galeri. "Gue kasih caption gini kali ya..." Ia menirukan gaya influencer dengan nada riang, "'Momen terharu sepupu gue tampil jadi singa pemberani, tapi lupa pake celana dalam~'"

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang