36. Permainan Gelap Dimulai

3.9K 168 0
                                        

-Happy Reading-




•••••°°🦋°°•••••

Abimanyu mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih. Di sampingnya, Fenzo berdiri tenang. Layar ponsel di tangannya menampilkan sudut pandang CCTV ruang olahraga secara real-time.

​"Lihat, Bim," desis Fenzo. Suaranya datar, namun ada getaran euforia yang tipis di sana. "Dia bisa bersikap seperti malaikat bahkan saat tubuhnya bau busuk."

​"Zo, berhenti," suara Abimanyu bergetar hebat. "Lo lihat sendiri, kan? Dia nolongin siswi itu! Orang yang dituduh bunuh Kenzo nggak mungkin punya empati sebesar itu!"

​Fenzo menoleh. Jemarinya memutar-mutar liontin perak di tangannya. ​​"Atau mungkin... dia cuma lagi latihan. Latihan cara manipulasi orang, supaya nggak ada yang curiga kalau dia itu monster."

Pemuda itu menekan satu ikon di layar ponselnya.

​"Gue mau lihat," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan iblis. "Seberapa lama dia bisa jadi pahlawan saat gas pemadam api gue bocorin pelan-pelan."

​"DRAFENZO! LO UDAH GILA!?" Abimanyu mencoba merebut ponsel itu, tapi Fenzo menghindar dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menarik pelatuk kematian.

"Gue nggak gila, Bim," Fenzo menyeringai. Matanya yang kelam menatap lurus ke arah gedung olahraga yang membisu di kejauhan. "Gue cuma lagi melakukan eksperimen moral."

Kembali ke Ruang Olahraga.

​Akira mendongak ketika mendengar suara desis halus dari pipa-pipa di langit-langit. Aroma kimia yang tajam mulai memenuhi ruangan, membuat paru-parunya terasa panas dalam sekejap.

​Dan saat itulah ia sadar. Ini bukan sekadar bullying anak sekolah. Ini adalah percobaan pembunuhan yang rapi.

Akira bergerak cepat. Ia menarik Vani yang mulai terbatuk hebat. Tanpa ragu, gadis itu melepas seragamnya secepat kilat, menyisakan kaos hitamnya, lalu membalut hidung dan mulut Vani  dengan seragamnya itu.

"Maaf kalau bau bangkai, setidaknya ini lebih baik daripada gas ini," bisik Akira parau. Vani hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

"Dengerin gue," Akira mencengkeram bahu Vani, memaksa gadis itu menatap matanya. "Gue bakal dobrak ventilasi itu. Lo harus lari ke sana. Paham?!"

​"Tapi Kakak—"

​"LO HARUS PAHAM!"

​Akira berlari menuju deretan loker besi. Matanya memindai ruangan yang mulai tertutup kabut putih, hingga ia menemukan sebuah barbel besi di sudut.

Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat beban itu, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah kaca ventilasi tinggi di atas.

​PRANGG!

​Kaca itu berhasil pecah, tapi udara segar belum masuk sepenuhnya. Akira jatuh terduduk, tangannya meraba-raba lantai, mencari testpack milik gadis tadi agar tidak tertinggal sebagai bukti yang bisa menghancurkan.

​"Keluar..." bisik Akira lirih sebelum dunianya menggelap.

Tepat saat kesadarannya mulai hilang, pintu besi yang tadinya terkunci dihantam dari luar. Sosok tinggi berdiri di ambang pintu, tertutup siluet cahaya yang menyilaukan.


••••••••°🍁°••••••••


Dokter keluar dengan raut wajah yang lebih rileks. Ia melepas stetoskop yang melingkar di lehernya, memberikan isyarat tenang pada sekumpulan orang yang menunggu dengan wajah tegang.

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang