Happy reading
••
°
••
°
••
°
°°°°°°🍁°°°°°°
"RADENDRA BIGAEL!!"
Akira menghentakkan langkah berat, menyeret sandal jepitnya di lantai marmer.
Wajahnya merah padam, perpaduan sempurna antara rasa malu karena kehabisan bensin dan rasa kesal karena tidak membawa ponsel. Sialan betul hidup. Untung bawa duit.
Tangannya membanting pintu depan sampai kusennya bergetar. Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru rumah, "DEN! Bangun lo, atau gue sumpahin mimpi ketemu Setan Gundul!"
Sunyi senyap. Keheningan yang hanya pecah oleh deru napasnya sendiri.
Ah, benar. Hari ini Bunda dan Zilka berada di rumah Eyang putri. Daniel, si calon dokter tingkat akhir, sudah pasti sibuk dengan penelitiannya di rumah sakit. Ayah? Baru kembali tahun depan, karena urusan dinas luar negeri.
Tidak ada sahutan. Gadis itu mulai menapaki anak tangga dengan langkah cepat dan kasar. Begitu sampai di depan pintu kamar Raden—
"Keluar lo babi hutan! Isi bensin aja susah banget? Motor gue lo pake, tapi gue yang harus nanggung malu!" teriaknya sambil menggedor pintu tanpa jeda.
Belum ada sahutan juga, Akira langsung memutar gagang pintu. "KURANG AJ—"
Kosong.
"...Anak bangke." desisnya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. AC masih nyala. Tempat tidur acak-acakan. Meja game berantakan. Tapi orangnya? Nihil.
"Bagus. Kabur duluan. Besok, gue pastiin lo jalan pincang."
Akira berbalik, api domestik dalam dirinya kini berubah menjadi dendam yang dingin. Begitu pintu kamarnya sendiri dibuka...
"Astagaa..."
Meja belajar berantakan. Meja rias jauh lebih parah. Kabel, buku, skincare dan charger-semuanya campur aduk seperti zona perang yang baru saja ditinggalkan.
"Kalau Bunda liat... gue bisa tamat," gumamnya sambil memijat pelipis.
Dengan malas, ia memungut buku-buku, botol skincare, kabel, semuanya ditumpuk tanpa peduli bentuknya. Baru saja Akira mengangkat satu tumpukan buku pelajaran—
TUK! KRAK!
Suara benda berat, datang dari luar, jatuh tepat di bawah jendela yang masih terbuka setengah. Akira membeku di tempatnya berdiri, otomatis menoleh kearah sumber suara.
"...Apa lagi ini."
Langkah kakinya mendekat, penuh kehati-hatian. Pandangannya jatuh pada bola kertas kusut di atas karpet beludru abu-abunya.
Siapa yang iseng malam-malam gini?
Dia mengambil bola kertas itu. Beratnya aneh. Ketika di buka, sebutir batu kerikil kecil jatuh dari lipatan kertas ke lantai.
"Batu?" Akira mengerutkan kening. "Nggak lucu."
Dengan rasa penasaran, matanya fokus pada tulisan tangan di kertas lusuh itu.
Lusa. Dateng ke gedung kosong, Jln Antareja. -For : Rhanaya-
Nama itu. Rhanaya. Nama yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di peti memori yang paling gelap, kini dilempar begitu saja ke karpet kamarnya, dibungkus dalam nada ancaman yang keji.
KAMU SEDANG MEMBACA
DRAFENZO SHAQUILLE
Fiksi RemajaTAHAP REVISI🙏💙 Joss sakpolee pokoe 😎😎😎 Mampir kuyyy🙏🙏💙 •><• Sedikit spoiler part nya gayss. Pliss jangan bosen sama ceritanya ya!! :))))) #bijakdalammembaca DONT PLAGIAT!!!! Cerita hasil dari pemikiran saya sendiri!! #Drafenzo #dingin #mis...
