17. Amarah dan Rindu

5.4K 238 4
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••

Kedua tangannya yang sejak tadi terkepal perlahan melemah. Bekas darah di pergelangan masih basah, menetes pelan ke lantai semen di bawahnya.

"Lo kenapa diem aja, Bin?" Suara pelan memecah hening. Itu Radhit - tangan kanan Scorpion, cowok berambut ikal dengan luka memanjang di pipinya. "Kita udah hampir menang, tapi... siapa cewek tadi?"

Bintang tak langsung menjawab. Ia hanya memandang bawah, menarik napas panjang, lalu berjalan pergi tanpa menoleh. "Jaga anak-anak. Besok jangan keluar dulu."

"Bin, tunggu-"

"Gue bilang, jangan keluar." Nada suaranya datar, tapi tajam. Tidak ada ruang untuk bantahan.

Gedung tua itu berdiri di tengah kawasan pelabuhan, dikelilingi kontainer berkarat dan jalanan yang sepi. Dari luar, tampak seperti bangunan gudang terlantar. Tapi di dalamnya, Scorpion menempati setiap sudut: tempat latihan, ruang rapat, bahkan pojokan penuh botol minuman dan bekas darah kering di dinding.

Pintu besi berderit ketika Bintang mendorongnya masuk. Cahaya lampu redup berwarna jingga menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di lantai semen.

Tangannya melempar jaket ke kursi, menyalakan rokok, lalu duduk di bawah jendela pecah. Asap pertama keluar bersama desah napas yang tertahan terlalu lama.

"Qhanaya..." gumamnya pelan. Nama itu menyelinap di udara seperti rahasia lama yang tak seharusnya diucapkan lagi.

"JANGAN LAGI PANGGIL NAMA GUE DENGAN MULUT BUSUK LO, BRENGSEK!"

Bintang menunduk. Tangannya mengepal lagi, begitu kuat sampai buku jarinya memutih. "Dia masih benci gue," bisiknya, pelan, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri-atau menolak percaya bahwa itu benar.

Pintu di belakangnya berderit lagi. Radhit masuk tanpa suara, hanya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi ragu. "Lo yakin nggak mau jelasin siapa cewek itu ke anak-anak? Mereka butuh tahu alasan lo tiba-tiba nyuruh mundur."

Bintang tetap diam. Satu-satunya suara hanyalah gesekan ujung rokok di asbak logam.

"Bin, lo gak pernah kayak gini," lanjut Radhit, mendekat selangkah. ""Biasanya lo yang paling depan kalo udah nyangkut urusan sama Black Wolf."

Tatapan Bintang akhirnya terangkat. Mata kelabunya dingin, tapi di baliknya ada sesuatu-gelap yang bukan amarah, tapi kehilangan. "Justru karena itu gue suruh berhenti," ucapnya datar. "Kalau Scorpion maju lagi, mereka berempat bakal ngelawan sampai mati. Dan kali ini... yang mati bukan cuma lima belas anggota, tapi semua."

Radhit mengerutkan kening, lalu terkekeh pendek. "Lo takut sama cewek itu?"

Pemuda itu tersenyum miring, senyum yang lebih mirip luka daripada tawa. "Takut?" Ia menggeleng pelan. "Enggak. Tapi kalo lo pernah ngerasa dicintai sama seseorang... terus ngeliat dia mandang lo kayak lo itu monster, lo bakal paham kenapa gue gak bisa ngelawan."

Radhit terdiam. Hening kembali menelan ruangan, hanya ada dengung lampu tua dan bunyi napas berat.

Bintang menatap foto pudar di tangannya - wajah Akira tersenyum samar di sana, senyum yang dulu bisa menenangkan segalanya. Tapi sekarang, hanya menjadi pengingat. Betapa dia pernah menghancurkan sesuatu yang tak akan bisa diperbaiki lagi.

"Butuh waktu lama buat gue sadar," suaranya nyaris bergetar. "Dia bukan cuma seseorang yang gue kenal, Dit. Dia satu-satunya orang yang bikin gue berhenti ngerasa kosong."

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang