8. Formasi Lengkap

6K 263 8
                                        

-Happy Reading-
.
.
.
.
.
••••••••••°°💙°°••••••••••



Fenzo bersandar santai pada dinding beton. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin segar pagi itu. Tak jauh darinya, Daren, Satria, Deco, dan Abimanyu sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana rooftop sekolah pagi itu tenang, sampai pintu besi di belakang mereka terdorong kasar.

"Gue nyariin kalian sampai ke warung Mangab, anjir! Kirain pada ngopi di sana, taunya malah mojok di sini!"

Seorang pemuda berdiri tegak di ambang pintu. Rambutnya acak-acakan, wajahnya tertekuk dongkol, tapi binar usil di matanya jelas tak bisa disembunyikan.

Fenzo perlahan membuka kelopak mata. Menatap sosok itu dengan tatapan datar. "Radendra Bigael Adnanjaya..."

Raden menyeringai tanpa dosa. Sambil melirik sekilas kalung kobra yang melingkar di leher Fenzo, ia melambaikan tangan sok akrab. "Eh, dengan saya sendiri. Bro Shaqui—"

Tak!

Kalimat itu terputus saat korek gas di tangan Fenzo melayang dan tepat mendarat di jidatnya. "Aduh! Anjir, sakit!"

"Lo tau gue benci panggilan itu," ucap Fenzo dingin.

Bukannya kapok, Raden malah maju dan santai merangkul leher Fenzo dari samping. "Maaf ya, Drafenzo tercinta... refleks tadi," bisiknya sambil terkekeh.

"Mau lepas sendiri, atau gue patahin?" Suara Fenzo terdengar tenang, tapi tatapannya lurus ke depan, jelas bukan ajakan bercanda.

"Ampun, Bos... Kalem, elah. Baru juga back to the game."

"Wah, parah! Nggak ada kapok-kapoknya nih anak, Zo!" Satria sengaja memanasi, memasang raut kaget paling dramatis yang ia punya.

"Diem lo, Sat! Jangan kompor!" potong Raden panik.

Deco mulai berjalan mengitari Raden seperti predator menemukan mainan baru. Langkah sepatunya terdengar mantap di atas beton. "Gokil juga nyali lo, Den. Baru beres cuti panjang langsung speedrun nyari masalah."

"Udah lah, Co," timpal Daren dari pojokan dengan nada provokatif. "Kulitin aja langsung. Lumayan, biar cutinya diperpanjang sampai wisuda."

Raden celingukan cepat, mencari celah kabur. Namun, ketiga temannya justru melempar senyum jahil, mirip kawanan serigala yang siap menerkam mangsa.

"Awas aja lo bertiga," ancam Raden, berusaha menyelamatkan sisa gengsinya. "Oleh-oleh buat kalian gue coret! Dasar parasit!"

"Idih, baperan amat," cibir Deco santai.

Raden menepuk dadanya sok gagah. "Woi! Sambut gue kek main character balik dari medan perang, napa?! Ini malah vibe-nya kayak mau mengeksekusi tahanan!"

"YA ELAAH, DRAMATIS BANGET!" Daren langsung sembur tawa, disusul kekehan Deco dan Satria yang sengaja makin mengompori suasana.

Sampai akhirnya Fenzo berdeham pelan. Cukup satu dehaman, dan sisa tawa mereka langsung mereda.

"Long time no see, bro."  sapa pemuda itu datar tapi sarat makna.

Raden tertegun sebentar. Wajah keras di depannya ini masih sama—dingin di luar, tapi peduli di dalam. Tanpa pikir panjang, Raden langsung maju dan memeluk Fenzo erat. "Lo nggak berubah, Zoo."

"Nggak bakal ada yang berubah." Fenzo membalas pelukan itu, lalu memberi kode kepada yang lain. "Sini lo pada."

Sebuah rangkulan kelompok tercipta tanpa perlu banyak kata. Enam pasang tangan saling bertumpu, mengunci lingkaran kecil yang menandai kembalinya formasi lengkap mereka.

"Kita mulai lagi hari ini," bisik Fenzo tegas. "Untuk seterusnya."

"NAKAL BOLEH, GOBLOK JANGAN!" seru mereka lantang bersamaan.

Deco langsung mengangkat bungkus rokoknya tinggi-tinggi. "Satu batang lagi buat peresmian!"

Raden menyeringai, cepat-cepat mengusap sudut matanya. "Banyak amat stok lo, kek mau buka warung kelontong."

"Ren, mana korek?"

"Nih, tangkep!"

Dalam sekejap, keenam pemuda itu kembali larut dalam obrolan santai di balik kepulan asap tipis. Raden menyandarkan punggung ke pagar pembatas rooftop sambil menatap langit.

"Eh tapi, aman kan kita bolos gini?"

"Kenapa? Tumben nanya," balas Fenzo tanpa menoleh.

"Ya... feeling gue kagak enak aja."

Satria menepuk bahu Raden sambil menyeringai lebar. "Kenapa? Takut Om Sena mantau dari bawah?"

"Tau banget lo..." gumam Raden lemas. Matanya menyisir area bawah halaman sekolah. Begitu menangkap sosok familiar di tengah lapangan, sudut bibirnya langsung tersungging nakal. Nah kan... si monyet kena hukum. Emang hoki gue nggak ada obat, Ra.

"Habis istirahat balik ke kelas, ada tes fisika," celetuk Abimanyu tenang, tanpa ekspresi.

"Anjir, lo remind lagi, Bim! Males banget gue dengernya, bikin ilfil!" Daren mendengus kesal, membuat yang lain bersusah payah menahan tawa.

Abimanyu hanya mengedikkan bahu santai tanpa beban. Nggak ada salahnya, dia cuma mengingatkan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang nyaman sebelum Raden kembali bertanya dengan suara pelan, "Gimana keadaan King Cobra?"

"Aman," jawab Daren singkat.

"Syukur," sahut Raden menyeringai. "Tangan gue udah gatal pengen melayang ke anak Scorpion lagi."

"Beberapa bulan ini mereka emang anteng," tambah Daren.

"Jangan terlena." Suara Abimanyu terdengar pelan tetapi tegas. "Tenang bukan berarti aman."

Suasana sempat hening. Namun Satria, seperti biasa, muncul dengan tingkah konyolnya. "Nah tuh. Kalau Abim udah ngomong gitu, biasanya badai udah di depan gerbang."

"Njir, dia bisa ngeramal sekarang?"

Satria tertawa geli, menarik tangan Deco lalu menempelkannya paksa ke kepala Abimanyu. "Nih, rasain getarannya."

Deco merespons cepat dengan berpura-pura menutup mata serius. "Anjir, iya! Getarannya kuat banget. Udah bisa buat sensor gempa portable."

"GOBLOK!" Raden refleks menyenggol kepala kedua temannya itu. "Otak lo berdua lagi ngedrift apa gimana, sih?!"

Daren nyaris terjungkal karena tertawa terlalu keras. "Parah lo, Den! Kita seganteng ini lo katain!"

"Goblok kan mereka, Bim?" tanya Raden melirik Abimanyu.

Tanpa membuka mata, pemuda berkacamata itu menjawab datar, "Gak perlu penelitian buat nyimpulin itu."

Ledakan tawa pecah lagi di antara mereka. Hanya Fenzo dan Abimanyu yang tersenyum tipis—cukup untuk menandakan, hari itu... mereka resmi kembali lagi  jadi satu.



••••••••••°°🌟°°••••••••••

💙T-B-C💙
.
.
.
.
.
.
VOTE!
.
.
.
SHARE!
.
.
.
NEXT!



DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang